{"id":355,"date":"2025-12-14T19:11:23","date_gmt":"2025-12-14T12:11:23","guid":{"rendered":"https:\/\/suraurakyat.com\/?p=355"},"modified":"2025-12-14T19:11:23","modified_gmt":"2025-12-14T12:11:23","slug":"bangsaku-di-mata-bangsa-lain","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/2025\/12\/14\/bangsaku-di-mata-bangsa-lain\/","title":{"rendered":"Bangsaku di Mata Bangsa Lain"},"content":{"rendered":"<p><strong>Orang-orang berbondong-bondong masuk ke sebuah negeri dengan berjalan kaki,<\/strong> dengan ada yang bersepatu dan bertelanjang kaki. Semuanya tanpa perlindungan. Wajah mereka lugu dan pucat, jelas sekali mereka tengah merindukan sesuatu. Sesuatu yang sulit mereka dapatkan dalam situasi negeri macam ini. Dengan birokrasi yang carut-marut.<\/p>\n<p>Aku matikan televisi usang itu. Acaranya selalu tak menarik, cuma perulangan kejadian yang itu-itu saja, seputar kongkalikong penguasa, kecurangan dan kemiskinan dan koar-koar tentang peningkatan ekonomi negara. Yang aku lihat disini, tak ada rakyat penghuni lantai dasar negeri ini yang merasakan dampak peningkatan ekonomi makro.<\/p>\n<p>Aku membuka-buka buku koleksiku yang belum sempat aku baca sejak aku beli beberapa waktu yang lalu. Dan catatan-catatan tangan dan print out pencarianku di dunia maya.<\/p>\n<p>Sesosok tubuh mungil mendekatiku, berjalan sempoyongan sambil terbatuk-batuk. Seekor lebah tergeletak di meja dekat buku bacaanku. Ia menatapku tajam, sebuah tatapan yang membuat siapapun akan merasa bersalah. Ada kunang-kunang di matanya.<\/p>\n<p>\u201cHai.\u201d Kata sebuah suara. Aku celingukan.<\/p>\n<p>\u201cDi sini! Aku yang tengah bicara denganmu.\u201d Lebah itu menghentak-hentakkan kakinya.<\/p>\n<p>\u201cAku memelototinya sambil tak percaya dengan yang aku dengar. Lebah itu membentakku.<\/p>\n<p>\u201cKau?\u201d aku bertanya tak percaya.<\/p>\n<p>\u201cIya, aku!\u201d jawab lebah itu.<\/p>\n<p>\u201cSiapa kau?\u201d<\/p>\n<p>\u201cAku lebah madu, namaku Raden Agya.\u201d Ia menjelaskan, aku tersenyum dalam hati. Ada seekor lebah memperkenalkan diri sebagai raden. Jika ada manusia lain yang medengarnya, barangkali ia sudah dipukul dengan sandal atau gada. Mungkin akan tak terima jika ras selain manusia punya gelar raden, sedang manusia pun\u00a0 tak semuanya punya berhak dengan gelar macam itu.<\/p>\n<p>\u201cKau pikir gelar itu cuma buat mansuia? Di negeriku, aku adalah seorang pangeran. Aku juga kenal pak tua Rey Santana, penasihatmu itu.\u201d Bagaimana ia tahu pikiranku? Darimana ia dapat informasi tentang hubunganku dengan Ki Rangga? Aku menyerah,<\/p>\n<p>\u201cKau kenapa?\u201d<\/p>\n<p>\u201cKeserakahan bangsamu! Aku keracunan pestisida, membuatku mual-mual dan pusing, sampai tak bisa terbang.\u201d<\/p>\n<p>\u201cKenapa tak pakai masker?\u201d<\/p>\n<p>\u201cBodoh! Bukan cuma aromanya saja, madunya sudah teracuni pestisida, lagipula bagaimana caraku menghisap madu jika aku masih pakai masker?\u201d<\/p>\n<p>\u201cHahaha, maaf, aku tak tahu. Tapi aku tak setuju jika menyalahkan bangsaku dengan begitu saja. Ini punya sejarah yang panjang, hampir tiga puluhan tahun. Tentu saja kau belum lahir, aku pikir kau baru lahir beberapa bulan yang lalu.