Marsinah tidak pernah tercatat dalam buku sejarah (baca: yang diajarkan di sekolah). Namun namanya terus hidup bergema di jalanan yang tumpah ruah oleh demonstran, di sudut warung kopi yang tak habis di bicarakan, juga di balik tembok pabrik yang sering retak karena ketidakadilan. Kita semua mendengar bagaimana ia meregang nyawa dalam kengerian nan brutal, di bunuh bukan hanya karena ia perempuan, tapi karena ia lantang dalam berjuang.
Kemudian layaknya badai tanpa peringatan, hari ini kita menyaksikan sebuah anomali. Tentang bagaimana negara dengan serampangan mencoba menghapus ingatan rakyat atas kejahatan yang telah dilakukan. Siapa yang bersalah dalam kematian marsinah? Perusahaan? Aparat? Atau mungkin negara itu sendiri? Bagaimana jika sistem yang menjadi pelaku utama? Lantas, siapa yang menggerakkannya?
Pada 3 Mei 1993, mogok kerja dilakukan oleh buruh PT Catur Putra Surya (CPS) dengan 12 tuntutan, diantaranya berupa kenaikan upah sesuai edaran gubernur dan pemenuhan hak-hak buruh. Dua hari setelahnya tepatnya tanggal 5 Mei 1993, aparat menggiring 13 buruh ke markas KORAMIL 0816 Sidoarjo dengan tuduhan sebagai “penghasut.” Mereka dipaksa untuk mengundurkan diri dari PT CPS.
Sehari berselang, Marsinah mencoba mencari keterangan mengapa rekan-rekannya diseret ke KORAMIL, nahasnya keberaniannya dalam memperjuangkan hak dan rekan-rekannya justru menjadi akhir hidup yang mengenaskan. Pada tanggal 9 Mei Jasadnya ditemukan di hutan Wilangan, Nganjuk, Jawa Timur. Tragisnya lagi, kasusnya tidak pernah benar-benar selesai.
Kini, mari kita anulir kebebalan pemerintah dalam menyematkan tanda jasa pahlawan kepada penggerak sistem yang telah membunuh Marsinah. Sistem yang membiarkan tubuhnya mati kedinginan dengan banyak luka menganga. Ia adalah Soeharto, yang melalui pemerintahannya pada masa Orde Baru mengukuhkan Dwi Fungsi ABRI dengan dalih stabilitas dan keamanan negara. Namun apa yang coba kita lihat dalam sudut pandang patriarki-kapitalistik adalah usaha untuk menjaga kepentingan kelas pemilik modal maupun oligarki dengan memperbesar tekanan sosial melalui dominasi, kontrol dan penaklukan, ciri khas logika maskulin.
Jika menguji kerangka pemikiran Vandana Shiva, maka secara sederhana dapat dikatakan bahwa negara bersekongkol dengan pemilik modal demi mempertahankan kekuasaan dan tatanan kapitalistik patriarkal. Melalui teori yang dikembangkan oleh Silvia Federrici, pembunuhan Marsinah bukan hanya bentuk kekerasan terhadap Perempuan semata, namun juga alat politik yang digunakan untuk mempertahankan relasi produksi. Keberaniannya dalam melawan ketidakadilan berhasil menggoyahkan ruang aman para kapital, dan karena ia dianggap mengganggu keteraturan ekonomi yang bergantung pada ketundukan buruh.
Lebih dari itu, Federici juga menyebutkan tentang primitive accumulation dalam bukunya, Caliban And The Witch yang dapat dimaknai sebagai bentuk kekerasan yang dilembagakan oleh negara sebagai pelindung kapitalisme. Di mana kekuasaan ekonomi baru dibangun lewat perampasan, tenaga, dan tubuh manusia. Pembunuhan Marsinah dalam bingkai Federici dapat disebut sebagai bentuk paling mutakhir dari perburuan penyihir.
Lantas, apa dosa Soeharto terhadap kematian Marsinah? Ia adalah penggerak system yang memberikan otoritas penuh bagi Militer untuk memberangus siapapun yang di anggap bisa memicu ledakan sosial dan membangkitkan suara-suara rakyat. Akibatnya, militer tidak hanya menjadi alat pertahanan negara namun juga pengendalian masyarakat sipil termasuk buruh dan Perempuan. Dalam masa pemerintahannya, Soeharto memfokuskan kegiatan ekonomi kedalam industrialisasi padat karya yang sangat bergantung terhadap tenaga kerja perempuan dengan upah murah.
Militerisme maskulin dan femisida politik kemudian menjadi ciri khas pemerintahannya yang tidak hanya kotor namun juga penuh dengan budaya penjagalan. Soeharto adalah perancang system yang melahirkan kekerasan struktural terhadap buruh Perempuan, sehingga ketika hari ini negara mengukuhkan keduanya sebagai “Pahlawan Nasional,” pemandangan itu menjadi bentuk nyata anomali politik rekonsiliasi sejarah yang kembali membuka luka lama.
Selayaknya apa yang di tulis Nietzsche dalam bukunya Beyond Good And Evil (1886) tentang kontradiksi moral. Ia menyebut “He who despises himself still respects himself as one who despises.” Negara ini berpura-pura menyesali dan menyembuhkan luka dengan tiba-tiba mengenang Marsinah (sebagai pahlawan nasional), namun terus menjilat nilai yang sama: kekuasaan, militerisme, penindasan yang lahir dari logika patriariki kapitalistik, dengan menyematkan gelar pahlawan kepada dalang kekerasan terhadap perempuan: Soeharto.
***
_____________________________
Tentang penulis
Nabila Dwi Febriyanti, lahir di wonosobo, 12 februari 1998. Hari ini menjadi buruh perempuan yang berusaha tetap sadar untuk bersosial bukan hanya bekerja.



