Jika Idul Fitri dimaknai sebagai kemenangan, maka kemenangan itu seharusnya juga mencakup upaya melawan bentuk-bentuk ketidakadilan tersebut. Kemenangan tidak hanya diukur dari keberhasilan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga dari keberanian untuk memperjuangkan keadilan sosial. ~ Hamdan Abror, 2026.
-
-
Dengan demikian, pembebasan logika dari mistisisme adalah langkah strategis menuju kemerdekaan intelektual, sosial, dan politik. Logika, sains, dan moralitas harus berjalan seiring untuk membentuk masyarakat yang kritis, rasional, dan beradab. Liberasi intelektual ini bukan sekadar kebutuhan akademik, tetapi kebutuhan mendesak bagi generasi sekarang agar mampu menghadapi tantangan global, menjaga identitas budaya, dan membangun masa depan yang adil dan sejahtera. Masyarakat yang berpikir kritis akan mampu menilai realitas, mengambil keputusan berbasis fakta, dan menciptakan perubahan yang nyata tanpa terperangkap oleh dogma, mistisisme, atau manipulasi ideologis. ~ Hamdan Abror, 2026.
-
Pada akhirnya, konsep Rausyan fikr yang ditawarkan Syari’ati bukanlah status sosial atau identitas eksklusif. Ia adalah komitmen yang terus diperbarui. Komitmen untuk belajar, berpikir kritis, dan berpihak pada mereka yang tertindas. Dalam dunia yang semakin kompleks dan penuh kepentingan, pesan Syari’ati tetap sederhana sekaligus radikal. Intelektual sejati adalah mereka yang menyatukan nalar dan tindakan, pengetahuan dan keberanian, serta agama dan perjuangan kemanusiaan. ~ Hamdan Abror, 2025.
-
Mungkin, krisis hari ini memang harus terjadi. Ia memaksa NU bercermin, menilai dirinya, dan menentukan ulang orientasi zaman. Jika risalah Syuriah adalah alarm, maka konflik ini adalah kesempatan: kesempatan untuk menata ulang hubungan tradisi–modernitas dalam tubuh NU, kesempatan untuk memperjelas batas antara diplomasi dan kompromi, kesempatan untuk menyaring kembali mana yang barakah dan mana yang hanya gemerlap global. ~ Fairouza, 2025.
-
Sejarah panjang dunia Islam menunjukkan bahwa peradaban tidak terbentuk dari keseragaman atau dominasi tunggal, tetapi dari dialog antara berbagai tradisi dan disiplin ilmu. Pada masa keemasan dunia Islam tidak menolak pengaruh luar. Mereka menerjemahkan karya Plato, Aristoteles, Galen, dan ilmuwan India serta Persia ke dalam bahasa Arab. Mereka menggabungkan pendekatan rasional dengan tradisi spiritual. Mereka membuka ruang bagi komunitas minoritas seperti Kristen, Yahudi, dan Zoroastrian untuk berkontribusi pada perkembangan ilmu. Keragaman pengetahuan ini adalah sumber kekuatan yang membuat peradaban Islam meluas dari Spanyol hingga Asia Tengah. ~ Hamdan Abror, 2025.
-
Tidak ada suatu keharusan bagi seorang Muslim untuk memilih lembaga berlabel Islam, mulai dari kelompok arisan sampai kepala negara. Islami atau tidaknya sebuah lembaga bukan diidentifikasiakan oleh simbol-simbol Islam. Tidak etis apabila sebuah lembaga Islam mengklaim dirinya paling islami ketimbang yang lain. Ketika dengan pola pikir yang melulu simbolis, kemudian orang mempersalahkan lembaga-lembaga yang berlabel non-Islam, terjadilah formalisasi nilai; awal dari degradasi dan manipulasi nilai itu sendiri. ~ Fairouza Nouruzzaman Hasani