Apa yang sebelumnya terasa intim dan terbatas, kini perlahan berubah menjadi lebih terbuka, lebih mudah diakses, dan pada akhirnya, lebih ramai. Istilah-istilah seperti curated trip, immersive experience, atau bahkan healing journey semakin sering digunakan seolah-olah mampu membingkai pengalaman ini sebagai sesuatu yang tetap eksklusif. Dari pergeseran tersebut, satu pertanyaan terus muncul dan berulang dalam benak saya: Are we preserving the experience, or consuming it together? ~ Mayaologi, 2026.
-
-
Sebelum 2025, volume sampah yang masuk ke TPA Wonorejo cenderung meningkat dari tahun ke tahun, meski bersifat fluktuatif. Kenaikan rata-rata mencapai sekitar 0,25 juta ton per tahun hingga memunculkan julukan “Wonosobo Darurat Sampah.” ~ Farah Fauziyah Hasna, 2026.
-
Dalam ekonomi politik, nilai (value) tidak pernah bebas nilai (value-free). Ketika teknokrasi ekonomi menemui jalan buntu dalam mendistribusikan keadilan, agama hadir menawarkan basis moral untuk merombak struktur. Konsep Adil dan Maslahah adalah tuntutan agar negara tidak bertindak sekadar sebagai "penjaga malam" bagi pasar bebas, tetapi sebagai intervensionis yang berpihak pada mustadh'afin. ~ Ahmadnsh, 2026.
-
Saya merasakan keresahan atas diri banyak penulis di Wonosobo yang gemar melakukan kutipan dari perspektif agama tetapi terkadang tidak tuntas dalam membahas sesuatu hal secara historis, analitik dan komprehensif. Mengutip pernyataan Nurcholis Madjid di majalah Prisma (1982) yang resah karena kebanyakan pemikir Islam lebih gemar menjadikan Islam sebagai suatu perspektif semata tetapi dalam memahami persoalan terkadang tidak ketat dan tidak selesai. Perspektif agama bukanlah andalan, tetapi justru sistem agama dalam menghadapi berbagai masalah harus mampu mengatasi secara konkret. Mengikuti alur berpikir Karl Polanyi, agama dalam bentuk institusi sosial harus mampu menjawab tantangan dan masalah bukan sekadar seperti korektor ujian yang…
-
Kesejahteraan petani bukan hanya isu sektoral, melainkan indikator moral bagi arah pembangunan itu sendiri. Ketika petani penjaga pangan dan alam hidup dalam kemiskinan, maka yang sesungguhnya gagal bukan mereka, melainkan sistem yang mengklaim diri sebagai pembangunan. Pembangunan yang tercerabut dari keadilan sosial hanyalah kemajuan semu. Kemiskinan petani bukanlah takdir alamiah, melainkan hasil dari pilihan ideologis dan struktural, pilihan untuk memihak pasar daripada keadilan, akumulasi daripada desentralisasi, dan stabilitas semu daripada kesejahteraan riil. ~ Ahmadnsh, 2025.
-
Warga yang hidup di masa itu, menyebut Tjin Hwat adalah seorang tabib atau penyembuh dermawan yang berjualan Mie Ongklok untuk memenuhi kebutuhannya. Mengingat Tjin Hwat tidak pernah memungut ongkos pada orang yang datang berobat padanya. Di era itu, belum ada gerobak dorong sehingga banyak makanan panas harus dijajakan dengan Pikulan (Hik). Pikulan itu memuat alat masak berupa tungku atau anglo dengan arang, air, dan semua bahan makanan lain yang dibutuhkan. ~Erwin Abdillah, 2025.
-
Bapakku pernah berkata, “Sawah ini adalah kitab. Bacalah dengan tanganmu, pahami dengan kakimu.” Namun aku lebih sibuk membaca huruf-huruf di kertas, mengejar gelar, mengejar impian di kota. Sementara sawah, yang seharusnya menjadi warisan, perlahan menjadi asing. ~Anang Bayu Sulistiyo, 2025.