{"id":233,"date":"2025-11-09T14:02:54","date_gmt":"2025-11-09T07:02:54","guid":{"rendered":"https:\/\/suraurakyat.com\/?p=233"},"modified":"2025-11-09T19:48:52","modified_gmt":"2025-11-09T12:48:52","slug":"rumus-ajaib-dari-1825-bagian-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/2025\/11\/09\/rumus-ajaib-dari-1825-bagian-5\/","title":{"rendered":"Rumus Ajaib dari 1825 ~ Bagian 5"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Rentetan kejadian mengerikan yang kita saksikan<\/strong> sepanjang 5-10 tahun terakhir (baca: sejak 2015-an) bukanlah hal baru bagi umat manusia, khususnya bagi penduduk negara ini. Faktanya, pola yang sama, penulis sebut sebagai <em>rumus<\/em>,\u00a0 sudah mengalami pengulangan sejak lebih dari 200 tahun lalu. Khususnya sejak 1815-an, ketika kondisi di banyak wilayah di pulau Jawa semakin tidak stabil. Meskipun berbeda skala dan pelaku, peristiwanya kurang lebih masih sama, dengan kata kunci \u201cKrisis multidimensi\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masa kekacauan itu dimulai masuknya <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Demang Bule ke desa<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">-desa dan muncul praktik <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">kecurangan pajak<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Lalu masalah sosial muncul didorong terjadinya lonjakan jumlah tenaga kuli yang disebut Raffles bekerja serabutan dan tidak memikirkan masa depan sehingga berbuat onar. Kebanyakan dari mereka kemudian disebut beralih menjadi perampok. Jumlah kuli serabutan mencapai puluhan ribu di Kedu saja. Jika\u00a0 ditotal dengan wilayah Bagelen dan Ledhok Gowong (Wonosobo-Kebumen), bisa tiga kali lipatnya.<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">Melimpahnya tenaga dengan risiko kejahatan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> tinggi, ditambah dengan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">paceklik <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">di tahun 1821-1825 yang tentunya terjadi kelangkaan pangan membuat situasi di wilayah kekuasaan Yogyakarta semakin tidak kondusif. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Meletusnya gunung Merapi <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">yang diawali gempa hebat pada Desember 1823 juga turut memporakporandakan kehidupan penduduk di sekitar Ledok, Kedu dan Yogyakarta. Hasil pertanian bisa dipastikan terimbas bencana besar itu. <\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hingga kemudian <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">dimulainya pemberontakan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">-pemberontakan kecil oleh Diponegoro (Juli 1825) yang berlanjut pada peperangan besar yakni Perang Jawa. Ditambah lagi maraknya <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">perang desa dan konflik horizontal<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> antara rakyat dan penguasa lokal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Sekitar 200 tahun yang lalu, gagasan tentang satu negara seperti &#8220;Indonesia&#8221; sama sekali belum ada. Mungkin di masa perang Jawa, gagasan yang paling mendekati dengan revolusi adalah cita-cita berdirinya<em> Keraton kelima, <\/em>jika meminjam istilah Ong Hok Ham dalam pengantar buku Asal-usul Perang Jawa (2004). Sebuah perombakan besar-besaran, radikal, dan sporadis yang hendak diperjuangkan oleh tokoh sentral Diponegoro bersama laskar-laskarnya di banyak daerah. Sebut saja di masa itu, pergerakan politik Diponegoro mendapat restu dari mayoritas &#8220;pemberontak lama&#8221; yang menanti-nanti sosoknya bangkit dan akhirnya tercipta momentum besar itu, meski akhirnya padam setelah lima tahun berperang.<\/p>\n<blockquote><p>Berkaca dari era ke era, jika ditarik rentang waktu 200 tahun itu, maka bisa kita lihat aktor-aktor, metode, misi, dan korban yang belum banyak berganti. Aktor paling pucuk dari setiap &#8220;geger&#8221; tingkat nasional adalah para elit yang syarat dekorasi dalam namanya, seperti keturunan tokoh besar maupun berbekal darah keraton seperti Perang Diponegoro.<\/p><\/blockquote>\n<p>Pemerintah Hindia Belanda mungkin mulai menerapkan metode khusus untuk meredam pemberontakan serupa dan menjinakkan aktor-aktor potensial dengan memberi mereka kekuasaan. Beberapa cara yang membuat semua orang bergidik adalah pembantaian dan perburuan tokoh yang pro-Diponegoro. Sedangakan yang paling mencolok dalam dokumen Hindia Belanda adalah daftar nama tumenggung, jaksa, hingga penghulu setelah 1931 yang banyak diisi mantan pejuang Diponegoro, khususnya di kawasan Kedu-Bagelen. Kecerdasan Belanda dalam memetakan aktor intelektual, juga mengawasi para Haji, ulama, dan tokoh masyarakat bertahan cukup lama hingga menjelang awal abad 20.<\/p>\n<p>Seperti sebuah alur dalam lakon pewayangan atau novel kepahlawanan, jeda 100 tahun biasanya memunculkan aktor baru. Sebut saja aktor di masa 1900-an adalah HOS Cokroaminoto dengan jejaring anak kosnya yang menjadi tokoh-tokoh penting, bersambung dengan Boedi Oetomo dan bangkitnya &#8220;geng&#8221; Syarikat Islam. Jejaring komunikasi dan pertemuan mereka cukup terbantu dengan adanya jalur-jalur kereta api yang muncul di tahun 1900-1920. Metode mereka cukup rapi dan organik, mulai dari perkumpulan putra-putra orang penting (bupati hingga para demang) yang bersekolah ke kota-kota besar, bahkan hingga ke Belanda. Angkatan yang mungkin paling banyak tercatat adalah tokoh di masa Soekarno hingga mereka yang muncul di tahun 1945.<\/p>\n<blockquote><p>Metode yang dipakai untuk menghancurkan mereka (para pejuang revolusi) masih sama, politik pecah belah. Di masa kerajaan, VOC akan condong ke salah satu pihak penerus keraton hingga ia menjadi raja. Lalu memecah belah kekuasaan di daerah bawah. Lalu jika membaca kembali Metode Jakarta, CIA akan mengambil salah satu pihak yang diasuh sebagai anak emas mereka, lalu dilatih dan diluncurkan sebagai pahlawan.<\/p><\/blockquote>\n<p>Masih sama dengan operasi proksi militer dan operasi ekonomi, semuanya tidak berbeda dengan taktik &#8220;Kuda Troya&#8221; di kisah mitologi Yunani. Metode khas yang bisa dipelajari adalah sebentuk &#8220;hadiah&#8221;, bisa berbentuk suntikan dana investasi atau hutang luar negeri, kerjasama bilateral, Program bantuan dari NGO, hingga beasiswa untuk pendidikan tinggi.<\/p>\n<p>Jika berkaca pada pemilu Indonesia tahun 2014, kita akan mendapati istilah yang sangat menarik, nama hewan yang dipinjam untuk memecah belah pendukung Jokowi dan Prabowo. Ya, cebong vs kampret. Polarisasi dua kubu itu ternyata berhasil menjadikan salah satu tokoh menjadi &#8220;pahlawan&#8221; seperti ketika Soeharto muncul di tahun 1966. Ajaibnya, berselang 10 tahun saja, Jokowi dan Prabowo ada di kubu yang sama. Apakah hal itu membuat para pemilih curiga? Tentu saja tidak karena kita malas membaca sejarah dan mudah lupa, bahkan kejadian 10 tahun lalu ketika saling mengejek cebong-kampret sudah dimaafkan begitu saja.