Perdebatan mengenai masalah di tubuh Nahdlatul Ulama seringkali terjebak pada cara pandang luar dan cara pandang dalam. Cara pandang luar dianggap sebagai cara pandang yang terlalu terjebak pada sentimen negatif netizen, sementara cara pandang dalam sering dianggap sebagai cara pandang yang tidak netral. Tetapi, penulis merasa beruntung karena menemukan tulisan berjudul “NU di Simpang Kekuasaan: Ketika Risalah Syuriah Membelah Jalan Jam’iyah” yang ditulis oleh Fairouza Nouruzzaman Hasani. Sebuah tulisan yang cukup berhasil menangkap masalah dan memberikan perspektif yang dibutuhkan untuk membaca situasi yang terjadi.
Menatap dan bukan menelaah, memberikan arti bahwa branding atau tampilan sebuah organisasi Islam terbesar sedang disorot secara hangat bahkan terkesan panas. Menurut Stephan Tschauko (2023), terdapat tiga pertanyaan mendasar yang harus ada dalam menatap kinerja suatu organisasi. Pertanyaan pertama adalah soal bagaimana kesesuaian apa yang ditampilkan dengan apa yang dijanjikan, pertanyaan kedua adalah soal bagaimana apa yang ditampilkan dibentuk, dan pertanyaan ketiga adalah bagaimana apa yang ditampilkan berimplikasi pada performa sebuah organisasi. Setidaknya tiga pertanyaan itu yang dapat digunakan untuk menatap Nahdlatul Ulama dari luar pada masa-masa seperti sekarang.
Pertanyaan pertama adalah persoalan apa yang merupakan visi dari sebuah organisasi secara abstrak dengan apa yang terjadi secara konkret. Melansir dari website NU Online (4/01/2021) dengan judul “Cita-cita Dasar Berdirinya NU” disebutkan bahwa NU memiliki visi untuk mewadahi gerakan pesantren agar dapat melakukan pengabdian kepada masyarakat seperti sosial, ekonomi dan persoalan masyarakat pada umumnya. Sebuah visi yang sebenarnya memiliki semangat untuk menyatakan bahwa NU ingin lepas dari segala macam eksklusivitas sehingga mampu untuk berdaya, berdampak serta memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara.
Tentu, sudah banyak sekali kontribusi yang diberikan oleh NU kepada rakyat Indonesia, mulai dari pendidikan pesantren hingga pembinaan moral masyarakat yang menopang geliat dinamika kehidupan berbangsa. Namun, belakangan dengan berkembanganya era media sosial dan disruptif informasi membuat citra yang sebenarnya lebih banyak positif mulai tenggelam dalam kekecewaan, ditambah ribut dalam dinamika internal membuat visi yang sangat mulia dan memang telah berdampak, seketika tertutup awan hitam. Berbagai reaksi dari kalangan pesantren mencoba menyibak awan hitam itu, namun dampaknya masih dapat kita pertanyakan.
Pertanyaan kedua, bagaimana sebenarnya opini dan kontra opini mengenai sebuah organisasi terbentuk. Francis Wilson (1933) pernah menyatakan bahwa opini publik sangat terkait erat dengan kondisi psikis-sosial yang melingkupi suatu opini berkembang. Hal ini diperkuat dengan argumentasi dari Noam Chomsky (1995) yang menyatakan bahwa opini publik terbentuk secara emosional dan berkaitan erat dengan media massa yang turut berkembang seiring waktu dengan opini masyarakat, menciptakan reaksi opini dan kontra opini yang terus menerus berkembang. Catherine Marsh (1985) mengingatkan bahwa segala bentuk macam opini akan membesar karena ada efek Bandwagon atau pengikutsertaan opini berdasarkan jumlah terbanyak opini yang paling banyak dipercayai
Persoalan citra NU adalah persoalan reaksi opini melawan reaksi opini, fakta yang sebenarnya terjadi dapat sesuai atau tidak sesuai. Reaksi-demi-reaksi yang terus menerus berlangsung menciptakan sentimen positif atau sentimen negatif, dari sentimen menyebabkan rangkaian pengetahuan yang diuji setiap waktunya. Di sisi lain, persoalan NU menjadi bahan bakar politik untuk menjatuhkan suatu pihak, meninggikan suatu pihak atau menaruh bom waktu yang dapat meledak pada waktunya.
Pertanyaan ketiga, bagaimana opini yang berkembang memiliki dampak terhadap suatu hal. Rhenald Kasali (2007) menyatakan dalam buku “Re-Code” bahwa reaksi terhadap sebuah kompetisi atau opini yang sudah terbentuk akan berimbas pada performa suatu organisasi. Suatu organisasi yang gagal untuk menjawab tantangan zaman, kalah dalam kompetisi atau tidak dapat mengelola opini yang berkembang pasti akan mengalami kerugiaan yang lebih banyak secara non-materiil. Hal ini yang kemudian menjadi pertanyaan besar bagi NU, apakah memanfaatkan momentum perbaikan secara besar-besaran atau hanya menjadikan gejala yang muncul sebagai reaksi liar semata.
Pada akhirnya, segala macam dinamika yang terjadi tetaplah menjadi fakta sejarah yang mungkin akan terlupakan atau tetap tercatat dan diingat oleh manusia. Tetapi, proses hari-hari ini ditentukan oleh respon kita yang kemudian berwujud menjadi suatu tindakan. NU tidak akan runtuh hanya karena masalah besar yang menerpa, tetapi justru berasal dari masalah-masalah kecil yang berubah wujud menjadi kebiasaan, menjelma menjadi sesuatu yang lumrah kemudian berubah menjadi karakter yang tidak siap menjawab tantangan zaman.
***
__________________
Penulis:
Yoga Aditya L. Lulusan Filsafat UGM yang sering membuat tulisan kritik sosial dengan cara-cara tak biasa, mengajak kita berefleksi dan tersenyum bahwa masalah ada di dalam area kehidupan sedang menyapa halus.