\u201d<\/p>\n<p>\u201cBisa kau ceritakan? Aku lebah yang suka saling tukar pengalaman, biar nanti aku sampaikan pada rakyatku, dan tak semua manusia akan disengatnya. Aku takut setelah kejadian ini para lebah akan mengumumkan perang terhadap manusia. Aku tak mengharapkannya, tapi jika semua sudah diputuskan, aku tak mampu berbuat apa-apa. Tak perlu kita ceritakan tentang ribuan galon madu kami yang dirampas oleh manusia, itu sudah menjadi pengetahuan bersama.\u201d<\/p>\n<p>\u201cBukankah kau seorang pangeran? Tentunya punya kuasa yang lebih.\u201d Kataku mengingatkan.<\/p>\n<p>\u201cNegeriku lebih demokratis daripada negerimu. Hak bicara antara pangeran dan pekerja adalah sama. Gelar hanya symbol belaka, tak bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi.\u201d<\/p>\n<p>\u201cBarangkali para anggota parlemen negeriku juga perlu belajar tentang demokrasi, sepulang belajar etika di Yunani.\u201d<\/p>\n<p>\u201cYa, ya, aku pernah mendengar itu. Apakah kau dan sebangsanya tak merasa terhina dengan keberangkatan mereka. Itu sama saja menghina bangsa sendiri sebagai bangsa yang tak punya etika, sampai harus ke Eropa.\u201d<\/p>\n<p>\u201cMereka yang belajar berarti mereka yang tak bisa beretika. Mereka memang bebal, disini ada istilah <em>desa mawa tata kota mawa cara. <\/em>Artinya? Cari sendiri di kamus peribahasa Jawa.\u201d<\/p>\n<p>\u201cTidak terbalik? Apa bukan <em>desa mawa cara kota mawa tata?<\/em>\u201d<\/p>\n<p>\u201cKau manusia, sekarusnya lebih tahu. Kita kembali ke soal madu, bisakah kau ceritakan muasalnya, seperti yang tadi kau katakana.\u201d<\/p>\n<p>\u201cIni bermula dari tahun 1950 di Meksiko, dimana semua orang panik akan ketakseimbangan antara produksi pangan dengan pertumbuhan manusia. Lantas manusia membuat rekayasa untuk meningkatkan produksi pangan. Dan hasilnya memang memuaskan, Meksiko mampu menjadi eksportir gandum. Sampai-sampai penemu program ini mendapat hadiah nobel.\u201d<\/p>\n<p>\u201cTunggu\u2026 tunggu\u2026.\u201d Tukas Raden Agya, sambil membolakbalik buku yang baru saja ia ambil dari tasnya.<\/p>\n<p>\u201cDari literature yang aku baca, revolusi hijau ini hanya fokus pada tanaman pangan untuk makanan pokok. Dan tadi aku keracunan pestisida dari bunga tembakau.\u201d<\/p>\n<p>\u201cItu yang jarang kita curigai, revolusi hijau bertumpu pada empat hal, irigasi, pupuk kimia, pestisida dan varietas unggul. Apa tidak mungkin jika beberapa tahun kemudian mereka menggunakan itu untuk tanaman yang lain? Seperti yang tadi kau katakan, manusia semakin hari semakin serakah.\u201d<\/p>\n<p>Raden Agya menggut-manggut, menggigit ujung <em>ballpoint<\/em>-nya, entah apa yang digarisbawahi, \u201cMasuk akal juga\u2026\u201d<\/p>\n<p>Huh! Dasar lebah sok tahu, dianggapnya aku lebih bodoh dari dia. Sampai pendapatku saja diterima dengan acuh. Aku tak tahu jalan pikirannya.<\/p>\n<p>Lalu dia memukul-mukul kepalanya, juga dengan ujung ballpointnya, serupa manusia ketika tengah memikirkan sesuatu. Aku diam saja, keki dibuatnya.<\/p>\n<p>Lama ia berpose seperti itu, tanpa suara atau gerak yang lain. Tak sabar juga dengan tingkahnya yang sok kemanusiamanusiaan. Barangkali tersinggung juga, karena manusia saja sudah banyak yang tak manusiawi.<\/p>\n<p>\u201cSedang apa kau?\u201d Tanyaku.<\/p>\n<p>Ia memelototiku, dengan nada tak menyenangkan ia menjawab.<\/p>\n<p>\u201cSedang berhitung, berapa tahun lagi spesies kami bisa bertahan. Hutan alami sudah ditebangi, lahan pertanian semakin sempit dan berlumur racun\u2026\u201d<\/p>\n<p>Ah, kasihan juga, seandainya para binatang diperkenankan mengirimkan delegasi untuk menyatakan keluh kesah kepada penguasa di negeri yang bersangkutan, niscaya taman Safari atau kebun binatang Ragunan tak menarik lagi bagi warga ibukota. Mereka akan lebih suka melihat para binatang di gedung parlemen atau kantor-kantor lembaga pemerintah.<\/p>\n<p>Tapi mustahil juga, sedang dengan sesama manusia saja mereka sudah tak peduli, apalagi dengan binatang yang jelas-jelas tak bisa memberikan keuntungan secara finansial. Apa peduli mereka dengan keseimbangan alam.<\/p>\n<p>\u201cSesungguhnya makhluk yang paling mulia, yang paling lengkap bekalnya buat memakmurkan bumi justru menjadi makhluk yang paling merusak. Bahkan teori tentang <em>yin<\/em> dan <em>yang<\/em>, <em>keblat papat kalimo pancer<\/em> atau siklus biologi juga lahir dari mereka. Lihatlah, lebah tak punya teori apapun yang dikoar-koarkan kepada siapa saja yang ia temui, tapi ia mampu menjaga keseimbangan.\u201d<\/p>\n<p>\u201cItulah kalau dalam diri manusia juga sudah tidak seimbang lagi, tak ada keseimbangan antara teori dan praktik.\u201d Aku ikut menambahi. Malu rasanya kepada bangsa lebah ini. Di depannya aku serasa diadili, kemanusiaanku ditelanjangi tanpa ada pembelaan bahwa aku bukan bagian dari mereka, para teorikus itu.<\/p>\n<p>\u201cHae, jangan melipat muka seperti itu, aku tak pernah menuduhmu, kami tahu jika para perusak itu berasal dari pemilik modal dan ide. Kau bukan bagian dari keduanya, tenanglah\u2026.\u201d<\/p>\n<p>Hah! Kalimat penghibur yang menyakitkan. Seperti memberi madu beracun. Ah, madu dan racun lagi. Jadi teringat kekonyolan yang ia perbuat sebelum ia menemukanku. Aku anggap saja kejadianku kali ini bukan sebagai pengadilan atas kesalahan makhluk sebangsaku. Ini sebagai hiburan atas kesialan pertemuanku dengan lebah itu.<\/p>\n<p>\u201cMenurutmu, kapan umat manusia akan dilenyapkan oleh tuhan?\u201d<\/p>\n<p>\u201cEntahlah, aku bukan peramal yang serba tahu.\u201d<\/p>\n<p>\u201cAku tak menyuruhmu menjadi peramal, aku hanya ingin kau melihat gejala tingkah laku manusia saja.\u201d<\/p>\n<p>\u201cKau sudah tahu bukan? Kenapa tidak kau jawab sendiri? Kau mau mempermainkanku?\u201d jawabku marah, sambil menyalakan korek api hendak membakar sayapnya, biar sekalian ia menjadi lebah yang lumpuh.<\/p>\n<p>Ia terbang terbirit-birit, sambil memandangi sayapnya. Berputar-putar mengelilingi kepalaku. Lantas tertawa terbahak-bahak.<\/p>\n<p>\u201cUntung kau marah, aku jadi tahu jika tenagaku sudah pulih.\u201d Katanya. Aku menyesali kemarahanku.<\/p>\n<p>\u201cAku lupa jika kau manusia, tentu saja kau punya sifat dasar manusia.\u201d<\/p>\n<p>\u201cApa?\u201d<\/p>\n<p>\u201cKolot dan keras kepala. Tidak mau terbuka dengan banyak hal.\u201d<\/p>\n<p>\u201cKenapa? Sifat dasarku yang lain, tidak suka dipermainkan!\u201d<\/p>\n<p>\u201cAku tidak mempermainkan, aku hanya menanyakan pendapatmu soal kapan manusia akan dilenyapkan oleh tuhan.\u201d<\/p>\n<p>Ia lalu hinggap di pundakku, membisiki sesuatu di telingaku, seperti tak ingin ada makhluk lain mendengarnya, \u201cManusia akan dilenyapkan ketika sudah tidak punya peri kemanusiaan\u2026.\u201d<\/p>\n<p>Aku terkesiap, betapa dekatnya kehancuran spesiesku jika yang Agya katakan adalah kebenaran? Mungkin dua puluh tahun lagi. Sebuah waktu yang singkat untuk menuju sebuah kehancuran.<\/p>\n<p>\u201cTenanglah, aku juga pernah bertemu dengan orang-orang di Kotabarat dan Gringsing. Datanglah kesana pada suatu waktu, sepertinya kau cocok belajar bersama mereka. Kehancuran manusia akan lebih dari empat puluh tahun mendatang.\u201d<\/p>\n<p>Belum sempat aku berujar apapun, ia langsung menyambung, \u201cTerima kasih, aku hendak kembali bekerja. Senang bertemu denganmu. Manusia.\u201d<\/p>\n<p>Nada pada kalimat terakhirnya seperti mengejek, biarlah, mungkin ini penilaian bangsa lebah kepada manusia. Tentunya akan lebih banyak lagi bangsa binatang dari jenis berbeda yang punya penilaian sama terhadap manusia.<\/p>\n<p>Uh, gara-gara ke-soktahuan-ku tentang revolusi hijau ini, aku jadi berandai-andai. Mungkin tuhan sedang mempersiapkan pengganti manusia untuk memakmurkan bumi.<\/p>\n<p><strong><em>Pojok <\/em><em>Kaliireng, 16.07.11.<\/em><\/strong><\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>__________________________<\/p>\n<p>Tentang Penulis<\/p>\n<p><strong>Wasito Utomo<\/strong>, lebih akrab disapa Itok, penjual kopi yang suka menulis dan membaca sekedar untuk terapi biar tidak pikun, bisa ditemui di Kedai Kopi Bahagia (Kalibeber).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cItu yang jarang kita curigai, revolusi hijau bertumpu pada empat hal, irigasi, pupuk kimia, pestisida dan varietas unggul. Apa tidak mungkin jika beberapa tahun kemudian mereka menggunakan itu untuk tanaman yang lain? Seperti yang tadi kau katakan, manusia semakin hari semakin serakah.\u201d ~ Wasito Utomo (2011)<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":356,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[7,6],"tags":[171,201,172],"class_list":["post-355","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerpen","category-sastra","tag-cerpen","tag-lebah","tag-wasito-utomo"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/suraurakyat.com\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/lebah.jpeg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/355","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=355"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/355\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":357,"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/355\/revisions\/357"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/356"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=355"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=355"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/suraurakyat.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=355"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}