Suara kokok ayam memenuhi ruangan berukuran 3×3 kepunyaan Sukur. Perlahan Sukur membuka matanya. Agak malas ia bangun sepagi ini, tapi ini adalah rutinitas yang harus ia jalani setiap pagi. Tak boleh tidak, jika ia ingin menjadikan sebagai orang yang terpandang sebagai orang berharta. Ia harus bekerja keras.
Dengan langkah gontai akibat sisa kantuknya, ia menuju kamar mandi, mengumpulkan kesadarannya di WC kemudian membersihkan diri sambil sesekali melepaskan hasrat kelelakiannya, sebab ia belum punya seorang perempuan yang bersedia menjadi pendamping hidupnya. Dalam perenungannya, seorang perempuan hanya mau mendampingi hidup seseorang ketika seseorang itu sudah menjadi orang kaya.
Bodoh, ia lupa kepada kedua orang tuanya, bapaknya bukan orang yang lahir dari keluarga kaya, tapi ibunya tetap bersedia menjadi pendamping bapaknya, mendampingi menghadapi hidup yang serba susah. Sukur tak pernah berpikir untuk mendapatkan istri macam ibunya. Barangkali di mata Sukur, ibunyalah yang bodoh, mau saja menjadi istri orang miskin.
Sehabis membersihkan diri, biasanya ia langsung sarapan, nasi atau bubur yang ia beli dari warung sebelah yang setiap pagi selalu menyediakan menu sarapan. Rumahnya hanya ia huni sendirian, rumah bikinan orang tuanya yang ia terima dengan berat hati. Sebab terlalu sederhana jika dijadikan sebagai rumah tinggal pasangan muda.
Rumah itu berdinding setengah tembok setengah kayu, bercat putih dengan kombinasi warna biru pada beberapa bagian. Masih terlihat baru. Letaknya cukup dekat dengan keramaian di desa. Di belakang rumah ada kolam kecil tempat menampung lele yang akan memakan sisa-sisa rumah tangga. Listrik, ledeng dan kamar mandi pun sudah dipasang sejak rumah itu berdiri. Alhasil, rumah itu sebenarnya sudah sangat layak untuk dipakai buat hidup sederhana ala orang desa. Tapi, begitulah Sukur.
Setelah itu baru ia berangkat berangkat kerja di pinggir kota sebagai karyawan sebuah bank swasta. Dalam perjalanan, selalu ia pilih jalur terdekat menuju kesana, melewati pematang sawah, perumahan dan sampailah ia di kantornya.
Tugasnya ringan saja, hanya memasukkan data nasabah ke dalam komputer. Untuk yang lain-lainnya sudah ditangani rekannya. Masing-masing punya tugas yang berbeda. Lincah ia bekerja, sebab hanya itu yang biasa ia kerjakan. Dari awal kerja sampai pulang nanti. Hanya sesekali saja ia bergurau dengan kawan-kawannya, itu pun gurauan yang sederhana dan itu-itu saja, seputar perempuan dan rencana-rencana ke depan.
Karena asiknya bekerja, sering ia lupa jika jam sudah menunjukkan waktu pulang, tergesa-gesa ia mengemasi barang-barangnya. Beres, dan ia pulang melalui jalan yang itu-itu juga. Dua kali seminggu ia mampir ke pompa bensin yang jalurnya berbeda.
Sampai di rumah, ia segera membikin kopi sambil melepas penat akibat kerja seharian, menunggu hari beranjak sore untuk bebersih diri. Kebiasaan main bola sudah ia tinggalkan sejak ia masuk kerja. Rasa lelah membuatnya malas melakukan aktifitas tambahan.
Segelas kopi sudah cukup mengantarnya menuju sore, waktu yang tepat untuk membersihkan diri, disusul dengan rebahan sambil menonton televisi. Acara favoritnya adalah sinetron yang ceritanya terlalu mengada-ada. Cerita yang berisi seputar orang menangis, rumah sakit, orang kaya dan intrik untuk menjegal satu sama lain.
Biasanya ia menonton sampai tertidur, jika tengah malam ia bangun, ia mematikan televisi dan masuk ke kamarnya. Tidur sampai pagi.
Suara kokok ayam memenuhi telinga Sukur. Perlahan ia membuka matanya. Agak malas ia bangun sepagi ini, tapi ini adalah rutinitas yang harus ia jalani setiap pagi. Tak boleh tidak, jika ia ingin menjadikan sebagai orang yang terpandang sebagai orang berharta. Ia harus bekerja keras.
Dengan langkah gontai akibat sisa kantuknya, ia menuju kamar mandi, mengumpulkan kesadarannya di WC kemudian membersihkan diri sambil sesekali melepaskan hasrat kelelakiannya, sebab ia belum punya seorang perempuan yang bersedia menjadi pendamping hidupnya. Dalam perenungannya, seorang perempuan hanya mau mendampingi hidup seseorang ketika seseorang itu sudah menjadi orang kaya.
Bodoh, ia lupa kepada kedua orang tuanya, bapaknya bukan orang yang lahir dari keluarga kaya, tapi ibunya tetap bersedia menjadi pendamping bapaknya, mendampingi menghadapi hidup yang serba susah. Sukur tak pernah berpikir untuk mendapatkan istri macam ibunya. Barangkali di mata Sukur, ibunyalah yang bodoh, mau saja menjadi istri orang miskin.
Sehabis membersihkan diri, biasanya ia langsung sarapan nasi atau bubur yang ia beli dari warung sebelah yang setiap pagi selalu menyediakan menu sarapan. Rumahnya hanya ia huni sendirian, rumah bikinan orang tuanya yang ia terima dengan berat hati. Sebab terlalu sederhana jika dijadikan sebagai rumah tinggal pasangan muda.
Setelah itu baru ia berangkat berangkat kerja di pinggir kota sebagai karyawan sebuah bank swasta. Untuk perjalanan kesana, selalu ia pilih jalur terdekat menuju kesana, melewati pematang sawah, perumahan dan sampailah ia di kantornya.
Tugasnya hanya memasukkan data nasabah ke dalam komputer. Untuk yang lain-lainnya sudah ditangani rekannya. Masing-masing punya tugas yang berbeda. Dari awal kerja sampai pulang nanti hanya itu yang biasa ia kerjakan. Sesekali ia bergurau dengan kawan-kawannya, gurauan yang sederhana dan itu-itu saja, seputar perempuan dan rencana-rencana ke depan.
Ia bekerja 8 jam sehari, berangkat dan pulang melalui jalan yang itu-itu juga. Dua kali seminggu ia mampir ke pompa bensin yang jalurnya berbeda.
Sampai di rumah, ia biasa membikin kopi sambil melepas penat, menunggu hari beranjak sore untuk bebersih diri. Kebiasaan main bola sudah ia tinggalkan sejak ia masuk kerja. Rasa lelah membuatnya malas melakukan aktifitas tambahan.
Segelas kopi sudah cukup mengantarnya menuju sore, waktu yang tepat untuk membersihkan diri, disusul dengan rebahan sambil menonton televisi. Acara favoritnya adalah sinetron yang ceritanya terlalu mengada-ada. Cerita yang berisi seputar orang menangis, rumah sakit, orang kaya dan intrik untuk menjegal satu sama lain.
Biasanya ia menonton sampai tertidur, jika tengah malam ia bangun, ia mematikan teleisi dan masuk ke kamarnya. Tidur sampai pagi.
Suara kokok ayam memenuhi telinga Sukur. Perlahan ia membuka matanya. Rasa malas ia buang jauh-jauh. Ia harus bekerja keras. Dengan gontai ia menuju kamar mandi, mengumpulkan kesadarannya di WC kemudian membersihkan diri sambil sesekali melepaskan hasrat kelelakiannya. Itulah sebabnya ia ingin segera mempunyai seorang istri.
Sehabis membersihkan diri, biasanya ia langsung sarapan nasi atau bubur yang ia beli dari warung sebelah yang setiap pagi selalu menyediakan menu sarapan. Setelah itu baru ia berangkat berangkat kerja sebagai karyawan sebuah bank swasta. Untuk perjalanan kesana, selalu ia pilih jalur terdekat menuju kesana.
Tugasnya hanya memasukkan data nasabah ke dalam komputer. Kalau ia bosan bercanda, ia hanya bekerja sambil diam. Pulang kerja, setiap dua kali seminggu ia mampir ke pompa bensin yang jalurnya berbeda. Mengisi bensin untuk persediaan beberapa hari ke depan.
Sampai di rumah, ia biasa membikin kopi, sambil menunggu hari beranjak sore untuk bebersih diri. Tak sempat ia keluar rumah, sekadar keluar dan tersenyum. Maka ia butuh seorang istri yang siap menemani.
Setelah sore, Sukur membersihkan diri, disusul dengan rebahan sambil menonton televisi. Acara favoritnya adalah sinetron. Biasanya ia menonton sampai tertidur, jika tengah malam ia bangun, ia mematikan televisi dan masuk ke kamarnya. Tidur sampai pagi.
Begitu bangun, ia langsung membuang rasa malas jauh-jauh. Ia menyadarkan diri, ia harus bekerja keras. Bergegas ia menuju kamar mandi, sambil membayangkan asiknya punya istri. Sepertinya tak perlu lagi repot-repot berfantasi.
Sehabis membersihkan diri, biasanya ia langsung sarapan nasi atau bubur yang ia beli dari warung sebelah. Satu-satunya warung yang menjual sarapan pagi. Setelah itu baru ia berangkat melalui jalur terdekat, ia bekerja sebagai karyawan sebuah bank swasta.
Pulang kerja, setiap dua kali seminggu ia mampir ke pompa bensin yang jalurnya berbeda. Mengisi bensin untuk persediaan beberapa hari ke depan.
Sampai di rumah, ia merenung sampai waktu mandi, kemudian rebahan sambil menonton televisi. Biasanya ia menonton sampai tertidur.
Sukur selalu bangun pagi, anjuran untuk bekerja keras selalu tertanam dalam pikirannya. Lalu ia menuju kamar mandi, membersihkan diri secukupnya. Waktunya harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sebab ia tahu, waktu tak pernah kembali. Sehabis mandi, ia langsung sarapan pagi. Dan sesaat kemudian langsung melesat menuju tempat kerjanya.
Pulang kerja, ia di rumah saja, menunggu malam. Malas ia berkumpul dengan para pemalas seperti tetangga-tetangganya. Saat malam tiba, ia menonton televisi sambil beristirahat sampai tertidur. Saat terbangun biasanya sudah masuk waktu pagi.
Kini, hari-hari Sukur hanya berkutat pada bangun pagi, bekerja dan menonton televisi. Hidupnya hanya berputar pada satu hari itu saja.
Wonosobo, 140513
***
__________________________
Tentang Penulis
Wasito Utomo, lebih akrab disapa Itok, penjual kopi yang suka menulis dan membaca sekedar untuk terapi biar tidak pikun, bisa ditemui di Kedai Kopi Bahagia (Kalibeber).



