Jepang Cahaya Asia. Jepang Pelindung Asia. Jepang Pemimpin Asia.
Begitulah bunyi propaganda Jepang yang dikenal dengan sebutan “3A” menandai Awal perang dunia II di tahun 1942. Gerakan itu diusung Sendenbu, departemen propaganda Jepang, dan digagas oleh pimpinannya, Shimizu Hitoshi. Sendenbu bertujuan menarik simpati rakyat pribumi nusantara sebelum pendaratan pasukan Jepang. Propaganda itu berada di bawah kendali penuh militer Jepang dan menjangkau banyak wilayah dari kota-kota besar hingga pelosok.
Di wilayah Karesidenan Kedu, gerakan 3A bahkan menjalar hingga ke wilayah perbatasan Magelang. Namun wilayah Wonosobo tidak tersentuh secara langsung propaganda, meskipun beberapa warganya yang umumnya pedagang tidak asing karena mendapati propaganda itu di kota lain. Jepang bahkan menanamkan pemikiran bahwa mereka adalah saudara tua bagi warga Indonesia. Padahal mereka sama saja penjajah dan kerap dinilai lebih kejam ketimbang Belanda.
Di daerah perbatasan Magelang, tepatnya di sekitar kawasan Kaliangkrik, seorang prajurit Jepang bernama Kaito mengemban tugas propaganda itu. Pangkatnya di Sendenbu tidak diketahui dengan pasti, namun bisa disetarakan sekelas prajurit satu atau tamtama. Dalam kesehariannya, Kaito yang ramah kerap berinteraksi dengan masyarakat sekitar, termasuk para pedagang pribumi.
Salah satu pedagang yang cukup akrab dengan Kaito adalah seorang pria penjual hasil bumi yang selalu dibantu anak perempuannya yang berparas cantik, ia bernama Jariyah. Menurut cerita turun-temurun keluarga, Jariyah adalah anak yang selamat dari semacam kutukan tanda lahir. Semua kakak laki-lakinya telah meninggal sejak kecil.
Keluarga Jariyah meyakini bahwa adanya toh abang alias tanda lahir merah yang dimiliki orang tua Jariyah menyebabkan anak laki-laki dalam keluarganya sulit bertahan hidup. Beberapa percaya bahwa anak laki-laki yang lahir dari keluarga itu akan selalu diminta oleh bethara kala.
Pada suatu siang yang terik di pasar Kaliangkrik, Jariyah yang masih remaja terlihat mengelap keringat yang berkilauan bak mutiara di dahinya. Pemandangan itu menarik pemuda Jepang yang terpaksa menjadi tentara di tanah asing, mencari-cari rumah kedua bagi hatinya yang dipenuhi gairah muda. Di siang itulah mereka berpandangan dan saling jatuh cinta. Nyatanya cinta tidak mengenal warna kulit, perbedaan bahasa, bahkan hubungan penjajah dan yang dijajah.
Saat itu, usia Jariyah masih belasan tahun, kelewat muda bagi Kaito. Ada yang turut berbahagia, ada pula yang iri. Desas-desus menyebut bahwa hubungan kekasih mereka berdua cukup rumit, ada yang berkata tak pantas, apalagi karena berbeda ras. Tidak diketahui secara pasti apakah hubungan keduanya berawal dari kekaguman Kaito pada paras ayu Jariyah. Kebetulan gadis belia itu juga tekun berdagang dan ramah pada siapapun. Ada pula yang menyebut Kaito mengenal Jariyah atas dorongan dari sang ayah. Atas dasar apapun, keduanya pun telah menjalin hubungan secara diam-diam.
Seiring berjalannya waktu, propaganda Gerakan 3A berakhir dalam setahun karena terbongkar sebagai alat Jepang untuk kepentingan perang Asia Timur Raya. Propaganda beralih menjadi Putera atau Pusat Tenaga Rakyat. Usai organisasi itu dibubarkan, rakyat mulai curiga terhadap agenda Jepang. Dalam situasi itu, Jariyah tetap membantu ayahnya berdagang dengan berpindah-pindah ke tempat yang lebih ramai.
Setahun lebih, kisah cinta Jariyah dan Kaito berlanjut hingga mereka menikah. Rumah tangga mereka tetap kokoh meski sempat beredar kabar bahwa Kaito sebelumnya telah menikah di Jepang. Namun ia memilih tetap tinggal di Indonesia dan kesungguhannya terlihat dari digantinya nama Jepang menjadi nama Jawa: Tjokro Prawiro.
Setelah pendudukan Jepang usai, riwayat pekerjaannya Kaito tidak banyak diketahui. Namun beredar kabar bahwa Kaito alias Tjokro pada saat itu masih dicurigai oleh masyarakat sekitar sebagai antek Jepang. Mereka berhasil bertahan hingga akhirnya pada pergolakan 1965, Kaito diyakini meninggal dunia sebagai salah satu korban. Rumor menyebut ia difitnah. Ia kemungkinan menjadi salah satu korban dari ratusan ribu orang yang dibunuh akibat konflik politik yang mengkambinghitamkan PKI. Sedangkan Jariyah wafat pada usia 57 tahun sekitar tahun 1980-an, akibat stroke dan dimakamkan di desanya, Katilampa, kecamatan Kalibawang, Wonosobo.
Dari pernikahan Kaito dan Jariyah lahirlah seorang anak laki-laki bernama Kastari,. Ia tumbuh besar menjadi pemuda yang cakap dan pandai. Ia dipercaya warga memimpin dan kemudian ia menjabat sebagai lurah beberapa kali di Desa Winongsari, Kecamatan Kaliwiro. Ia menikah dengan Poniah, warga asli Winongsari dan menetap di desa tersebut hingga para keturunannya hari ini yang masih banyak tinggal di sana. Pasangan ini dikaruniai empat orang anak Taryono (Alm), Sayem, Wakinah, dan Sugito. Sugito masih tinggal di Winongsari dan memiliki beberapa anak. Salah satunya adalah saya, Gena. Saya ingin berpesan kepada siapapun yang membaca ini, bahwa kita, orang Indonesia adalah memang kenyataannya “anak semua bangsa.”
***
___________________________
Tentang Penulis
Gena Sugito, lahir di Kaliwiro, Wonosobo dan tumbuh di lingkungan yang menghargai keberagaman. Ia menempuh pendidikan di Unsoed dan pernah aktif sebagai Jurnalis Suara Merdeka dan Mercusuar. Menggeluti beberapa bidang olah raga sejak belia. Petualangan Gena bisa diikuti di akun IG @genasugito.