<\/p>\n<p>Maka jika ditelaah lagi, dalam semua rumus sejak 200 tahun yang lalu, aktornya mungkin masih tokoh yang sama yang tidak muncul sebagai calon pemimpin, para imperialis modern. Metodenya masih sama dengan memecah belah. Sementara korbannya selalu mereka yang jumlahnya paling banyak. Mereka yang menjadi &#8220;lumbung suara&#8221; dan menjadi pendukung setia tokoh-tokoh penuh dekorasi serta keturunan raja-raja. Mereka yang resah dengan kenaikan harga bahan pokok, pajak, juga masih menunggu belasan juta lapangan pekerjaan.<\/p>\n<p><strong>Mereka adalah Rakyat.<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p>Bahan Bacaan:<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Abdillah, Erwin. Empat Abad Wonosobo, 2025. Cetakan ke-2: Hal. 86.<br \/>\nCarey, Peter. Asal Usul Perang Jawa, Pemberontakan Sepoy &amp; Lukisan Raden Saleh. LKIS. 2004.<br \/>\n<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>_______________________________________<\/p>\n<p><b>*Tulisan ini adalah bagian dari Seri Pergerakan di Indonesia:\u00a0<\/b><b>Mimpi Pembebasan Diri dan Bangsa dari Imperialisme\u00a0<\/b><\/p>\n<p>Pernah\u00a0Disampaikan di Sekolah Politik Pergerakan (SPP) Unsoed Purwokerto, 18 Oktober 2025<\/p>\n<p><b>Seri Tulisan Lima babak yang memulas sejarah Nusantara:<\/b><\/p>\n<ol>\n<li>Mempelajari Pola Lama yang Diulang Sepanjang Dua Abad*<\/li>\n<li><b>Bangkitnya Intelektual &amp; Pergerakan Nasional 1928<\/b><\/li>\n<li>The Jakarta Method: G30-S 1965<\/li>\n<li><b>Pengulangan Metode &amp; Peristiwa kunci Reformasi \u201898<\/b><\/li>\n<li>Rumus Ajaib sejak 1825<\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><em>Tentang Penulis:<\/em><\/p>\n<p><strong>ERWIN Abdillah.<\/strong> Tinggal di Wonosobo dan mengakrabi wilayah lereng Sindoro-Sumbing sejak belia. Pernah berkuliah di UNY. Berprofesi sebagai jurnalis sejak 2014 (Grup Jawa Pos -2021 dan Pikiran Rakyat 2021-2025). Penulis Buku: \u201cEmpat Abad Wonosobo: Narasi Sejarah dari Dokumen Hindia Belanda, Serat dan Babad\u201d 2025. Beberapa catatan\u00a0 ada di: medium.com\/@erwinabcd | erwin.abdillah@gmail.com.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Metode yang dipakai untuk menghancurkan mereka masih sama, politik pecah belah. Di masa kerajaan, VOC akan condong ke salah satu pihak penerus keraton hingga ia menjadi raja. Lalu memecah belah kekuasaan di daerah bawah. Lalu jika membaca kembali Metode Jakarta, CIA akan mengambil salah satu pihak yang diasuh sebagai anak emas mereka, lalu dilatih dan diluncurkan sebagai pahlawan. Masih sama dengan operasi proksi militer dan operasi ekonomi, semuanya tidak berbeda dengan taktik &#8220;Kuda Troya&#8221; di kisah mitologi Yunani. ~ Erwin Abdillah, 2025.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":234,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[11,36,10,12],"tags":[126,52,94,13,125,127,24,124],"class_list":["post-233","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pergerakan","category-politik","category-sejarah","category-seri","tag-cebong","tag-cia","tag-diponegoro","tag-erwin-abdillah","tag-jokowi","tag-kampret","tag-pergerakan","tag-prabowo"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/suraurakyat.com\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Raden_Saleh_Arrest_of_Diponegoro_sketch.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/233","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=233"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/233\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":339,"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/233\/revisions\/339"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/234"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=233"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=233"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=233"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}