Buku - Politik - Sastra - Sospol

Belajar Politik dari Novel Animal Farm

Animal Farm merupakan sebuah novel klasik yang ditulis oleh George Orwell (terbit 17 Agustus 1945) dan diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Prof Bakdi Soemanto. Novel ini menceritakan kehidupan binatang di Peternakan Manor dengan latar negara Inggris. Animal Farm telah mendapatkan dua penghargaan pada tahun 1996 (Retro Hugo Award for Best Novella) dan 2011 (Prometheus Hall of Fame Award). Tokoh utama dari Animal Farm adalah dua babi bernama Napoleon dan Snowball. Mereka berhasil memimpin pemberontakan sehingga semua hewan di Peternakan Manor dapat merdeka. Pasca pemberontakan, Peternakan Manor tidak lagi dipimpin oleh manusia tapi oleh binatang yang dianggap paling cerdas di antara mereka yaitu babi. Meskipun menggunakan tokoh binatang, namun terdapat beberapa hal yang dapat digunakan sebagai bahan refleksi bagi kita sebagai warga negara.

Makna Sebuah Kebebasan

Ide pemberontakan diawali dari mimpi seekor babi tua bernama Major. Ia menyampaikan kepada semua binatang ternak untuk memperjuangkan kebebasan, mempunyai kuasa atas dirinya sendiri. Terdengar menarik ya? Semua binatang setuju dengan ide pemberontakan dan akhirnya saat itu tiba. Pemberontakan terjadi di bawah pimpinan Napoleon dan Snowball. Para binatang ternak sangat antusias dengan kemerdekaan yang mereka dapatkan. Mereka berpikir bahwa kehidupan akan lebih sejahtera karena tidak lagi berada di bawah tirani. Pada awal kepemimpinan Snowball dibuatlah “Undang-Undang” yang harus dipatuhi semua binatang. Ia juga menekankan bahwa semua binatang berada pada strata yang sama. Perbedaan cara pandang menjadi salah satu sebab terjadinya perebutan kekuasaan secara manipulatif oleh Napoleon. Selama masa kekuasaannya, ia mengubah beberapa “Undang-Undang” yang bertolak pada kepentingan kelompok yaitu para babi. Jatah ransum para binatang juga semakin berkurang sementara pekerjaan mereka semakin berat. Ironisnya, para binatang tak pernah sadar para mereka tertindas oleh bangsa sendiri. Mereka selalu merasa lebih baik atas nama kemerdekaan. Para binatang memang merdeka dari manusia, tapi kemerdekaan itu tak pernah sejati meskipun dipimpin bangsa sendiri.

Kebodohan yang Dipelihara

Mengapa perubahan “Undang-Undang” itu secara sepihak tidak menimbulkan aksi protes? Ternyata para binatang ternak ini dilingkupi kebodohan. Mereka tidak dapat membaca, kecuali babi dan seekor keledai tua (yang cenderung tidak dipercaya karena reputasinya yang terlanjur buruk). Para babi sengaja memelihara kebodohan sehingga para binatang bisa dengan mudah diperdaya. Sekolah hanya dibangun untuk anak-anak babi. Binatang lain membantu membangun sekolah, tapi tidak ada diantara mereka yang mendapatkan kesempatan bersekolah. Sekolah hanya untuk mereka yang berkuasa atau binatang yang dekat dengan lingkaran kekuasaan. Rakyat jelata? Jangan berharap lebih. Para babi memang tidak menginginkan binatang ternak menjadi pintar dan “mampu berpikir”. Para babi takut, jika binatang-binatang itu menjadi pintar membuat kekuasaan mereka di ujung tanduk.

