Mungkin, krisis hari ini memang harus terjadi. Ia memaksa NU bercermin, menilai dirinya, dan menentukan ulang orientasi zaman. Jika risalah Syuriah adalah alarm, maka konflik ini adalah kesempatan: kesempatan untuk menata ulang hubungan tradisi–modernitas dalam tubuh NU, kesempatan untuk memperjelas batas antara diplomasi dan kompromi, kesempatan untuk menyaring kembali mana yang barakah dan mana yang hanya gemerlap global. ~ Fairouza, 2025.
-
-
Romantisme terhadap Soeharto adalah cerminan kelelahan masyarakat kita sendiri. Kita muak dengan politik yang gaduh, elite yang saling berebut kursi, dan janji reformasi yang tak kunjung menyejahterakan rakyat. Dalam kelelahan itu, figur Soeharto tampak seperti “bapak” yang sederhana dan tegas—padahal di baliknya, ada sejarah panjang pembungkaman dan pemusatan kebenaran. Mengagumi tanpa mengingat luka adalah bentuk lain dari amnesia moral. ~Fairouza, 2025.
-
Tidak ada suatu keharusan bagi seorang Muslim untuk memilih lembaga berlabel Islam, mulai dari kelompok arisan sampai kepala negara. Islami atau tidaknya sebuah lembaga bukan diidentifikasiakan oleh simbol-simbol Islam. Tidak etis apabila sebuah lembaga Islam mengklaim dirinya paling islami ketimbang yang lain. Ketika dengan pola pikir yang melulu simbolis, kemudian orang mempersalahkan lembaga-lembaga yang berlabel non-Islam, terjadilah formalisasi nilai; awal dari degradasi dan manipulasi nilai itu sendiri. ~ Fairouza Nouruzzaman Hasani