Skip to content
-
kirim tulisanmu ke: suraurakyatinstitute@gmail.com
Surau Rakyat Institute Surau Rakyat Institute

Mengakar, Merawat Nyala Pikir

Surau Rakyat Institute Surau Rakyat Institute

Mengakar, Merawat Nyala Pikir

  • Latar
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Buku
    • Slice of Life
  • Sejarah Budaya
    • Pergerakan
    • Spiritua
    • Folklore
  • Sospol
    • Hukum
    • Sosial
    • Politik
    • Ajar
  • Seri
  • Agro-Eko
    • Meramban
  • Dapur
    • Undangan
  • Latar
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Buku
    • Slice of Life
  • Sejarah Budaya
    • Pergerakan
    • Spiritua
    • Folklore
  • Sospol
    • Hukum
    • Sosial
    • Politik
    • Ajar
  • Seri
  • Agro-Eko
    • Meramban
  • Dapur
    • Undangan
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Surau Rakyat Institute Surau Rakyat Institute

Mengakar, Merawat Nyala Pikir

Surau Rakyat Institute Surau Rakyat Institute

Mengakar, Merawat Nyala Pikir

  • Latar
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Buku
    • Slice of Life
  • Sejarah Budaya
    • Pergerakan
    • Spiritua
    • Folklore
  • Sospol
    • Hukum
    • Sosial
    • Politik
    • Ajar
  • Seri
  • Agro-Eko
    • Meramban
  • Dapur
    • Undangan
  • Latar
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Buku
    • Slice of Life
  • Sejarah Budaya
    • Pergerakan
    • Spiritua
    • Folklore
  • Sospol
    • Hukum
    • Sosial
    • Politik
    • Ajar
  • Seri
  • Agro-Eko
    • Meramban
  • Dapur
    • Undangan
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
CerpenSastra

Dunia Tanpa Lupa

By admin
02.02.2026 5 Min Read
0

“Dengan jumlah korban yang sudah tidak terkirakan, kenapa kita masih mempertahankan tradisi kita? Bukankah lebih baik jika kita biarkan waktu menggerus sebagian masa lalu yang tak menyenangkan buat kita, biar tak ada lagi dendam diantara penghuni dunia ini.”

Demikian ujaran Mak Wik pada suatu pertemuan tak resmi di kedai kopi miliknya saat orang-orang tengah berbincang soal perang kemarin sore di lapangan kota, tak ada pemenang. Lelaki yang usianya hampir seabad itu menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya, matanya menerawang melihat masa silam yang ingin benar ia lupakan. Ia tahu, masa lalu yang tak prnah bisa dilupakan oleh para penduduk negeri itulah pemicu perang kemarin. Masa lalu yang tak menyenangkan selalu melahirkan dendam pada masa depan. Lalu, seorang laki-laki datang sambil meracau.

“Kalau aku boleh memilih, tentu aku akan memilih tinggal di dunia yang memaklumkan lupa. Biar sakit ini tidak membunuhku secara perlahan.”

Orang-orang itu, para pelanggan kedai kopi Mak Wik tercenung. Membayangkan sebuah negeri yang seperti dikatakan oleh pemuda mabuk itu. Negeri yang pemaaf akan masa lalunya. Mungkin akan lebih menyenangkan. Dan rasa was-was oleh pembalasan sakit hati tidak lagi menjadi bagian dari hidup mereka.

“Jangan dengarkan dia, dia hanya pemuda mabuk yang tengah patah hati. Tidak ada dunia lain selain dunia kita. Para dewa memilih kita untuk meninggali tempat ini karena mereka tahu, kita mampu membuat tata hidup yang adil. Dunia lain adalah khayalan para intelektualis kurang kerjakan. Jalani hidupmu dengan semestinya, maka tak ada beban apapun bagimu.”

Sesepuh kampung angkat bicara. Ia adalah manusia tertua di kampung itu, usianya sudah mencapai seratus sepuluh tahun. Pelanggan kedai kopi pak wik paling lama.

“Kau diamlah pak tua, dengan tanpa mengurangi rasa hormatku, pendapatmu itulah yang membunuh keingintahuan. Biarkan para pemuda kita mencari tahu semampu mereka. Jika memang ada dunia selain dunia kita, biarkan mereka memilih dimana mereka akan tinggal. Jikapun tidak ada, mereka akan kembali pada kita. Bahwasanya kemungkinan apapun selalu ada.”

Orang yang barusan bicara adalah seorang kepala polisi kota la vorgota, menjadi pelanggan Mak Wik sejak lima tahun lalu ketika tanpa sengaja Mak Wik memberikan informasi tentang pencuri pakaian dalam perempuan  yang ia cari berbulan-bulan. Sejak saat itu ia sering mendatanngi kedai Mak Wik, sekadar ngobrol atau melepas penat setelah seharian duduk kantornya. Sebagai polisi, ia tertarik dengan cara Mak Wik membicarakan sesuatu, irasional tapi selalu terbukti.

Para pelanggan Mak Wik meninggalkan perdebatan itu, mereka kembali sibuk dengan teman masing-masing. Mereka yang datang sendirian hanya menatap gelas masing-masing. Pekat, serupa masa depan pembicaraan tadi. Tak ada yang tahu dengan yang akan terjadi, tak ada yang percaya tentang sebuah dunia selain dunia mereka, dan menjadi tak yakin akan dunia mereka. Kopi mereka berubah warna menjadi abu-abu.

Senja turun di atas kota Vorgota, orang-orang meninggalkan kedai satu-satu. Tinggal Mak Wik dan Kipranaya, orang tertua di kota itu. Mereka memandangi langit Vorgota, menyayangkan gerimis tipis musim anomali tahun ini. Gerimis adalah suatu pertanda bagi mereka, malam ini kota hanya akan berupa jalan dan tumpukan bangunan mati.

“Apakah keluargamu tak akan mencarimu jika kau tak segera kembali kepada mereka? Sedang aku sendiri ingin segera mendapat sambut hangat keluargaku. Malam ini kurang menguntungkan bagi para penjaga tidur.”

Kipranaya tersenyum, mengambil sebatang rokok dari balik bajunya, menyalakan dan segera menghembuskan asapnya.

“Anak-anakku lebih memilih membangun keluarga baru dengan istri atau suami mereka daripada mempertahankan keluarga lamanya. Dan memang seharusnya begitu. Aku hanya busur, hanya mampu mengarahkan, selanjutnya anak-anak panah itu yang akan menentukan sasarannya.”

Kopi dalam gelas tinggal separuh, Mak Wik melirik Kipranaya, lantas mengambil kesimpulan jika Kipranaya masih enggan kembali ke rumahnya. Ia tahu, begitulah cara Kipranaya menjaga umurnya, dengan berjalan menuju keramaian. Di rumahnya, ia adalah lelaki tua yang kesepian.

“Aku punya tawaran bagus buatmu….” Kata Mak Wik.

Kipranaya menatap mata Mak Wik, memasang wajah penasaran biar Mak Wik segera menyelesaikan kata-katanya. Ia merasa palingan wajahnya lebih tepat buat mendesak Mak Wik daripada menimpali dengan kata.

“Singgahlah di rumahku barang semalam, anak-anakku perlu belajar banyak dari pengalamanmu. Kau orang tertua yang pernah aku temui. Mereka akan sangat senang menyambutmu. Aku juga ingin melanjutkan pembicaraan tadi tentang dunia selain dunia kita.”

Kipranaya mengambil sejumput pasir dari tepi jalan raya, Mak Wik mereka-reka, mencoba menghubungkan tawarannya dengan apa yang diperbuat oleh Kipranaya. Ia tak menemukan kesimpulan. Geleng-geleng kepala adalah hal terbagus menurutnya.

“Baiklah, untuk malam ini aku memang sedang ingin terjaga, apakah persediaan kopimu cukup buat sampai pagi.” Jawab Kipranaya setengah bergurau.

“Oh, di kota ini, hanya aku yang punya persediaan kopi paling melimpah, bahkan jika kau tak hendak pulang dari rumahku pun, ia akan cukup sampai seminggu ke depan.” Mak Wik menjawab tak kalah bergurau.

Dan mereka bergegas setelah Mak Wik selesai berkemas, meninggalkan malam yang bergerimis dan mati. Kehidupan kini dikuasai oleh mimpi, mimpi buruk tentang nasib yang kian hari kian tak bersahabat. Atau mungkin mimpi indah yang menyakitkan, sebab tak mungkin menjadi kenyataan.

Kedatangan Mak Wik dan Kipranaya mendapat sambutan hangat dari keluarga Mak Wik. Anak-anak Mak Wik rupanya sudah mendengar kabar tentang kedatangan Kipranaya ke rumah mereka, hingga selarut ini mereka belum juga tidur. Mereka anak-anak yang antusias.

