Buku - Pergerakan - Sastra

Reset Indonesia, Buku yang Membantu Menata Kebijakan, Mulai dari Cara Pikir

Kata-kata Yusuf Priambodo dalam Epilog: Rumah yang Ingin Saya Bangun, mencuat dari kertas di halaman 418 dan menampar keras, khususnya untuk generasinya, termasuk saya. Yusuf, seorang Gen Y yang turut dalam ekspedisi setahun bersama Farid gaban, Dandhy Laksono dan Benaya Harobu menjlentrehkan keresahannya akan dunia, khususnya Indonesia yang akan dihuni putranya, Hiro. Menjawab pertanyaan-pertanyaan besar yang ia susun sepanjang hayat, Yusuf sampai pada kesimpulan menarik perihal “apa yang harus kita perbuat.”

Muara persoalan yang kita hadapi hari ini, bersumber dari paradigma atau kerangka berfikir yang kacau. Generasi muda kita dibesarkan dalam sistem yang terlalu fokus pada angka, gelar, dan status sosial. Namun lupa diajarkan cara berpikir kritis, membedakan hal yang paling penting, krusial, dan mendesak. Apalagi memahami bahwa hidup tak selalu tentang siapa yang paling cepat sampai garis finish.

Kita diajarkan untuk mengejar pengakuan (validasi) bukan pencarian makna. Kita dipacu menjadi “orang sukses,” tapi lupa bertanya: sukses yang seperti apa?

Kutipan itu saya dapatkan di buku baru yang kebetulan saya kenal para penulisnya. Bagi saya, mereka orang-orang baik. Buku Reset Indonesia: Gagasan tentang Indonesia Baru sampai di tangan saya pada 7 Oktober 2025 dan mungkin buku pertama yang tiba di Wonosobo, tanah kelahiran Farid Gaban. Ia adalah salah satu penggagas ekspedisi Indonesia Baru, sosok yang saya kenal sekitar tahun 2013-14. Sebenarnya saya tahu sosok mas Farid dari beberapa acara yang saya ikuti, kebanyakan di talkshow. Waktu itu ia dikenal sebagai eks redaktur Republika dan telah melakukan penjelajahan “Zamrud Khatulistiwa” (2010). Jauh sebelumnya, ia adalah jurnalis Indonesia yang meliput perang Bosnia (awal 90-an).

Ketika saya bertamu ke kediamannya, saya melihat motor yang dikendarainya digantung di dinding, sementara mas Farid sedang meriang. Tapi ia masih sempatkan bercerita tentang buku barunya “Indonesia: Jantung Terumbu Karang Dunia (2011)” hasil dari ekspedisinya. Di awal perkenalan saya disuguhkan banyak kisah menarik tentang penyelaman dan memotret di dalam laut. Yang membuat saya terpantik adalah bagaimana seorang jurnalis yang tidak muda lagi memutuskan berkelana lalu menyusun karya. Sementara banyak rekan jurnalis lain yang seumurannya memilih untuk banting setir menjadi komisioner di KPU atau Bawaslu. Sementara lainnya memilih menjadi pengusaha. 

Pertemanan kami pun berlanjut akibat dari banyak kegiatan bersama di Wonosobo, salah satunya di beberapa gerakan lingkungan sampai Dewan Riset Daerah (2019). Berselang 9 tahun dari perkenalan pertama itu, saya dikabari mas Farid akan ada hal besar lain yang dikerjakannya di 2022. Waktu itu, covid belum benar-benar usai, kondisi politik, utamanya pergerakan aktivis masih cukup panas ketika kisruh Omni Bus Law. Tak lama kemudian, saya dikenalkan dengan Dandhy dan beberapa teman-teman yang pada akhirnya tergabung dalam Ekspedisi Indonesia Baru. Kami melihat empat motor supra X yang akan mereka tunggangi dan membayangkan mesin itu menderu di pelosok-pelosok desa yang tak terjangkau sinyal 4G. 

Pada 1 Juli 2022, saya turut meliput pelepasan di Alun-alun kota, saat itu juga saya berkenalan dengan Yusuf dan Benaya, dua anggota muda yang terpilih dari seleksi ketat sebelumnya. Firasat saya ternyata benar, setelah mereka pulang beberapa film dirilis dan gong-nya adalah buku Reset Indonesia yang tebalnya 448 halaman. Isinya tentu sangat kompleks dan tidak akan selesai dibaca satu kali duduk. Latar belakang keempatnya yang merupakan jurnalis menjadikan buku itu semacam reportase, feature, plus esai yang merangkum perjalanan mata fisik dan batin selama setahun berkelana.

Sudut pandang dari tiga generasi menjadikan judul-judul yang diangkat di buku ini sangat ramah dengan segmen pembaca. Jika disarikan dalam sedikit kata, buku ini mungkin berisi keresahan dan jawaban. Tentunya keempat penulis bukanlah ahli di banyak bidang, namun pengalaman mereka memberikan akses untuk mendapatkan informasi terkait masalah yang mereka lihat secara langsung.