Eksistensi melalui Pencitraan

Dalam politik, terkadang sesuatu yang busuk dapat dibungkus dengan cantik melalui pencitraan. Di masa sekarang, pemimpin membutuhkan bantuan buzzer maupun influencer untuk membuat citra positif sehingga mendapatkan elektabilitas tinggi di mata publik. Dalam buku Animal Farm, tokoh vokal yang membantu pencitraan Napoleon sang pemimpin adalah Whymper. Ia bertugas menyebarkan berita positif tentang Napoleon. Hal yang secara logika menyimpang (misalnya mengubah undang-undang secara sepihak, mengurangi hak rakyat, ingkar janji) dibalut dalam kalimat manis. Kalimat Squealer mencitrakan betapa berjasanya Napoleon dalam mewujudkan kesejahteraan binatang Peternakan. Padahal semua itu hanya fatamorgana. Napoleon dan antek-anteknya tidak seperti yang dicitrakan Whymper, terbukti dari berat badan Napoleon yang semakin bertambah.

Sejarah yang Dipelintir

Awal novel menceritakan tentang tentang asal muasal pemberontakan dan bagaimana Peternakan Binatang dibangun bersama. Pada awalnya semua aturan, tradisi, bahkan pembiasaan (misalnya menyanyikan lagu Binatang Inggris) dilakukan demi pemerataan. Sama rasa, sama strata. Sejak pemerintahan Napoleon, banyak aturan, tradisi dan undang-undang yang diubah, bahkan sejarah dipelintir. Salah satu sejarah yang dipelintir adalah jasa Snowball dalam Perang Kandang Sapi. Waktu itu Snowball mendapatkan tanda jasa karena berhasil mengusir Pak Jones dan kawan-kawan, dengan luka parah di sekujur tubuhnya. Napoleon memanfaatkan kesempatan itu, berdebat dengan Snowball, menggigit kakinya sehingga Snowball pergi dari Peternakan Binatang. Semakin bertambah tahun, Napoleon membelokkan fakta. Ia mengatakan bahwa Snowball pergi untuk bekerjasama dengan manusia demi merebut kembali Peternakan Binatang. Ia juga mencabut tanda jasa Snowball dan memindahkan tanda jasa itu untuk dirinya sendiri. Binatang lain tak begitu ingat dengan apa yang terjadi pada perang Kandang Sapi. Pelintiran sejarah oleh Napoleon tidak terasa ikut meracuni pikiran para binatang sehingga hampir semua binatang menganggap Snowball buruk. Agaknya benar bahwa sejarah dilanggengkan oleh pemenang.

Pada akhirnya, saya menemukan satu kalimat menggelitik: Makhluk-makhluk di luar memandang dari babi ke manusia dan dari manusia ke babi lagi; tetapi mustahil mengatakan mana yang satu, mana yang lainnya. Babi dan manusia terlihat sama saja. Demikianlah politik praktis berjalan, terlalu banyak area abu-abu. Keserakahan, ego, dan aji mumpung oleh penguasa adalah perpaduan sempurna sistem pemerintahan yang gagal. Mereka sengaja menciptakan sistem untuk melindungi diri sendiri atas kekuasaan yang membuai. Rakyat jelata tak akan bangkit jika hanya pasrah. Kita hanya perlu saling rangkul, menguatkan, bersatu untuk saling menjaga. Mengkritisi yang tak sesuai. Mendukung kebijakan yang mensejahterakan.

***

 

 

_________________________

Tentang Penulis

Desty Putri Hanifah, seorang akademisi dan penulis asal Temanggung. Menyelesaikan pendidikan S1 PGSD dan S2 Pendidikan Dasar Konsentrasi IPA di Universitas Negeri Semarang. Aktif sebagai Dosen PGMI di Universitas Sains Al Qur’an sejak 2018. Desty telah menghasilkan 27 buku, mulai dari antologi, book chapter, hingga buku referensi. Karya-karyanya meliputi tema pendidikan, cerita anak, pengembangan diri, hingga spiritualitas, dari 2018 hingga 2023. Prestasi terbarunya termasuk menjadi Juara 3 Naskah Cerita Anak Tema Kearifan Lokal dari SIP Publishing dan terpilih sebagai 11 Paper Terpilih Policy Forum of Education dari Tanoto Foundation 2023.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *