Dharma melangkah pincang di alun jagat, timbangan condong pada gema kuasa, yang kecil berbaris menunggu takdir, sementara janji berlalu tanpa rupa. Meja musyawarah sarat sabda berkilau, namun ksiti tetap berdebu, aturan dibacakan seperti mantra, tak selalu menjelma raksa. ~ Rehani Putri, 2025
-
-
Bukit masih mengisyaratkan hujan / Ketika langit semakin tua / Mengandung uap musim jagat yang renta / Sedang aku memanggil dari tahun-tahun yang aman / Dari tanah yang memelihara para tualang. ~ Yona Al'ainaa, Ziarah Tembuni, 2025
-
Jika suatu saat kita berjalan berdampingan, biarkan semuanya terjadi dengan wajar, seperti bunga liar yang tumbuh bukan karena disuruh, melainkan karena semesta mengizinkannya. Untuk sekarang, aku memilih bahagia. Memilih merasa ringan. Memilih percaya ~Barrā, 2025.
-
cinta, bagiku, bukan sekadar saling menatap tetapi keberanian menantang sunyi menyusuri lorong-lorong takdir dengan langkah yang tak pernah minta izin pada siapa pun. ~Barrā, Aku Menghendaki Untuk Ada (2025)
-
"Tidak terlalu berarti mencari musabab penjelmaan segolek mayatku menjadi padi sebab kebenaran telah lama mati tanpa sempat ada yang menziarahi. bangunlah pagi-pagi, dan lihatlah pucuk daunku yang menari menarilah bersamaku di ladang dan pematang di musim panen atau gersang... ~Jusuf AN - Hikayat Sri, 2019
-
Tapi kenapa bu, Kenapa engkau pergi begitu saja meninggalkan aku, anak gadismu yang dulu di timang-timang, di sayang-sayang, di manja-manja, dan hampir nyaris persis seperti selayaknya anak balita yang sedang bermain-main dengan bonekanya itu ibu? ~ Julia Dwi Wardha.
-
...Sebati lenggang ikrabi dinding Dicumbu mesra bilik nan hening Tiada sanggup hendak mengusik Bahkan dersik enggan berbisik Raganya masih jadikan gubuk Biarpun runtuh melapuk Ruang masih semayam lubuk Kendati pintu tutup terketuk... (Senandung Malam Nestapa - Hanafis Cakung Mas)
-
Pikiranmu Jika kau jatuh cinta Jatuh cintalah Pada cara berpikirnya Kelak, kau akan tinggal Dalam pikirannya Oleh Glory Deo Priambada *Dalam buku “Menyemai Bunga di Ladangmu,” hal. 117. ______________________________ Tentang penulis: Glory Deo Priambada, Berdomisili di Wonosobo, menyukai menulis dan menggambar. Lahir pada 29 Oktober di Purworejo. Buku sebelumnya adalah “Masih Ada Rindu yang Harus di Balas”, “Petualangan Rasa”, “Torehan Jejak”, “Bubuk Kopiku Menjelma Mesiu”. Ia menggagas project tulisan yang ia sebut Nubar dalam beberapa buku: “Syair Tentang Cinta”, “Anggit Abiyasa”, “Sekeping Harapan”, dan “Kota Dingin Tempat Imajinasi”. Bisa dijumpai di Instagram @Gloire.deo.
-
~ Berdua di sepanjang hawa dingin pegunungan Sembari melihat para petani dengan luka di tubuhnya Melindungi sawah yang dirampas paksa (Jalang Kiri, 2020)