Buku - Politik - Sejarah Budaya - Sosial - Spiritua

Membaca Akar Kemunduran Dunia Islam: Analisis Historis Berdasar Gagasan Ahmet T Kuru

Sejarah panjang dunia Islam menampilkan satu paradoks yang telah menjadi bahan diskusi banyak intelektual sejak berabad-abad lalu. Pada satu sisi umat Islam pernah membangun peradaban yang menjadi pusat ilmu pengetahuan, perdagangan, dan kreativitas rasional manusia. Pada sisi lain dunia Muslim juga pernah memasuki periode stagnasi intelektual yang berlangsung sangat lama, disertai kemunduran ekonomi dan kemerosotan politik yang membekas hingga abad modern. Pertanyaan mengapa dua fase ekstrem ini terjadi menjadi inti dari penelitian Ahmet T Kuru yang ia tuangkan dalam buku Islam Otoritarianisme dan Ketertinggalan yang terbit pada tahun 2020. Buku ini menjadi salah satu upaya paling sistematis untuk menjelaskan penyebab mendalam dari kemunduran dunia Islam dari perspektif sejarah sosial dan politik.

Kuru memulai kajiannya dengan menegaskan bahwa kemunduran dunia Islam tidak dapat dijelaskan dengan menyalahkan ajaran agama. Ajaran Islam pada masa awal justru membuka ruang besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan, penafsiran kritis, dan interaksi antar peradaban. Namun struktur sosial, ekonomi, dan politik yang berubah selama perjalanan sejarah membuat dunia Islam bergerak menjauh dari tradisi rasionalisme yang pernah menjadi pondasi kejayaannya. Dengan kata lain akar kemunduran bukanlah doktrin, melainkan konfigurasi kekuasaan.

Pada masa awal hingga pertengahan era Abbasiyah antara abad kedelapan hingga abad kesebelas dunia Islam mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Kota-kota seperti Baghdad, Basrah, Damaskus, Kairo, dan Cordoba berkembang menjadi pusat peradaban dunia. Perdagangan internasional dari Samarkand hingga Andalusia berkembang pesat, didukung oleh jaringan pedagang Muslim yang menghubungkan Tiongkok, India, Persia, Afrika Timur, dan Eropa Selatan. Ekonomi berbasis perdagangan moneter membuat kelas pedagang memiliki posisi sosial yang kuat, sekaligus menjadi sumber pendanaan independen bagi para ilmuwan.

Di atas fondasi ekonomi yang dinamis ini tumbuh komunitas intelektual yang luar biasa kaya. Para ilmuwan tidak bergantung pada negara karena mereka memiliki profesi yang mandiri sebagai dokter, pengacara, ahli matematika, atau pedagang. Kebebasan ini memungkinkan berkembangnya tradisi berpikir rasional dan kritis. Pada masa ini muncul tokoh-tokoh seperti Al Farabi yang mengembangkan filsafat politik dan kosmologi yang sangat maju, Al Biruni yang melakukan penelitian astronomi dan geografi dengan pendekatan empiris, serta Ibnu Sina yang menulis ensiklopedia kedokteran berjudul Al Qanun fi al Thibb yang menjadi rujukan di dunia Islam dan Eropa selama ratusan tahun. Keberanian mereka untuk memadukan pengetahuan Yunani, Persia, dan India dengan tradisi intelektual Islam menandai puncak kejayaan intelektual dunia Muslim.

Namun struktur yang menopang masa keemasan itu tidak bertahan lama. Menurut Kuru perubahan besar mulai terjadi pada abad kesebelas ketika kelas militer memperoleh dominasi politik yang semakin kuat. Kekuasaan negara mulai diarahkan untuk menopang stabilitas berbasis kekuatan bersenjata. Pada saat yang sama sistem ekonomi yang sebelumnya berbasis perdagangan moneter bergeser menuju sistem iqta yang menyerupai feodalisme. Negara memberikan tanah kepada para prajurit sebagai bentuk imbalan dan sumber pendapatan. Sistem ini membuat ekonomi perdagangan melemah dan kelas pedagang kehilangan posisi strategisnya.

Perubahan struktur ekonomi dan politik tersebut beriringan dengan perubahan dalam bidang keagamaan. Pada masa ini muncul aliansi antara ulama ortodoks dan penguasa militer. Ulama yang berorientasi konservatif memperoleh dukungan negara untuk menopang posisi mereka sebagai sumber legitimasi moral bagi kekuasaan. Sebaliknya penguasa mendukung penyebaran pandangan keagamaan yang menekankan ketaatan pada otoritas dan mengurangi ruang kebebasan intelektual. Aliansi inilah yang menurut Kuru menyebabkan runtuhnya tradisi rasionalisme yang sebelumnya berkembang subur. Institusi pendidikan beralih dari pusat riset dan perdebatan intelektual menjadi lembaga yang mengedepankan hafalan dan dogmatisme.

