Beberapa tahun yang lalu, sang ahli filsafat yang sangat terkenal asal Indonesia bernama Rocky Gerung menyebutkan istilah cassandra complex, suatu istilah dalam dunia psikologi ketika seseorang berbicara menggunakan beragam data tetapi tidak dipercaya. Sebagai tambahan, Tom Nichols dalam buku yang terkenal berjudul Matinya Kepakaran mengingatkan fenomena modern kematian kepakaran yang kalah oleh popularitas. Tentu, kita patut untuk was-was dengan fenomena kekalahan para pakar dengan para influencer di media sosial yang memiliki pengikut jutaan, memiliki akses pengetahuan terbatas hingga tidak berwenang secara ilmiah untuk menyatakan suatu pernyataan ilmiah justru lebih banyak dipercaya sebagai sebuah kebenaran ketimbang para intelektual yang ahli dalam bidangnya.
Sebelum menyalahkan era media sosial, menyalahkan berbagai macam konspirasi yang beredar di media sosial dan menyalahkan banalitas masyarakat yang tidak sabar untuk mendengarkan penjelasan para ahli. Sebenarnya salah satu kesalahan terbesarnya adalah karena para intelektual bersifat eksklusif dalam segi komunikasi, seolah-olah menciptakan “kode morse” bagi mereka sendiri dan berharap orang diluar kelompok memahami “kode morse” ciptaan mereka. Padahal, para intelektual juga memahami bahasa publik di luar lingkaran eksklusif tetapi masih memilih untuk menggunakan “bahasa-bahasa morse” yang mereka ciptakan sendiri.
Para intelektual secara tidak sadar menciptakan siklus kebebalan yang masif pada masyarakat dengan kepercayaan secara tidak langsung mengenai pertumbuhan literasi hanya dimungkinkan apabila masyarakat mendapatkan pola komunikasi pengajaran yang sama dengan rekan sejawat intelektual. Padahal, pola komunikasi yang terjadi dalam masyarakat jauh lebih sederhana ketimbang yang terjadi dalam perdebatan intelektual. Akibatnya, masyarakat lebih memilih opsi informasi yang jauh lebih mudah dipahami ketimbang informasi dari para intelektual. Terjadilah siklus ketidakpahaman masyarakat terhadap informasi ahli, sementara ahli lebih sibuk dalam dunianya sendiri dan tidak sadar bahwa pola komunikasinya bermasalah.
Pernyataan sepihak secara tidak sadar dari kalangan intelektual bahwa pengetahuan masyarakat memiliki batas literasi yang sama dengan mereka menyebabkan penggunaan kata-kata ilmiah yang kurang akrab di telinga masyarakat. Informasi dari para ahli dinilai membosankan dan tidak menyentuh fakta di lapangan. Para intelektual pada ujungnya menyerah dengan kondisi masyarakat, tanpa sadar bahwa pesan dalam komunikasi yang disampaikan memang tidak pernah sampai ke masyarakat karena kesenjangan pengetahuan. Jika yang terjadi demikian, maka masyarakat tidak bertumbuh secara pengetahuan sementara para ahli justru merasa sudah tuntas melaksanakan tugasnya.
Masyarakat dinilai sebagai objek pengetahuan yang sekadar layak untuk menerima informasi tanpa melihat bahwa sejatinya masyarakat adalah subjek hidup yang layak untuk diajak berdialog. Para intelektual terjebak pada pandangan bahwa masyarakat hanya menerima produk pengetahuan dari mereka, bahkan lebih buruk lagi menganggap bahwa masyarakat adalah golongan yang tidak tercerahkan sehingga membutuhkan dalil-dalil ilmiah untuk membantu masyarakat mencapai tatanan masyarakat tercerahkan. Padahal, masyarakat adalah subjek hidup yang lengkap dengan dinamika kepercayaan, adat istiadat, kebiasaan dan cara berpikir yang sudah bertahan selama ratusan tahun.
Pemahaman literasi yang tidak ditunjang oleh pemahaman bahwa literasi hanya dimungkinkan apabila ada komunikasi diantara subjek yang hidup membuat pola komunikasi para intelektual bermasalah. Dialog diwajibkan dalam literasi sehingga memunculkan pemahaman yang sama di antara subjek yang hidup. Tetapi oleh sebagian besar intelektual, literasi hanya dianggap sebagai pola komunikasi satu arah, tercermin dan dibuktikan dari penggunaan istilah ilmiah yang tidak dipahami masyarakat hingga cara pandang intelektual terhadap masyarakat yang dianggap belum tercerahkan tanpa pernah memahami bahwa pola komunikasi yang dilakukan harus berbeda dalam menghadapi setiap ketimpangan literasi.
Pada akhirnya, peran dialog dalam lingkup literasi diperlukan secara penuh untuk mengatasi fenomena matinya kepakaran. Para intelektual dapat mengembangkan dirinya secara eksklusif melalui metode ilmiah yang tidak dikenal publik, tetapi bersifat inklusif dalam proses komunikasi sehingga mampu dipahami oleh publik secara luas. Ketat didalam lingkaran, tetapi luwes ketika diluar. Dan, pemikiran bahwa literasi dapat tumbuh dengan sendirinya tanpa melalui pola yang inklusif harus dikikis habis sehingga masyarakat semakin dekat dengan lingkaran eksklusif kaum intelektual dan pada akhirnya lebur menjadi tanpa sekat yang memisahkan.
***
__________________
Penulis:
Yoga Aditya L. Lulusan Filsafat UGM yang sering membuat tulisan kritik sosial dengan cara-cara tak biasa, mengajak kita berefleksi dan tersenyum bahwa masalah ada di dalam area kehidupan sedang menyapa halus.



