Ajar - Sospol

Bijaksana dan Adaptif Mengawal Digitalisasi Pendidikan

Saat ini kita telah memasuki Era Industri 5.0, di mana teknologi mempunyai peran fundamental dalam membantu kegiatan harian manusia. Perkembangan teknologi yang sangat cepat membuat negara-negara di dunia berlomba-lomba untuk adaptif, tak terkecuali Indonesia.

Pemerintah berusaha menyusun kebijakan dan bantuan-bantuan yang mendukung proses adaptasi teknologi dengan harapan Indonesia tidak tertinggal. Hampir semua bidang menerapkan digitalisasi baik dari input, output maupun proses. Kita dibanjiri dengan beragam aplikasi, misalnya Mobile JKN (aplikasi layanan kesehatan digital), SATUSEHAT Mobile (aplikasi rekam medis digital secara nasional), SIGNAL (aplikasi pembayaran pajak), dan sebagainya.

Digitalisasi juga menjadi prioritas dalam bidang pendidikan bahkan pemerintah begitu serius memberikan hibah papan tulis digital. Niat pemerintah yang baik tersebut apakah sudah tepat sasaran? Apakah “hadiah” tersebut akan menstimulasi peningkatan kualitas pendidikan?

Papan Tulis dan Kapur
Papan tulis dan kapur. Dua benda yang saat ini sudah jarang kita temui. Tahun 90-an, mayoritas sekolah masih menggunakan papan tulis dan kapur. Setiap ada tugas menulis di papan tulis, tangan anak-anak kala itu belepotan debu, kering, dan kotor. Kemajuan zaman membuat kapur mulai digantikan dengan spidol, yang dinilai lebih bersih. Saat ini, sepertinya era papan tulis pun akan mengalami pergeseran. Mungkin lama kelamaan papan tulis akan disebut kuno dan perlahan mulai ditinggalkan.

Padahal papan tulis (kapur atau spidol) adalah salah satu organ penting dalam sebuah proses pembelajaran. Melalui papan tulis itulah “sesuatu” dijelaskan. Papan tulis memberikan nilai unik yang tidak ada dalam papan tulis digital, yaitu jeda. Dalam proses pembelajaran seorang anak memerlukan jeda untuk memahami sesuatu seperti makanan yang dikunyah perlahan. Papan tulis memberikan informasi secara perlahan sesuai dengan kecepatan menulis manusia. Kecepatan tersebut memungkinkan bagi anak untuk mendapatkan informasi sedikit demi sedikit sesuai kapasitas masing-masing anak.

Penyampaian informasi melalui papan tulis dapat diibaratkan dengan proses makan. Anak yang mendapatkan informasi perlahan diberikan kesempatan untuk mengunyah dan mencerna dengan baik. Bayangkan apabila anak-anak tidak diberikan waktu mengunyah, ia bisa tersedak, muntah, atau begah. Demikian pula yang terjadi di otak anak, ketika informasi diberikan tanpa jeda. Anak makan terlalu banyak informasi. Otak belum sempat memroses namun sudah ditambah informasi baru.

Papan tulis kapur juga lebih ramah mata. Benda ini tidak memancarkan radiasi sehingga mata kita tetap aman meski menulis dan membaca dalam jarak dekat, dengan durasi waktu cukup lama. Pada anak-anak, keamanan terkait radiasi ini sangat penting. Seluruh bagian tubuh mereka masih tahap berkembang. Mereka membutuhkan stimulasi secukupnya bukan over stimulasi. Papan tulis kapur sangat cocok sebagai media untuk berpikir mendalam. Diagram, gambar, kerangka pikir, bagan disusun sedemikian rupa dengan mengandalkan kemampuan berpikir orisinil. Pengetahuan yang didapatkan juga akan bertahan lebih lama karena diproses secara matang.

Papan Tulis Digital
Papan tulis ini interaktif dan sangat menarik. Bagaimana tidak? Sesuatu yang jauh bahkan abstrak dapat dihadirkan di depan kelas lengkap dengan visualisasi nyata bahkan suaranya. Papan tulis ini menampilkan segala rupa benda secara nyata, dilengkapi dengan penjelasan dan kuis interaktif. Guru maupun anak mengeser layar dan saksikan keajaiban yang akan terjadi.
Segala informasi dapat kita cari dengan mudah, tersaji lengkap dalam hitungan detik bahkan tanpa jeda. Anak-anak kebanjiran informasi yang demikian lengkap, baik informasi berupa teks, gambar maupun video.

Banjir informasi membuat otak anak lelah, karena belum sempat mencerna dengan baik informasi yang didapatkan sebelumnya. Mungkin anak senang mendapatkan informasi banyak dalam waktu singkat tapi informasi yang berhasil dicerna mungkin tak banyak. Selain banjir informasi, over stimulasi juga bisa menjadi penyebab sediktnya hal yang bisa dipelajari. Papan tulis digital menyediakan aneka warna, bentuk, cahaya, dan radiasi. Semakin banyak paparan layar – apalagi jarak dekat dapat membuat mata cepat lelah. Mata terlalu banyak menangkap stimulasi sehingga otak cenderung fokus pada proses mengatasi over stimulasi tersebut dibanding proses kedalaman berpikir.

Scaffolding adalah Kunci
Saya mengakui bahwa perkembangan zaman tak bisa ditolak. Pengajar baik guru maupun dosen dituntut untuk adaptif terhadap semua kondisi. Menurut saya,masalah satu strategi yang dapat diterapkan untuk menjembatani papan tulis kapur dan digital adalah melalui scaffolding. Pembelajaran tidak harus selalu bertumpu pada media-media digital. Konsep dasar perlu diajarkan secara perlahan dan mendalam demi membentuk pondasi pemahaman yang kuat. Pada prinsipnya, selama kita bisa menghadirkan sumber belajar yang nyata ke dalam kelas maka utamakan sumber tersebut. Media digital hanya digunakan sebagai suplemen untuk menghadirkan yang tak bisa hadir, memperkaya wawasan, atau hiburan edukatif berupa kuis.

***

 

 

_________________________

Tentang Penulis

Desty Putri Hanifah, seorang akademisi dan penulis asal Temanggung. Menyelesaikan pendidikan S1 PGSD dan S2 Pendidikan Dasar Konsentrasi IPA di Universitas Negeri Semarang. Aktif sebagai Dosen PGMI di Universitas Sains Al Qur’an sejak 2018. Desty telah menghasilkan 27 buku, mulai dari antologi, book chapter, hingga buku referensi. Karya-karyanya meliputi tema pendidikan, cerita anak, pengembangan diri, hingga spiritualitas, dari 2018 hingga 2023. Prestasi terbarunya termasuk menjadi Juara 3 Naskah Cerita Anak Tema Kearifan Lokal dari SIP Publishing dan terpilih sebagai 11 Paper Terpilih Policy Forum of Education dari Tanoto Foundation 2023.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *