Di masa pendudukan Hindia Belanda, seorang penjarah harta di desa Binangun, lereng Gunung Bismo dikenal oleh warga sekitar dengan panggilan Surawana. Nama itu kadung masyhur mengalahkan nama lahirnya, Pajri. Surawana memiliki arti yaitu, “sura” yang berarti pemuda yang berani dan “wana” yang berarti hutan. Atau seorang pemuda yang berani berasal dari hutan. Surawana adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Kedua saudaranya adalah orang-orang yang dikenal sukses. Berkebalikan dengan Surawana yang paling mbejujag dari saudara-saudaranya. Surawana sedari kecil sudah kerap mencuri uang dan barang orang tuanya. Dimanapun orang tuanya menyimpan uang, pasti bisa ditemukannya.
Sampai suatu ketika, Ayahanda Surawana yaitu Ngalimonawi merasa geram. Sampai-sampai menyimpan uangnya di bawah lumpang batu yang ditengkurapkan. Akan tetapi, masih juga dapat ditemukan oleh Surawana. Di masa mudanya, Surawana banyak menghabiskan waktu sebagai seorang buron atau orang yang dicari karena kejahatan. Hal itu lantaran sering mencuri uang dan barang- barang warga setempat. Surawana kerap menyasar uang, emas, dan bahkan juga hewan ternak.
Bisa dibilang, Surawana adalah pencuri yang cerdik, hingga sulit untuk ditangkap apalagi banyak cara mencurinya yang misterius. Berkebalikan dengan ketenarannya, ternyata Surawana adalah seorang pemuda bertubuh kecil namun lincah. Berbeda dengan bayangan orang-orang yang menggambarkan Surawana bertubuh kekar dan besar serta menakutkan. Namun apes juga pernah dialami Surawana hingga suatu saat ditangkap dan dibawa ke Nusakambangan karena terbukti melakukan banyak sekali pencurian. Saat dibawa ke Nusakambangan, Surawana pun berusaha untuk kabur.
Pada saat perjalanan ke Pulau Nusakambangan, dengan kecerdikannya, Surawana menggunakan dua batok kelapa yang dipasang di kedua sikunya sebagai bantuan untuk berenang hingga ke Cilacap. Sejak itu, Surawana menjadi sebuah legenda dan banyak dikagumi baik sesama para pencuri maupun warga, hingga dianggap orang sakti. Kemudian setelah itu, Surawana berkelana hingga ke dusun Plemburan, desa Campursari, kecamatan Kejajar. Di Plemburan, Surawana masih melakoni profesi yang sama dan menjarah rumah warga.
Namun, lama-kelamaan Surawana tidak betah di Plemburan karena harta benda warga tidak begitu banyak. Kemudian Surawana memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke dusun Skisut, desa Gilaran, Pekalongan. Di sana Surawana bertemu jodohnya, berumah tangga hingga memiliki dua anak yang bernama Slamet dan Kiwil. Anak pertamanya diberi nama Slamet karena di Skisut Surawana berjanji tidak akan melakukan pencurian maupun tindakan kriminal lainnya.
Akan tetapi, Surawana mengingkari perkataannya sendiri dan masih melakukan pencurian. Sehingga di Pasar Sentiling, Gilaran. Surawana ditangkap dan diikat dengan rantai. Karena warga sangat geram, akhirnya tangan kanan Surawana diikatkan dengan mobil yang menghadap ke Utara, dan tangan kirinya diikat dengan mobil yang menghadap ke selatan. Kemudian kedua mobil tersebut ditancap gasnya dan menarik tubuh Surawana dari arah berlawanan. Luar biasa. Tak dinyana, ternyata Surawana mampu menahan laju dua mobil yang hendak membelah tubuhnya menjadi dua itu. Banyak warga mengira tangan Surawana sudah terlepas dari tubuhnya, tetapi ajaibnya, tubuhnya masih utuh dan tidak terluka sama sekali.
Setelah lolos dan pergi dari Gilaran, Surawana kemudian berkelana menuju lereng Bukit Muncar yang ada di dusun Prumasan. Di sana Surawana merasakan kesepian hingga memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang gadis bernama Wasilah. Akan tetapi, Surawana tidak dikaruniai momongan dari istri keduanya itu.
Kisah hidup Surawana nyatanya tak hanya diisi dengan kisah pencurian saja, akan tetapi Ia pernah ikut terlibat dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan menjadi anak buah Kolonel Sucipto. Meski terbiasa mencuri, Surawana mau berjuang dan membela negara, bahkan menjadi salah satu orang yang paling berani maju ke medan perang. Tetapi apa mau dikata, karena sudah kebiasaan, ternyata Surawana masih melakukan pencurian emas milik menantu Kolonel Sucipto di rumah yang berada di daerah Wonosobo kota, di perempatan Hotel Kresna.
“Kamu anak buah kurang ajar ya, Surawana, mengambil harta mantu saya.” Kesal sekali Kolonel Sucipto hingga dipecatnya Surawana dari kesatuan.
Setelah banyak kejadian menimpanya baik yang manis maupun berujung pahit, kemudian Surawana kembali ke desa Binangun, Watumalang, ke tempat kelahirannya. Di Binangun pun Surawana masih tak jera melakukan pencurian hingga ditangkap dan dikurung dengan Kurungan besar di rumah singgah mbah Glondong (Pimpinan yang membawahi beberapa kepala desa). Anehnya, di malam hari Surawana sudah lenyap dari kurungan tersebut. Keresahan warga juga semakin menjadi-jadi dan melaporkan Surawana ke polisi dan ia akhirnya dijebloskan ke penjara.
Tapi lebih aneh lagi, saat di penjara dengan penjagaan petugas, pada siang harinya Surawana terlihat berada di penjara namun malamnya sudah di rumah. Begitu seterusnya pada pagi hari, Surawana sudah kembali ke penjara lagi. Hingga warga tahu bahwa Surawana bisa membuat ulah lagi di desanya. Suatu hari, para Pemuda Binangun melakukan pengejaran untuk menangkap Surawana. Hingga larilah Surawana sampai ke ladang milik Jarkasi. Saat itu Jakarsi sedang merawat kolam ikan miliknya dan membawa caping untuk berjaga-jaga jikalau hujan. Surawana memanfaatkan tubuh kecilnya dengan diam-diam meringkel di bawah caping Jakarsi yang ditinggal di tepi kolam.
“Pak Jarkasi, sampeyan semerep Pak Surawana mriki?” Tanya salah satu Pemuda Binangun kepada Pak Jarkasi.
“Mboten, kulo mboten semerep wonting tiyang mriki. Wong kulo kawit wau teng mriki mboten semerep enten tiyang.” Jawab Pak Jarkasi.
Padahal Surawana sedang bersembunyi di bawah caping Jarkasi. Kemudian Surawana menampakkan dirinya ke Jarkasi.
“Jar!, enyong nang kene.” Seru Surawana yang mengagetkan Jarkasi.
“Walah!, njenengan malah nang kono. Lah kulo mangken diwastani ngumpetaken njenengan.” Jawab Jarkasi dengan ketakutan karena dikira menyembunyikan Surawana.
“Ya ora ko, wong deke ora ngerti. Nyong maturnuwun mbanget karo deke Jar.” Tegas Surawana meyakinkan bahwa Jarkasi tidak bersalah.
Dari kejadian tersebutlah yang membuat Jarkasi sangat disayang oleh Surawana, karena telah menyelamatkan dirinya dari kejaran para pemuda. Setiap ada apa-apa, Surawana pasti memberi kabar kepada Jarkasi. Ketika Surawana sudah lanjut usia, dirinya memutuskan untuk berhenti melakukan pencurian dan sering memberi masukan kepada Pemuda Binangun, terutama untuk berbagai masalah termasuk keamanan. Surawana juga dianggap sebagai penasehat dan tempat bertanya pemuda ketika ada suatu masalah. Suatu ketika, wara-wara dari Surawana disampaikan pada seluruh masyarakat Desa Binangun. Surawana memastikan seluruh warga mendengar pesannya itu.
“Nyong dediya maling kondhang, ning nek mbisuk dipundhut marang Sing Kuwasa, nyong ora arep mati merga dibedhil, ora merga dipenjara, lan ora merga dikapak-kapakna. Nanging, nyong arep mati ingkang husnul khotimah.
(Saya walaupun jadi maling yang terkenal, tapi jika suatu saat nanti dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, saya tidak ingin mati karena ditembak, tidak karena dipenjara, dan tidak karena diapa-apakan. Tapi, saya ingin mati yang husnul khotimah.)
Di suatu hari, saat matahari tergelincir, tepatnya jam tiga sore, Surawana mencoba menghangatkan diri dengan karing alias berjemur. Kemudian jam empat sore istrinya keluar dari rumah dan terkejut karena melihat Surawana sudah tergeletak tak bernyawa dengan tangan bersedekap. Perkataan Surawana terwujud karena matinya Surawana tidak kerena dilukai senjata apapun, bahkan mati seperti orang yang normal. Surawana meninggal pada tahun 1978 di Desa Binangun, Kecamatan Watumalang di usia 92 tahun.
***
_________________________
Tentang Penulis
Wahyu Cahyo Agung, lahir di Wonosobo (2002), menulis kisah turun temurun ini ketika kelas XI SMA (2019). Kisah ini ada dalam buku: Cerita Rakyat Wonosobo: Bundengan Kyai Surung & 21 Kisah Ajaib Lainnya, terbit 2019, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo.
______________________
Ilustrasi “Surawana Berenang dengan dua batok kelapa” oleh Agus Wasonoputra (2019)



