• Folklore - Sejarah Budaya - Seri

    Windusari Tanpa Pernikahan – Tiga Sastra Lisan dari Wadaslintang Bagian III

    Saya senang mendengar kisah terbaik yang Sutomo pilih malam itu. Windusari yang kehilangan cinta justru menciptakan cinta lebih besar dari apapun sekalipun ia pergi entah kemana. Makamnya kini, kata Tomo, bila berkunjung ke sana pasti dapat cerita tentang gambar sapi putih di batu hitam yang sudah hilang akibat tersambar petir. Setiap Jum’at Kliwon, sapi itu akan mengebuh keras-keras dan jika ada yang mendengar lalu iseng menjawabnya, sapi bakal gila. ~ Rossihan Anwar, Windusari Tanpa Pernikahan.

  • Folklore - Sejarah Budaya - Seri

    Wadaslintang – Tiga Sastra Lisan dari Wadaslintang Bagian II

    Yang paling masyhur, sesepuh Wadaslintang menuturkan betapa berjasa leluhur mereka ikut berontak pajak pada masa Perang Jawa. Hari ini, Dusun Cangkring akan sangat terbuka terhadap berbagai polemik kebenaran cerita ini bahwa pasukan Pangeran Diponegoro terdampar pada 1827. Argumen paling masuk akal adalah rute sebelum pasukan terdampar di Dusun Cangkring. ~ Rossihan Anwar, Wadaslintang.

  • Folklore - Sejarah Budaya - Seri

    Wanapura – Tiga Sastra Lisan dari Wadaslintang Bagian I

    Sutomo berhenti cerita ketika rokok klembak miliknya terberai di permukaan asbak kayu. Tergesa ia meraih segelas air hangat lekas meneguknya sedikit. Kakek usia 77 seperti Tomo terbilang beruntung dari teman-teman seusianya telah mati. Pertama, kerusuhan Pemilu 1955 dan peristiwa 1965-1966. “Saya tidak pernah ikut-ikutan politik,” sambungnya, “atau bisa jadi selamat karena licik—entah.” ~ Rossihan Anwar, Wanapura.