Kuru menyoroti bahwa perubahan ini bukanlah proses yang berlangsung tiba-tiba tetapi akumulasi dari dinamika kekuasaan pada masa-masa sebelumnya. Pemikiran rasionalis seperti Mu’tazilah pernah menjadi arus utama pada masa Abbasiyah awal, namun kebijakan politik yang menindas lawan memunculkan reaksi balik yang kemudian dimanfaatkan oleh kelompok ortodoks untuk memperkuat posisi mereka. Ketika aliansi antara negara dan ulama konservatif stabil pada abad kesebelas, ruang bagi kebebasan berpikir semakin menyempit. Para ilmuwan yang sebelumnya menjadi aktor independen dipinggirkan dan digantikan oleh birokrat keagamaan yang lebih tunduk pada kepentingan negara.

Situasi ini kemudian berlanjut pada era kekaisaran besar dalam dunia Islam seperti Ottoman, Safawi, dan Mughal. Ketiga imperium itu memiliki kekuatan militer yang luar biasa dan wilayah yang sangat luas, namun kelemahan mereka terletak pada struktur politik yang terlalu terpusat dan enggan membuka ruang bagi inovasi intelektual. Kuru mencatat bahwa salah satu keputusan historis paling menentukan adalah penolakan terhadap teknologi percetakan pada abad kelima belas. Sementara Eropa memasuki fase revolusi ilmu pengetahuan melalui penyebaran buku yang cepat dan murah, dunia Islam justru mempertahankan proses penyalinan manual karena kekhawatiran bahwa percetakan akan merusak otoritas ulama dan mengancam stabilitas politik.

Penolakan ini membawa dampak besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Di Eropa muncul generasi pemikir seperti Copernicus, Galileo, Descartes, dan Newton, yang karyanya tersebar luas berkat percetakan. Di dunia Islam buku tetap menjadi barang mewah yang sangat terbatas. Perpustakaan memang masih ada, tetapi tidak berkembang dengan kecepatan yang sama dengan institusi pengetahuan di Eropa. Dengan demikian jarak antara dunia Islam dan Barat dalam bidang ilmu pengetahuan semakin melebar.

Kuru menilai bahwa kemunduran ini semakin memperdalam kerentanan dunia Islam ketika Eropa memasuki era kolonial. Dunia Muslim yang sudah lemah secara teknologi dan ekonomi tidak mampu menghadapi agresi kolonial Eropa yang muncul dengan kekuatan militer modern. Kekalahan demi kekalahan dalam peperangan membuka jalan bagi kolonisasi yang meluas di Asia, Timur Tengah, dan Afrika Utara. Sumber daya alam dieksploitasi, struktur politik dimanipulasi, dan model kekuasaan otoriter yang sebelumnya ada diwariskan dalam bentuk baru yang menyesuaikan kepentingan kolonial.

Setelah negara-negara Muslim merdeka pada abad kedua puluh, pola aliansi antara negara, militer, dan ulama konservatif tidak sepenuhnya hilang. Dalam banyak kasus negara mewarisi model pemerintahan kolonial yang menempatkan militer sebagai aktor dominan dalam politik. Ulama konservatif sering dilibatkan untuk memberikan legitimasi moral kepada rezim yang berkuasa. Sementara kelas pedagang dan kaum profesional yang pada masa keemasan menjadi penggerak ekonomi modern tidak kembali memegang peran penting dalam proses pengambilan kebijakan.

Menurut Kuru aliansi modern ini memperpanjang masalah ketertinggalan dunia Muslim. Negara-negara Muslim memiliki sumber daya alam yang melimpah tetapi tidak memiliki struktur ekonomi yang kompetitif. Mereka memiliki tradisi intelektual yang kaya tetapi ruang kebebasan akademik dibatasi oleh rezim politik yang sensitif terhadap kritik. Universitas sering menjadi lembaga administratif yang tidak mendorong riset. Inovasi ekonomi terhambat oleh birokrasi yang mengekang. Banyak negara Muslim berada dalam lingkaran otoritarianisme, konflik internal, dan ketimpangan ekonomi.

Namun Kuru tidak menyerahkan kesimpulan pada pesimisme. Ia menunjukkan bahwa masa keemasan dunia Islam menawarkan pelajaran berharga tentang bagaimana peradaban dapat tumbuh. Pada masa itu kebebasan berpikir dan otonomi intelektual adalah fondasi utama kemajuan. Para ilmuwan tidak dikendalikan oleh negara dan tidak dikungkung oleh dogma sempit. Mereka membuka diri terhadap pengetahuan dari luar dan berani bereksperimen. Perdagangan menjadi tulang punggung ekonomi yang memungkinkan mobilitas sosial dan pendanaan bagi kegiatan ilmiah. Negara tidak menindas keragaman intelektual, tetapi memberikan ruang bagi perdebatan.

Bagi Kuru kunci kebangkitan dunia Islam di abad modern terletak pada rekonstruksi hubungan antara negara, ulama, dan kelas intelektual. Dunia Muslim perlu mengembalikan ruang otonomi bagi para ilmuwan dan profesional. Mereka harus diberi kebebasan untuk meneliti, mengkritik, dan mencipta tanpa tekanan politik atau sensor agama. Pada saat yang sama ekonomi harus dibangun dengan mendorong sektor perdagangan dan inovasi industri, bukan hanya bergantung pada sumber daya alam atau proyek besar yang dikelola negara. Reformasi politik untuk memperluas partisipasi publik sangat penting agar otoritarianisme tidak terus mematikan potensi kreativitas sosial.

Melalui analisis historis yang luas Kuru mengajak pembaca memahami bahwa kemunduran bukanlah takdir. Ia adalah produk dari pilihan politik, struktur sosial, dan kebijakan ekonomi yang bisa diubah jika ada kehendak kolektif. Dunia Islam memiliki modal sejarah yang sangat besar. Tradisi ilmiah yang pernah tumbuh pada masa keemasan dapat menjadi inspirasi untuk membangun kembali sistem pengetahuan yang terbuka dan kreatif. Tantangan utamanya adalah mengatasi jebakan otoritarianisme yang masih mengakar pada banyak negara dan mengembalikan kelas intelektual pada posisi strategis yang pernah mereka miliki.

Sejarah panjang dunia Islam menunjukkan bahwa peradaban tidak terbentuk dari keseragaman atau dominasi tunggal, tetapi dari dialog antara berbagai tradisi dan disiplin ilmu. Pada masa keemasan dunia Islam tidak menolak pengaruh luar. Mereka menerjemahkan karya Plato, Aristoteles, Galen, dan ilmuwan India serta Persia ke dalam bahasa Arab. Mereka menggabungkan pendekatan rasional dengan tradisi spiritual. Mereka membuka ruang bagi komunitas minoritas seperti Kristen, Yahudi, dan Zoroastrian untuk berkontribusi pada perkembangan ilmu. Keragaman pengetahuan ini adalah sumber kekuatan yang membuat peradaban Islam meluas dari Spanyol hingga Asia Tengah.

Kekuatan itu memudar ketika ruang dialog menjadi sempit. Ketika negara dan ulama ortodoks memonopoli tafsir agama, kreativitas intelektual terkunci. Ketika ekonomi bergantung pada feodalisme atau rente sumber daya, inovasi berhenti. Ketika militer menjadi pusat kekuasaan, politik berubah menjadi arena kekuatan keras yang menekan suara kritis. Kuru menunjukkan bahwa kemunduran adalah hasil dari penutupan ruang. Dan kebangkitan hanya mungkin jika ruang itu kembali dibuka.

Dari perspektif ilmiah populer gagasan Kuru memberi pembaca peta historis yang sangat jelas tentang bagaimana peradaban bekerja. Peradaban tidak ditentukan oleh identitas agama semata tetapi oleh struktur sosial yang mendukung atau menghambat perkembangan ilmu, ekonomi, dan politik. Ketika kelas intelektual diberi kebebasan, ketika pedagang berperan dalam ekonomi, ketika negara tidak memonopoli pengetahuan, peradaban bergerak maju. Ketika tiga hal itu dimatikan, stagnasi menjadi tak terelakkan.

Karya Kuru pada akhirnya mengingatkan bahwa dunia Muslim memiliki masa lalu yang dapat menjadi titik berangkat untuk masa depan. Kebangkitan tidak akan lahir dari romantisme sejarah atau retorika kejayaan. Ia hanya akan lahir jika nilai-nilai yang pernah membuat dunia Islam berjaya dihidupkan kembali dalam bentuk yang sesuai dengan era kontemporer. Dunia tidak menunggu. Revolusi teknologi, ekonomi digital, dan transformasi sosial berkembang dengan cepat. Dunia Islam hanya dapat mengejar ketertinggalan jika memilih jalan yang pernah membawa mereka menjadi pusat peradaban: jalan kebebasan intelektual, jalan ilmu pengetahuan, dan jalan keberanian untuk melakukan perubahan struktural.

Kebangkitan bukanlah mimpi. Ia adalah pilihan historis yang perlu diwujudkan melalui keberanian politik, pembaruan pemikiran, dan komitmen terhadap ilmu pengetahuan. Kuru mengajak dunia Muslim untuk tidak terjebak dalam nostalgia atau menyalahkan masa lalu. Ia mengajak melihat sejarah dengan jernih, memahami akar masalahnya, dan mengambil pelajaran tentang bagaimana peradaban dibangun. Masa depan dunia Islam bergantung pada apakah mereka berani membuka kembali pintu yang pernah membawa mereka pada puncak kejayaan.

 

***

___________________________

Tentang Penulis:

Hamdan Abror. Cendekiawan asal Banjarnegara yang hijrah menuntut ilmu sejak 2015 dan kuliah Unsiq Wonosobo. Berprofesi sebagai Jurnalis. Kegemarannya menulis di kedai kopi tentang desa yang dilupakan, janji politik yang basi, dan kemarahan yang diredam. Ia masih aktif di PMII Jateng dan aksi-aksi lokal. Karyanya “Boleh Marah Zine” terbit 2025 dan beberapa pemikirannya bisa dibaca di medium.com/@hamdanabror_ atau tengok dia di instagram @hamdanabror_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *