• Buku - Pergerakan - Sospol - Spiritua

    Membebaskan Logika dari Belenggu Mistisisme

    Dengan demikian, pembebasan logika dari mistisisme adalah langkah strategis menuju kemerdekaan intelektual, sosial, dan politik. Logika, sains, dan moralitas harus berjalan seiring untuk membentuk masyarakat yang kritis, rasional, dan beradab. Liberasi intelektual ini bukan sekadar kebutuhan akademik, tetapi kebutuhan mendesak bagi generasi sekarang agar mampu menghadapi tantangan global, menjaga identitas budaya, dan membangun masa depan yang adil dan sejahtera. Masyarakat yang berpikir kritis akan mampu menilai realitas, mengambil keputusan berbasis fakta, dan menciptakan perubahan yang nyata tanpa terperangkap oleh dogma, mistisisme, atau manipulasi ideologis. ~ Hamdan Abror, 2026.

  • Agroekologi - Pergerakan - Sospol

    Jika Ini Disebut “Salah Jalan”, Petani Sudah Lama Tidak Punya Jalan: Menegaskan Kembali Paradoks Kesejahteraan Petani Wonosobo

    Dalam ekonomi politik, nilai (value) tidak pernah bebas nilai (value-free). Ketika teknokrasi ekonomi menemui jalan buntu dalam mendistribusikan keadilan, agama hadir menawarkan basis moral untuk merombak struktur. Konsep Adil dan Maslahah adalah tuntutan agar negara tidak bertindak sekadar sebagai "penjaga malam" bagi pasar bebas, tetapi sebagai intervensionis yang berpihak pada mustadh'afin. ~ Ahmadnsh, 2026.

  • Buku - Pergerakan - Spiritua

    Menjadi Rausyan Fikr: Agama Tidak Pernah Netral dalam Politik Kekuasaan

    Pada akhirnya, konsep Rausyan fikr yang ditawarkan Syari’ati bukanlah status sosial atau identitas eksklusif. Ia adalah komitmen yang terus diperbarui. Komitmen untuk belajar, berpikir kritis, dan berpihak pada mereka yang tertindas. Dalam dunia yang semakin kompleks dan penuh kepentingan, pesan Syari’ati tetap sederhana sekaligus radikal. Intelektual sejati adalah mereka yang menyatukan nalar dan tindakan, pengetahuan dan keberanian, serta agama dan perjuangan kemanusiaan. ~ Hamdan Abror, 2025.

  • Buku - Pergerakan - Sastra

    Reset Indonesia, Buku yang Membantu Menata Kebijakan, Mulai dari Cara Pikir

    Sudut pandang dari tiga generasi menjadikan judul-judul yang diangkat di buku ini sangat ramah dengan segmen pembaca. Jika disarikan dalam sedikit kata, buku ini mungkin berisi keresahan dan jawaban. Tentunya keempat penulis bukanlah ahli di banyak bidang, namun pengalaman mereka memberikan akses untuk mendapatkan informasi terkait masalah yang mereka lihat secara langsung. ~ Erwin Abdillah, 2025

  • Pergerakan - Sosial

    Nahdlatul Ulama dari Luar: Mengurai Reaksi Publik

    Pada akhirnya, segala macam dinamika yang terjadi tetaplah menjadi fakta sejarah yang mungkin akan terlupakan atau tetap tercatat dan diingat oleh manusia. Tetapi, proses hari-hari ini ditentukan oleh respon kita yang kemudian berwujud menjadi suatu tindakan. NU tidak akan runtuh hanya karena masalah besar yang menerpa, tetapi justru berasal dari masalah-masalah kecil yang berubah wujud menjadi kebiasaan, menjelma menjadi sesuatu yang lumrah kemudian berubah menjadi karakter yang tidak siap menjawab tantangan zaman. ~ Yoga Aditya L, 2025.

  • Pergerakan - Politik - Sosial - Spiritua

    NU di Simpang Kekuasaan: Ketika Risalah Syuriah Membelah Jalan Jam’iyah

    Mungkin, krisis hari ini memang harus terjadi. Ia memaksa NU bercermin, menilai dirinya, dan menentukan ulang orientasi zaman. Jika risalah Syuriah adalah alarm, maka konflik ini adalah kesempatan: kesempatan untuk menata ulang hubungan tradisi–modernitas dalam tubuh NU, kesempatan untuk memperjelas batas antara diplomasi dan kompromi, kesempatan untuk menyaring kembali mana yang barakah dan mana yang hanya gemerlap global. ~ Fairouza, 2025.

  • Pergerakan - Politik - Sejarah Budaya - Sospol

    MARSINAH: Luka Kolektif dalam Politik Rekonsiliasi Sejarah

    Lantas, apa dosa Soeharto terhadap kematian Marsinah? Ia adalah penggerak system yang memberikan otoritas penuh bagi Militer untuk memberangus siapapun yang di anggap bisa memicu ledakan sosial dan membangkitkan suara-suara rakyat. Akibatnya, militer tidak hanya menjadi alat pertahanan negara namun juga pengendalian masyarakat sipil termasuk buruh dan Perempuan. Dalam masa pemerintahannya, Soeharto memfokuskan kegiatan ekonomi kedalam industrialisasi padat karya yang sangat bergantung terhadap tenaga kerja perempuan dengan upah murah. ~ Nabila Dwi Febriyanti, 2025.

  • Pergerakan - Politik - Sejarah Budaya - Sospol

    Soeharto dan Bayangan Firaun dalam Sejarah Indonesia

    Kesamaan pola antara Soeharto dan Fir’aun menunjukkan bahwa wacana pemuliaan Soeharto bukan hanya salah secara politik, tetapi juga bertentangan dengan prinsip-prinsip yang diajarkan Al-Qur’an. Teks suci itu dengan tegas memperingatkan umat manusia untuk tidak tunduk kepada tirani, apalagi mengagungkannya. Namun ironisnya, hingga saat ini sebagian besar organisasi keagamaan tidak menunjukkan sikap kritis terhadap penganugerahan tersebut. Diamnya mereka menunjukkan bahwa slogan-slogan keadilan yang sering dikutip belum menjelma menjadi keberanian moral. ~Hamdan Abror, 2025.

  • Pergerakan - Politik - Sejarah Budaya - Seri

    Rumus Ajaib dari 1825 ~ Bagian 5

    Metode yang dipakai untuk menghancurkan mereka masih sama, politik pecah belah. Di masa kerajaan, VOC akan condong ke salah satu pihak penerus keraton hingga ia menjadi raja. Lalu memecah belah kekuasaan di daerah bawah. Lalu jika membaca kembali Metode Jakarta, CIA akan mengambil salah satu pihak yang diasuh sebagai anak emas mereka, lalu dilatih dan diluncurkan sebagai pahlawan. Masih sama dengan operasi proksi militer dan operasi ekonomi, semuanya tidak berbeda dengan taktik "Kuda Troya" di kisah mitologi Yunani. ~ Erwin Abdillah, 2025.

  • Pergerakan - Politik - Sejarah Budaya - Sospol

    NU, Orde Baru, dan Romantisme Kepahlawanan Soeharto: Sebuah Cermin dari Dilema Sejarah

    Romantisme terhadap Soeharto adalah cerminan kelelahan masyarakat kita sendiri. Kita muak dengan politik yang gaduh, elite yang saling berebut kursi, dan janji reformasi yang tak kunjung menyejahterakan rakyat. Dalam kelelahan itu, figur Soeharto tampak seperti “bapak” yang sederhana dan tegas—padahal di baliknya, ada sejarah panjang pembungkaman dan pemusatan kebenaran. Mengagumi tanpa mengingat luka adalah bentuk lain dari amnesia moral. ~Fairouza, 2025.