Folklore - Sejarah Budaya - Seri

Wadaslintang – Tiga Sastra Lisan dari Wadaslintang Bagian II

Konon, basis pertahanan Perang Jawa (1925-1930) terletak di Wonosobo. Di Selatan Wonosobo yang sepi, pada awalnya, ditemukan hamparan batu putih. Maklum, 200 tahun lalu belum dikenal istilah sedimentasi batuan alami. Orang-orang menganggap hutan rimba menyimpan kekuatan magis yang dikaitkan pada peristiwa turunnya batu dari surga di Jazirah Arab bernama Hajar Aswad. Maka, tak ada bedanya jika bebatuan putih cerah di hutan-hutan yang tak berujung itu pastilah “pecahan” batu dari Arab sana. Ia bukan dari surga langsung melainkan sempat bergesekan bintang sebelum akhirnya terpecah-pecah.

Penamaan Wadas secara etimologi adalah bebatuan. Keyakinan “batu dari langit” macam kisah Poniyem (tapi ini terjadi ratusan tahun lalu) secara mengejutkan amat mudah diadopsi dari kisah lisan bahwa batu-cerah-yang-turun-dari-langit sebenarnya bintang. Ia teramat suci untuk disebut “Hajar Aswad Gagal” atau Hajar Aswad yang belum lolos kurasi sehingga entah bagaimana bisa terbuang di wilayah Batu Gemintang alias Wadaslintang.

Yang paling masyhur, sesepuh Wadaslintang menuturkan betapa berjasa leluhur mereka ikut berontak pajak pada masa Perang Jawa. Hari ini, Dusun Cangkring akan sangat terbuka terhadap berbagai polemik kebenaran cerita ini bahwa pasukan Pangeran Diponegoro terdampar pada 1827. Argumen paling masuk akal adalah rute sebelum pasukan terdampar di Dusun Cangkring.

Kecamuk perang melawan volksraad Belanda dari arah Kebumen itu, menyudut pasukan Diponegoro melewati Desa Kalipuru di Kebumen. Mereka lantas bergeser menuju Desa Lancar hingga berhenti di Dusun Cangkring. Dua nama terakhir kini tercatat sebagai wilayah Wadaslintang. Satu-persatu anggota peleton pasukan memilih “pulang kampung” kecuali dua orang. Mereka bernama Joko Kanoman dan Suryo Mataram. Konon, Ki Selarong dari Magelang dipercaya pernah menginjakkan kaki di Cangkring. Namun Selarong memilih sayonara di tahun-tahun berakhirnya Perang Jawa.

Suryo Mataram dan Joko Kanoman adalah duo “babat alas” Dusun Cangkring. Peradaban Wadaslintang, percaya atau tidak, justru dimulai dari Cangkring. Pertanyaannya, kemana anak-anak Badong Paras di Dusun Paras? Mana yang lebih dulu Paras atau Cangkring?

Kisah Paras tidak hilang begitu saja. Nama Paras tergeser polemik dahsyat tentang kemana Suryo Mataram usai Joko Kanoman menolak jabatan Demang Wadaslintang. Ada kekosongan mengapa orang bernama Cadipura tiba-tiba diangkat sebagai Demang oleh orang-orang di volksraad Kadipaten Wonosobo?

Wilayah kekuasaan Cadipura menurut catatan masyhur meliputi Cangkring, Panerusan, dan Wadaslintang (sampai 1848). Cadipura sendiri bukan penduduk asli Cangkring. Ia berasal dari Desa Lamuk, Kalikajar. Pada 2021, wilayah asal sosok Cadipura menjadi kawasan percobaan food estate hortikultura Kementerian Pertanian yang diprakarsai Syahrul Yasin Limpo. Kelak, nama yang disebut terakhir melakukan tindak pidana korupsi berupa pemerasan jabatan, penerima gratifikasi, dan money laundry.

***

Jujur, saya tidak begitu peduli apa yang dimaksud Tomo, khususnya cerita tentang kehadiran tokoh penyebar agama Islam dari Jepara. Meski begitu, saya tetap menikmati jalannya kisah yang bikin kaki saya kesemutan lama-lama. Di rumah Tomo, saya dipersilakan duduk di kursi kayu ukiran bunga teratai.

“Dari Jepara,” kata dia.

“Kamu tahu Keling?” Tono bertanya untuk membuka percakapan yang lebih panjang lagi. Saya tahu sebab Kecamatan Keling di Jepara, terletak tidak jauh dari Kecamatan Bangsri, tempat saya belajar ngaji sejak lulus SD sepuluh tahun lalu. Saya menduga tokoh yang akan Tomo ceritakan berasal dari Kerajaan Kalingga. Ternyata, ketika menulis ini saya berusaha verifikasi kecil-kecilan, tidak ada nama Windusari yang datang dari Kalingga.

***

 

Tiga Sastra Lisan dari Wadaslintang

Betapa romantik kegenitan saya pada sebuah wilayah di Selatan Wonosobo yang jauh dari pemerhati studi etnografi. Mereka punya kekayaan lisan yang menarik. Wilayah itu bernama Wadaslintang. Atau, jika boleh, akan saya persempit ke sebuah desa yang pertautkan sisi personal terhadap “asal-usul” ibu. Sebutlah, desa Panerusan dan sekitarnya.

Ibu yang saya maksud adalah ibu kandung. Ibu saya lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sekadar cerita mini, selama hidupnya, Ibu saya tak pernah bertandang ke Wonosobo, alih-alih Kecamatan Wadaslintang. Apalagi ia getol menekuni sejarah, etnografi, atau ilmu humaniora lain yang mengasyikkan. Ibu saya adalah ibu-ibu kebanyakan. Yang khawatir anaknya menulis folklore dengan keliru.

___________________________

Tentang penulis

Rossihan Anwar. Merupakan mahasiswa Ilmu Politik di Universitas Sains Alquran. Belajar di LPM Shoutul Quran sejak 2022. Alumni Jurnalisme Narasi XVII Yayasan Pantau di Jakarta. Penerima anugrah Karya Jurnalistik Pers Mahasiswa 2025 Terbaik urutan 2 oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *