Agroekologi - Meramban - Sospol

The Forest Was Never Asking for an Audience

Saya menuliskan ini sebagai sebuah refleksi personal yang perlahan terbentuk setelah beberapa kali mengunjungi Desa Bowongso (2025) dan Desa Sigedang (2026). Sebuah desa di dataran tinggi yang dikelilingi gugusan bebukitan dan sebagian besar wilayahnya masih bersih dari jamahan warga-wargi asing, meskipun berada di jalur wisata. Saya turut bersyukur memiliki kesempatan untuk bermain ke hutannya, hutan yang bukan merupakan lanskap tempat saya tumbuh.

Awalnya, aktivitas ini terasa ringan, hampir seperti “main-main” menyenangkan. Sebuah pelarian dari ritme sehari-hari, sekaligus ruang untuk belajar hal-hal baru yang tidak saya temukan di keseharian saya di sekitar kota. Saya mengakui bahwa perjalanan-perjalanan ini menawarkan keberhargaan lain. Ada pengetahuan yang hidup di dalamnya: pengetahuan ekologis, praktik kultural, hingga cara-cara untuk memahami relasi antara manusia dan alam.

Seperti yang kita ketahui bersama, hutan, dalam banyak cara, bekerja melampaui apa yang tampak di permukaan. Tidak terbatas pada sorak pemandangan serta kumpulan pepohonan, melainkan sistem hidup yang saling terhubung. Lebih jauh, ia menghadirkan cara berpikir yang berbeda: lebih lambat, lebih hening, dan sering kali lebih jujur. Berada di hutan, membuka ingatan bahwa tidak semuanya bergerak dengan kecepatan kita. Ada nadi-nadi lain yang turut hidup, berjalan, dan bertumbuh dengan cara yang tidak pernah terbayangkan.

Namun, seiring waktu, pengalaman ini mulai menyisakan lapisan-lapisan pertanyaan yang tidak bisa lagi saya abaikan. Satu per satu dilema mulai muncul. Hutan, baik yang berada dalam ekosistem pegunungan atau lainnya, bukan sekadar ruang terbuka yang bisa diakses tanpa konsekuensi. Ia adalah entitas dengan segala kompleksitas, baik secara ekologis maupun budaya. Bagi masyarakat lokal, hutan sering kali bukan hanya tempat, melainkan bagian dari ruang kehidupan sekaligus pengayom: perlu untuk dijaga, dihormati, dan diwariskan melalui praktik-praktik yang tidak selalu terlihat oleh orang luar.

Melalui kerangka tersebut, saya mulai mempertanyakan: apakah kehadiran kita benar-benar bagian dari keterhubungan, atau justru bentuk lain dari interupsi?

Belakangan, tren wisata berbasis alam memang menunjukkan peningkatan yang signifikan. Saya melihat bagaimana aktivitas “main ke hutan” ini mulai berkembang menjadi sesuatu yang lebih masif. Minat terhadap ekowisata dan perjalanan berbasis pengalaman terus bertumbuh, terutama pasca pandemi, ketika kebutuhan akan ruang terbuka, udara bersih, dan pengalaman yang dianggap lebih “autentik” semakin menguat. Pergeseran preferensi ini mendorong banyak orang untuk menjadikan desa-desa pegunungan dan kawasan hutan sebagai tujuan baru.

Apa yang sebelumnya terasa intim dan terbatas, kini perlahan berubah menjadi lebih terbuka, lebih mudah diakses, dan pada akhirnya, lebih ramai. Istilah-istilah seperti curated trip, immersive experience, atau bahkan healing journey semakin sering digunakan seolah-olah mampu membingkai pengalaman ini sebagai sesuatu yang tetap eksklusif. Dari pergeseran tersebut, satu pertanyaan terus muncul dan berulang dalam benak saya:
Are we preserving the experience, or consuming it together?

Perbedaan di antara keduanya mungkin terdengar tipis, tetapi implikasinya cukup besar. Ketika kita berbicara tentang preservasi, ada unsur pembatasan di dalamnya yaitu kesadaran untuk tidak selalu membuka akses seluas-luasnya. Sementara konsumsi cenderung bergerak ke arah sebaliknya: memperluas jangkauan, mengulang pengalaman, dan menjadikannya sesuatu yang bisa dinikmati oleh lebih banyak orang, lebih sering. Dan mungkin disitulah letak kerentanannya: pada ketidakmampuannya untuk menolak, sementara kita seringkali datang tanpa benar-benar memahami.

Perlu diketahui bersama, tidak semua hal dirancang untuk direplikasi. Tidak semua yang dapat kita akses dimaksudkan untuk diakses berulang kali. Juga, peningkatan tidak selalu diiringi dengan kesiapan ekosistem maupun kapasitas sosial budaya lokal untuk menerima lonjakan kunjungan dalam jumlah besar.

Ketika sebuah ruang yang sebelumnya dijaga dengan nilai-nilai tertentu mulai terbuka tanpa filter yang jelas, ada kerentanan yang tidak hanya bersifat ekologis. Ekosistem bisa terganggu, tentu. Namun di saat yang sama, makna yang melekat pada ruang tersebut juga berpotensi terkikis. Lebih jauh lagi, aspek yang seringkali luput dari pembahasan adalah dimensi kultural. Ketika sebuah ruang mulai sering dikunjungi dan diposisikan sebagai destinasi, terjadi pergeseran makna yang perlahan namun nyata.

