Sembari membetulkan pengikat kowangan dari ijuk yang mulai lepas, Kyai Surung berpikir keras, bagaimana caranya mengajak para petani untuk melawan Belanda yang selalu membodohi warga. Sesekali dahinya berkerut, tanda beliau sedang berpikir. Tatapan matanya jauh ke depan, memandang padi yang telah menguning dan sebentar lagi siap dipanen. ~ Tamanna Azmi Azzahra, 2019.
-
-
“Aku yakin, bahwa sebenarnya kita bisa tak terbebani akan masa lalu. Kalau lupa itu memang tak ada, tidak mungkin orang akan mengenal kata lupa. Pasti ada orang yang pernah singgah ke dunia kita, atau orang kita yang mampu buat lupa.” ~ Wasito Utomo
-
“Itu yang jarang kita curigai, revolusi hijau bertumpu pada empat hal, irigasi, pupuk kimia, pestisida dan varietas unggul. Apa tidak mungkin jika beberapa tahun kemudian mereka menggunakan itu untuk tanaman yang lain? Seperti yang tadi kau katakan, manusia semakin hari semakin serakah.” ~ Wasito Utomo (2011)
-
Di daerah perbatasan Magelang, tepatnya di sekitar kawasan Kaliangkrik, seorang prajurit Jepang bernama Kaito mengemban tugas propaganda itu. Pangkatnya di Sendenbu tidak diketahui dengan pasti, namun bisa disetarakan sekelas prajurit satu atau tamtama. Dalam kesehariannya, Kaito yang ramah kerap berinteraksi dengan masyarakat sekitar, termasuk para pedagang pribumi. Salah satu pedagang yang cukup akrab dengan Kaito adalah... ~ Gena Sugito, 2025
-
Bisa dibilang, Surawana adalah pencuri yang cerdik, hingga sulit untuk ditangkap apalagi banyak cara mencurinya yang misterius. Berkebalikan dengan ketenarannya, ternyata Surawana adalah seorang pemuda bertubuh kecil namun lincah. Berbeda dengan bayangan orang-orang yang menggambarkan Surawana bertubuh kekar dan besar serta menakutkan. Namun apes juga pernah dialami Surawana hingga suatu saat ditangkap.. ~ Wahyu Cahyo Agung (2019)
-
Bodoh, ia lupa kepada kedua orang tuanya, bapaknya bukan orang yang lahir dari keluarga kaya, tapi ibunya tetap bersedia menjadi pendamping bapaknya, mendampingi menghadapi hidup yang serba susah. Sukur tak pernah berpikir untuk mendapatkan istri macam ibunya. Barangkali di mata Sukur, ibunyalah yang bodoh, mau saja menjadi istri orang miskin. ~ Wasito Utomo, 2013
-
Tempat-tempat itu akan berubah, atau tetap seperti adanya; tak ada artinya jika semua itu tak pernah kau ketahui. Lihat tanda api di tanganmu! Lihat tuahmu! Tidakkah semua hal berjalan seperti apa yang kau ingin lihat? Sekarang, apa yang kau inginkan? Apa maumu, Pengeluh? (Mangmang ~ Agus Wepe 2025)