Kekuatan terbesar dari buku ini, menurut saya bukanlah dari kelengkapan data baik berupa angka hingga testimoni di lapangan, tapi niat di belakang empat pengelana itu. Dari awal perkenalan, jauh sebelum ekspedisi, saya sempat bertanya pada mas Farid soal “imbalan” yang akan mereka peroleh dengan melakoni jerih payah setahun penuh itu. Bagi saya yang masih ber-mindset untung rugi, uang adalah hasil paling masuk akal dari semua pekerjaan. Namun mereka menyebut jika memang tidak ada sponsor, perjalanan tetap akan dilakukan, mengingat mereka sudah menabung secara pribadi untuk ekspedisi. Sehingga hasil dari perjalanan itu ada di tangan mereka, bukan menjadi agenda besar dari sebuah entitas, sebut saja korporasi atau tokoh. Buktinya, dokumentasi berupa foto dan video telah dipublikasikan dalam puluhan karya dokumenter di kanal youtube. Selain itu, ratusan event offline juga telah digelar, termasuk beberapa kali di Wonosobo, terhitung 4 kali yang saya ikuti.

Ngomong-ngomong, perjalanan mereka berempat selama 424 hari dengan jarak 11.000 kilometer, melintasi 26 provinsi dan 120 kota dikisahkan dalam buku ini, berikut dengan kesulitan-kesulitan yang mereka temui. Jangan berharap menemukan kisah-kisah yang dipulas dengan gaya bahasa advertorial atau mengiklankan suatu daerah. Buku ini saya sebut sebagai tradisi para jurnalis yang hampir punah. Yakni menuturkan kembali apa yang mereka peroleh di sepanjang perjalanan. Mengingat isinya tak melulu soal hal-hal baru, tapi ada banyak refleksi dari beberapa dekade sebelumnya, tentunya sebagai konteks kejadian dan kondisi yang mereka temui hari ini.

Sebut saja soal masalah bekas tambang, kereta api, kelangsungan air, buku resep bung Karno, Jokowi, hingga seabreg masalah yang solusinya sebenarnya ada di depan mata. Beberapa mereka contohkan dengan praktik dari negara lain, hingga praktik yang sudah dilakoni di Nusantara sendiri, khususnya di desa-desa. Sebenarnya, “Reset Indonesia” baru akan kita temukan di Bab VI. di sana penulis banyak menyinggung soal politik, khususnya soal pemilu dan demokrasi. Bagaimana praktik yang melangit itu tidak serta-merta menjadi bentuk ideal di akar rumput, hingga peran buruk polisi dan militer dalam praktik demokrasi. Dalam bab yang seakan tak banyak cahaya itu, ada beberapa hal menarik seperti di tulisan “Desa adalah Kunci” yang mengingatkan kembali betapa berharga sekaligus rapuh-nya desa saat ini.

Terakhir, kesan saya membaca Reset Indonesia adalah seperti sedang berkenalan lagi dengan negeri yang saya tempati hampir 40 tahun ini, tentunya dengan kacamata yang baru. Mirip dengan kegemaran saya menelisik catatan-catatan dari para penjelajah belanda di tahun 1800-1900-an yang banyak saya kutip dalam buku. Keempat lelaki itu sebenarnya manusia biasa yang kebetulan mencintai negaranya dengan cara yang mungkin tak biasa.

Sederhananya, mereka merekam apa yang mereka dapatkan di sepanjang jalan dengan maksud yang baik. Membawa para pembacanya turut mendengar suara-suara yang teredam hiruk-pikuk pencitraan dan kilau media sosial. Kita diajak menyusuri setapak dengan belukar yang enggan dijelajahi mereka yang hanya berkutat di jalan-jalan aspal, padahal kisah-kisah yang ditimba di sana jauh lebih indah. Saya yakin, buku ini masih akan relevan 100 tahun mendatang, jika tidak ada perubahan yang berarti. Mengingat banyak catatan pemerintah Hindia Belanda yang saya baca juga masih relevan hingga saat ini. Artinya, dalam 200 tahun terakhir, Indonesia masih belum benar-benar berubah. Maka, kita masih butuh buku-buku lain seperti Reset Indonesia ini.

***

 

____________________

Tentang Penulis:

ERWIN Abdillah. Tinggal di Wonosobo dan mengakrabi wilayah lereng Sindoro-Sumbing sejak belia. Pernah berkuliah di UNY. Berprofesi sebagai jurnalis sejak 2014 (Grup Jawa Pos -2021 dan Pikiran Rakyat 2021-2025). Penulis Buku: “Empat Abad Wonosobo: Narasi Sejarah dari Dokumen Hindia Belanda, Serat dan Babad” 2025. Beberapa catatan  ada di: medium.com/@erwinabcd | erwin.abdillah@gmail.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *