Lantas, apa dosa Soeharto terhadap kematian Marsinah? Ia adalah penggerak system yang memberikan otoritas penuh bagi Militer untuk memberangus siapapun yang di anggap bisa memicu ledakan sosial dan membangkitkan suara-suara rakyat. Akibatnya, militer tidak hanya menjadi alat pertahanan negara namun juga pengendalian masyarakat sipil termasuk buruh dan Perempuan. Dalam masa pemerintahannya, Soeharto memfokuskan kegiatan ekonomi kedalam industrialisasi padat karya yang sangat bergantung terhadap tenaga kerja perempuan dengan upah murah. ~ Nabila Dwi Febriyanti, 2025.
-
-
Kesamaan pola antara Soeharto dan Fir’aun menunjukkan bahwa wacana pemuliaan Soeharto bukan hanya salah secara politik, tetapi juga bertentangan dengan prinsip-prinsip yang diajarkan Al-Qur’an. Teks suci itu dengan tegas memperingatkan umat manusia untuk tidak tunduk kepada tirani, apalagi mengagungkannya. Namun ironisnya, hingga saat ini sebagian besar organisasi keagamaan tidak menunjukkan sikap kritis terhadap penganugerahan tersebut. Diamnya mereka menunjukkan bahwa slogan-slogan keadilan yang sering dikutip belum menjelma menjadi keberanian moral. ~Hamdan Abror, 2025.
-
Romantisme terhadap Soeharto adalah cerminan kelelahan masyarakat kita sendiri. Kita muak dengan politik yang gaduh, elite yang saling berebut kursi, dan janji reformasi yang tak kunjung menyejahterakan rakyat. Dalam kelelahan itu, figur Soeharto tampak seperti “bapak” yang sederhana dan tegas—padahal di baliknya, ada sejarah panjang pembungkaman dan pemusatan kebenaran. Mengagumi tanpa mengingat luka adalah bentuk lain dari amnesia moral. ~Fairouza, 2025.
-
Bagian 4 dari Seri Pergerakan di Indonesia: Mimpi Pembebasan Diri dan Bangsa dari Imperialisme. Sebelum Soeharto menyatakan berhenti sebagai presiden, beberapa rentetan kejadian hampir sama dengan pola yang terjadi pada 1965-1966, namun kali ini subjeknya adalah Soeharto sendiri. 21 Mei 1998 Soeharto menyatakan mundur tepat pada 9.05 WIB soeharto resmi menyatakan berhenti sebagai presiden dan wapres Habibie dilantik gantikan Soeharto. Sisanya adalah Sejarah yang kita tahu. Pengulangan lain seperti peristiwa Semanggi 1 dan 2. Lalu 27 tahun kemudian kita masih melihat langsung peristiwa stadion Kanjuruhan hingga tragedi terbunuhnya Affan (Agustus 2025). ~ Erwin Abdillah, Pengulangan Metode & Peristiwa kunci Reformasi ‘98.
-
Memberinya gelar pahlawan bukan penghormatan; itu penghinaan terhadap korban, sejarah, dan nurani bangsa. Soeharto bukan pahlawan, ia simbol kegagalan moral. Memberikan kehormatan itu sama saja menormalisasi pembantaian, represi, dan korupsi, mengajarkan generasi bahwa penindasan bisa dibenarkan. Bangsa yang masih mempertimbangkan ide ini kehilangan kompas moralnya dan mengkhianati masa depan rakyatnya sendiri. ~ Seteguk Kopi Terakhir di Ngopi Imajiner Abror