Mak Wik hendak memperkenalkan anak-anaknya, namun segera dicegah Kipranaya.

“Jangan kau perkenalkan anak-anakmu, biarkan aku mengenalnya secara alami.”

Kopi dan rokok sudah tersedia, berikut makanan kecil pendamping obrolan yang direncanakan akan panjang. Mereka duduk melingkar, enam pasang mata tertuju pada Kipranaya.

Kipranaya sendiri merasa kikuk dengan pandangan macam itu, sekalipun ia orang tertua di kampungnya, tapi ia merasa bukan orang yang cocok dianggap sebagai narasumber, biarpun ia paling tahu akan kehidupan dan kisah-kisah kota itu.

“Aku yakin, bahwa sebenarnya kita bisa tak terbebani akan masa lalu. Kalau lupa itu memang tak ada, tidak mungkin orang akan mengenal kata lupa. Pasti ada orang yang pernah singgah ke dunia kita, atau orang kita yang mampu buat lupa.”

“Kenapa kau begitu ingin mendapatkan lupa?” Tanya Kipranaya.

“Aku ingin melapaskan dendam …”

Kipranaya menguap, sambil membetulkan jaketnya ia berucap.

“Sebenarnya memang bisa, tugaas anak-anakmulah untuk mencari formula lupa itu, kita sudah terlalu tua. Dimana tempatnya? Silakan cari sendiri. Ini bukan nasib yang harus diterima.”

Lalu Kipranaya tertidur di tempat duduknya, bahkan sebelum ia menyentuh kopi yang dipesannya. Orang-orang kecewa.

Kalibeber, Ramadhan 1432 H

***

 

__________________________

Tentang Penulis

Wasito Utomo, lebih akrab disapa Itok, penjual kopi yang suka menulis dan membaca sekedar untuk terapi biar tidak pikun, bisa ditemui di Kedai Kopi Bahagia (Kalibeber).

Tags:

cerpensastraWasito Utomo
Author

admin

Follow Me
Other Articles
Previous

Belajar Politik dari Novel Animal Farm

Next

Bijaksana dan Adaptif Mengawal Digitalisasi Pendidikan

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pencarian

Salam!

Selamat datang di Surau, mari ikut ramaikan latar penulisan, kirim tulisanmu ke:
suraurakyatinstitute@gmail.com

Anyar

  • Musda XI Golkar Wonosobo Pilih Imam Teguh Sebagai Ketua Secara Aklamasi 29.07.2026
  • Tebus Lewat iPubers Mudahkan Kios dan Petani, Stok Pupuk Subsidi Tetap Terjamin 27.07.2026
  • The Forest Was Never Asking for an Audience 24.04.2026
  • Membaca Ulang Kemenangan di Hari Idul Fitri 21.03.2026
  • Warung, Kata, dan Dunia: Bahasa Indonesia di Tanah Asing sebagai Modal Ekonomi Diaspora 07.03.2026
  1. Yuliaharru on Wadaslintang – Tiga Sastra Lisan dari Wadaslintang Bagian II02.06.2026

    Maturnuwun tulisannya menuntun saya menapaki Wadaslintang di masa lalu.

  2. Ahmed on ‎Lupakan Soal Gaji Rp5 Juta, Kamu Harus Tahu Sisi Gelap Kabupaten Gresik01.01.2026

    GRESICK NGERRIII

  3. Ahmed on ‎Lupakan Soal Gaji Rp5 Juta, Kamu Harus Tahu Sisi Gelap Kabupaten Gresik01.01.2026

    Gresik Ngerriiii

  4. 30 on Bu!19.11.2025

    🔥🔥

  5. D_JhavVu on Bu!12.11.2025

    Josss

Kontributor

  • Agus Wepe
  • Anang Bayu
  • A. Nsh/Pardjo
  • Barra
  • Erwin Abdillah
  • Fairouza
  • Gena Sugito
  • Glory Deo
  • Hamdan Abror
  • Hanafis
  • Julia
  • Jusuf AN
  • Nabila Dwi
  • Mayaologi
  • Rossihan Anwar
  • Wasito Utomo
  • Yoga Aditia
  • Yona Al’ainaa

Redaksional

Email : suraurakyatinstitute@gmail.com

Hotline : WA 0813-3056-9950 (Bror) | IG: @suraurakyatinstitute

Paseban: Kantin Literasi Perpusda Wonosobo

Tamu
  • Today's visitors: 1
  • Total visitors : 2,617
2025 - 2026 | Surau Rakyat Institute. Indonesia