{"id":260,"date":"2025-11-13T11:29:30","date_gmt":"2025-11-13T04:29:30","guid":{"rendered":"https:\/\/suraurakyat.com\/?p=260"},"modified":"2025-11-13T11:38:16","modified_gmt":"2025-11-13T04:38:16","slug":"aku-anak-petani-tidak-bisa-bertani","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/2025\/11\/13\/aku-anak-petani-tidak-bisa-bertani\/","title":{"rendered":"Aku, Anak Petani Tidak Bisa Bertani"},"content":{"rendered":"<p><strong><em>\u200ePergi kesawah, pergi kesawah.<\/em><\/strong><br \/>\n<em>\u200e(Kalimat yang sering kudengar dari kedua orang tuaku di pagi hari)<\/em><\/p>\n<p>\u200eAku lahir dari rahim seorang petani, tumbuh di tengah ladang yang hijau, di antara aroma tanah dan suara cangkul yang menembus bumi. Dari kecil, tanganku sering menggenggam bulir padi yang masih hijau, mataku terbiasa menyaksikan embun yang jatuh di ujung daun. Tapi kini, ironinya: aku adalah anak petani yang tidak bisa bertani.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eBapakku pernah berkata, \u201cSawah ini adalah kitab. Bacalah dengan tanganmu, pahami dengan kakimu.\u201d<\/p>\n<p>Namun aku lebih sibuk membaca huruf-huruf di kertas, mengejar gelar, mengejar impian di kota. Sementara sawah, yang seharusnya menjadi warisan, perlahan menjadi asing.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDi desa kami, orang-orang berkata: \u201cKalau bukan anak petani yang meneruskan, siapa lagi?\u201d<\/p>\n<p>Kalimat itu menusuk, karena aku tahu jawabannya tidak sederhana. Tanah yang dahulu subur, kini terdesak oleh beton. Hasil panen yang seharusnya membahagiakan, sering tak sebanding dengan keringat yang jatuh. Petani tetap miskin di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi.<\/p>\n<p>Aku bukan satu-satunya. Banyak anak petani yang menjauh dari tanah. Bukan karena benci, tetapi karena bertani dianggap tidak menjanjikan masa depan. Pendidikan yang diberikan kepada kami justru melahirkan jarak: sekolah mengajarkan cara meninggalkan sawah, bukan cara merawatnya. Akhirnya, lahirlah generasi yang fasih mengutip teori pertumbuhan ekonomi, tetapi gagap ketika diminta menanam jagung atau membajak sawah.<\/p>\n<p>\u200eNamun, apakah itu berarti kami kehilangan identitas? Tidak sepenuhnya. Anak petani yang tidak bisa bertani tetap bisa berbuat sesuatu. Kami mungkin tidak lagi memegang cangkul, Kami mungkin tidak lagi memegang cangkul, tetapi kami bisa memperjuangkan agar tangan-tangan yang menggenggam cangkul dihargai. Kami bisa menghadirkan teknologi, membuka akses pasar, atau bahkan memperjuangkan kebijakan yang berpihak pada petani.<\/p>\n<blockquote><p>\u200eAku percaya, menjadi anak petani bukan sekadar mewarisi sawah, melainkan juga mewarisi kesadaran: bahwa tanah adalah ibu, bahwa pangan adalah kehidupan, bahwa tanpa petani, bangsa ini akan runtuh.<\/p><\/blockquote>\n<p>\u200eMaka, meski aku adalah anak petani yang tidak bisa bertani, aku tidak ingin menjadi anak yang lupa pada tanah. Sebab, di dalam setiap butir nasi yang kita makan, ada doa bapak-ibu petani, ada jerih payah yang tidak boleh dilupakan, ada peradaban yang harus dijaga.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>______________________________<\/p>\n<p>Tentang Penulis:<br \/>\n<strong>Anang Bayu Sulistiyo<\/strong> (abe) adalah pemuda asal Wonosobo yang aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Wonosobo. Ia anak petani tapi ia tak bisa bertani. Ia baru saja memulai karier jurnalistiknya bersama Suara Merdeka, dengan semangat menulis yang berpijak pada realitas sosial dan semangat perubahan. Tulisan-tulisannya dapat dibaca di medium.com\/@anangbayu28, dan aktivitasnya dapat diikuti melalui Instagram @anangbayu28.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bapakku pernah berkata, \u201cSawah ini adalah kitab. Bacalah dengan tanganmu, pahami dengan kakimu.\u201d Namun aku lebih sibuk membaca huruf-huruf di kertas, mengejar gelar, mengejar impian di kota. Sementara sawah, yang seharusnya menjadi warisan, perlahan menjadi asing. ~Anang Bayu Sulistiyo, 2025.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":261,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[37,39,61],"tags":[146,148,88,147,149],"class_list":["post-260","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-agroekolosgi","category-meramban","category-slice-of-life","tag-anang-bayu","tag-bertani","tag-desa","tag-petani","tag-sawah"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/suraurakyat.com\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/petani.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/260","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=260"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/260\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":263,"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/260\/revisions\/263"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/261"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=260"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=260"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=260"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}