Praktik-praktik lokal yang sebelumnya dijalankan dalam konteks keseharian dapat berubah menjadi performatif, menyesuaikan diri dengan ekspektasi pengunjung. Dalam jangka panjang, hal ini tidak hanya mempengaruhi cara orang luar melihat ruang tersebut, tetapi juga berpotensi menggeser cara masyarakat lokal memaknai ruang hidup mereka sendiri.

Apa yang sebelumnya sakral bisa perlahan berubah menjadi sekadar latar visual, sesuatu yang cukup untuk difoto, dibagikan, lalu ditinggalkan.

Saya menyadari bahwa kegelisahan ini tidak berdiri di luar diri saya. Justru sebaliknya, saya adalah bagian dari dinamika tersebut. Dalam pekerjaan saya, saya terlibat dalam penyediaan jasa perjalanan termasuk perjalanan ke ruang-ruang yang saya sebutkan tadi.

Di sana, istilah “kurasi” sering kali menjadi pegangan. Kami berbicara tentang mengkurasi peserta, membatasi jumlah, memastikan pengalaman tetap terjaga kualitasnya. Pada titik tertentu, konsep ini terasa meyakinkan. Seolah-olah dengan niat yang baik dan seleksi yang tepat, semua bisa tetap berada dalam koridor.

Lalu apa hukumnya, jika saya mulai meragukan asumsi tersebut? Sebenarnya seberapa jauh kapasitas kita untuk mengkurasi benar-benar bekerja?

Apakah kurasi benar-benar mampu menjadi mekanisme kontrol yang efektif ketika permintaan terus meningkat? Sejauh mana kita bisa memastikan bahwa setiap individu yang hadir membawa kesadaran yang sama? Dan yang lebih penting, apakah konsep kurasi itu sendiri masih relevan ketika skala sudah tidak lagi kecil?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak selalu memiliki jawaban yang nyaman. Ada ironi yang sulit dihindari di sini. Saya menyadari potensi adanya dampak yang mungkin ditimbulkan. Namun di sisi lain, aktivitas ini juga menjadi bagian dari cara saya bertahan hidup. Bukan sekadar pilihan, tetapi juga kebutuhan. Dilema itu menjadi semakin nyata dan berdiri di depan muka, bukan hanya sebagai wacana, tetapi sebagai pengalaman yang saya jalani sendiri.

Realita memang selalu menemukan jalan menjemput kontradiksi. Saya tidak menuliskan ini sebagai bentuk penolakan total, apalagi sebagai upaya untuk menghakimi. Mungkin ini lebih tepat dipahami (atau sekadar klaim) sebagai upaya untuk berlaku dengan sadar, upaya kecil melihat kembali arah yang sedang kita tuju, dan mempertanyakan asumsi-asumsi yang selama ini kita anggap benar.

Jikapun aktivitas tersebut memang perlu di-berlangsung-kan, saya tetap berharap ekowisata seharusnya hanya dipertimbangkan berdasarkan keinginan yang secara jelas disampaikan oleh masyarakat lokal (Voumard, 209). Menjadi penting untuk diingat, bahwa tidak semua ruang membutuhkan kehadiran kita dalam jumlah besar. Tidak semua pengalaman harus dibagikan secara luas. Dan tidak semua hal bisa dijadikan bagian dari konsumsi kolektif. Some places are meant to be felt, not to be over-consumed. Right?

Dalam konteks ini, mungkin yang lebih penting bukan sekadar bagaimana kita mengakses sebuah ruang, tetapi bagaimana kita memahami posisi kita di dalamnya. Apakah kita datang sebagai bagian dari relasi yang saling menghormati, atau hanya sebagai pengunjung yang membawa kepentingan sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin tidak akan pernah selesai dijawab. Namun setidaknya, ia bisa menjadi pengingat bahwa ada batas-batas yang perlu dipertimbangkan bahkan ketika batas tersebut tidak terlihat secara kasat mata. Karena pada akhirnya, hutan, dengan segala kompleksitas dan keheningannya, tidak pernah benar-benar meminta untuk dihadiri.

Keterangan foto: Maya ketika menjelajah Alas Semaling, salah satu hutan di kawasan desa Sigedang, Kejajar Wonosobo, April 2026. By Taufiq, IG: @tauffiiiq_

Bahan Bacaan:

Voumard, M. (2019). Promises and pitfalls of ecotourism: patterns from a literature review.

Investigaciones Turísticas. Vol (17), pp. 1-23. http:/dx.doi.org/10.14198/INTURI2019.17.01

Indriyanto (2026). Ekologi hutan. Bumi Aksara: Jakarta

Harahap, A.S (dkk). (2019). Pencegahan Perusakan Hutan Berbasis Masyarakat Adat
Dalihan Na Tolu Di Tapanuli Selatan. Masalah-Masalah Hukum. Vol 48 No 1. Hal 1-12.

 

________________________________

Tentang Penulis

Mayaologi. Seorang pemudi penggemar Nicholas Saputra dan hidup damai di lereng gunung Bismo. Sila disapa di akun IG @mayaologi di jam kerja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *