Percayalah. Semua ini bermula pada abad 5M. Konon, Islam di Indonesia, pertama-tama dibawa pedagang lewat jalur laut pada Abad 7M. Tapi, percayalah dulu. Antara Islam dengan sebutan kiai, sejak awal, tak melulu sakral. Ia digunakan rakyat biasa yang tak penah dapat menyebut “siapa” yang pantas. Kecuali memang boleh-boleh saja dipanggil “kiai” sebagai tribute beralasan sang tokoh telah wafat bertahun lamanya. Tak terkecuali untuk cerita dua lakon yang berpolemik di masa lalu.
Kiai Badong Paras dari wilayah Pakuan Paras (secara administratif, kini tercatat berada di Kelurahan Wadaslintang) punya sahabat baik yang tinggal berjarak 50 menit bila berkendara naik sepeda motor ke wilayah Wanasida, Purworejo, Jawa Tengah. Hubungan mereka begitu akrab ditandai dengan saling berkunjung. Mereka terlalu akrab sampai-sampai tikar yang digunakan menjamu tamu itu turut terbawa.
Pada sore yang temaram Badong Paras hendak undur diri dari rumah Wanasida mengingat hari sudah gelap. Entah bagaimana ceritanya, Wanasida punya akal bulus. Ia jamu kawan baiknya hangat sekali di hari itu.
Begitu Paras bermaksud undur diri, Wanasida amati punggung tamunya hingga sirna dari kejauhan. Wanasida lalu menyambut seorang perempuan.
“Hai, pujaanku. Perjalanan jauh?”
Wanasida menyila perempuan itu masuk. Pandangan matanya menyapu sekeliling. Berjaga-jaga. Yang diajak ngobrol juga tak berucap apa-apa. Matanya genit mengisyaratkan duduk di samping.
Malam itu, terjadilah kejadian-yang-diinginkan keduanya.
Kelak Paras menyadari akal bulus Wanasida. Ia tidak merasakan home sweet home sejak istrinya tak kunjung tampak di rumah. “Ini sudah lewat tiga hari,” katanya. Badong Paras lantas punya firasat hingga bertolak ke Wanasida. “Barangkali sahabatku mau bantu.”
Menyedihkan sekali Badong Paras. Suasana hatinya berkecamuk tak henti. Ia pun kesulitan berpikir jernih. Terkadang, sempat terlintas di benaknya apakah justru Wanasida yang menculik istrinya? But, talk to who?
Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Kepercayaan Paras terhadap Wanasida bakal meninggi jika sahabatnya mau bantu kegelisahan lelaki yang cinta mati. Namun, segeralah Paras meruntuhkan kepercayaan itu. Wanasida sedang bermesraan dengan seorang wanita di sisinya. Dugaan Paras betul terjadi. Sayangnya, bukan Sang Istri yang mendua melainkan Wanasida telah memperdaya dengan guna-guna.
“Hei, bangsat!”
Serapah Paras bagai petir di siang bolong. Ia membuyarkan mabuk hasrat Wanasida di rumahnya sendiri. Ibarat sudah tertangkap basah, Wanasida tak berucap sebaris pun. Ia mematung dengan istri sahabat sendiri di kediamannya.
Paras geram tak terbendung. Ia gunakan kesaktian miliknya untuk menantang Wanasida. “Kau sakti benar, Wanasida, memperdaya perempuan untuk birahi. Kau gunakan ilmu yang diperoleh sedikit-banyak dariku.”
Ucapan Paras sebenarnya halus. Ia pandai menggunakan kinayah atau metafora. Sebagai seorang satiris, Paras menyerang kediaman Wanasida dengan melempar perabotan rumah tangga sejauh puluhan kilometer dengan kecepatan angin. Ini adalah isyarat kalau urusan rumah tangga bukan hal yang sepele. Terlebih Wanasida tak bisa dimaafkan lagi kecuali mengalahkan Paras sampai mati.
Tak main-main hebatnya. Alat rumah tangga hingga binatang ternak berkelebat dibantu angin yang diasuh Paras berpuluh tahun ke sebuah hutan. Di sana, ia bertemu seorang perjaka yang memberinya nasehat agar tak terjadi pertumpahan darah di tanah ini. “Bila setetes darah menyentuh tanah di hutan,” kata Si Perjaka, “kau yang mati.”
Paras terdiam. Tak berselang lama, Wanasida menyusul di tempat Paras berdiri memohon ampunan. Giliran Si Perjaka buka suara soal perseteruan keduanya. “Yang sudah terjadi, biar terjadi.” Katanya, hutan ini menjadi saksi kalau permintaan maaf Wanasida perlu diingat-ingat sampai bumi menciut alias sampai hari akhir. Saya, kata Si Perjaka, akan menjadi saksi bahwa hutan ini adalah milik orang bejat yang mau bertaubat. Kelak, rakyat daerah Purworejo menamai wilayah polemik di masa lalu dengan sebutan “Wanapura” yang berarti hutan (permintaan) maaf.
***
“Maka, Selatan hutan Wanapura disebut hutan Gledek, tempat berhentinya semua barang yang jadi amukan Badong Paras.”
Sutomo berhenti cerita ketika rokok klembak miliknya terberai di permukaan asbak kayu. Tergesa ia meraih segelas air hangat lekas meneguknya sedikit. Kakek usia 77 seperti Tomo terbilang beruntung dari teman-teman seusianya telah mati. Pertama, kerusuhan Pemilu 1955 dan peristiwa 1965-1966. “Saya tidak pernah ikut-ikutan politik,” sambungnya, “atau bisa jadi selamat karena licik—entah.”
Ini bukan topik yang nyaman bagi Mbah Tomo. Suasana agak kaku daripada ia mengisahkan Wanapura seperti sebelumnya. “Ada banyak mitos-mitos di Wadaslintang,” katanya.
Wanapura hanya satu dari sekian banyak kabar angin yang dirawat dari generasi ke generasi, dari telinga ke telinga, dari catatan dalang sampai catatan orang asing sepertiku yang tak pernah menginjakkan kaki di Wadaslintang kecuali pada 6 Agustus 2025. Kelak, imbuh Tomo, “ada keajaiban bagi mereka yang peduli dengan asalnya.”
Tomo menyebutkan banyak nama, banyak karakter, banyak setting cerita tentang Wanapura. Plot besarnya adalah birahi dan nafsu hingga konflik itu padam dengan permintaan maaf. Badong Paras, Nyai Badong Paras, Wanasida, Si Perjaka adalah nama yang saya pikir lebih masuk akal ketimbang nama-nama yang ditutur Tomo. Pola dan rumus menyebut “Kiai” pada tokoh dalam mitos di desa seringkali mengacu dari mana ia berasal.
Kiai Wanasida, misalnya, tinggal di Desa Wanasida, Kecamatan Pituruh, Purworejo. Profil satu tokoh—entah siapa dia—dengan mudah dikenali generasi hari ini dengan mencocokkan suatu tempat. Saya mencari kata kunci “wanasida” di bilah mesin pencari. Hasilnya cuma dua: nama belakang seseorang, nama tempat di Jawa Tengah. Kemudian Badong Paras. Paras kini merupakan nama dusun di Kelurahan Wadaslintang. Paras menurut dugaan saya berdiri sendiri sebelum nama “wadaslintang” diciptakan dari cerita oral yang masyhur tentang kilatan cahaya dari batu.
***
Tiga Sastra Lisan dari Wadaslintang
Betapa romantik kegenitan saya pada sebuah wilayah di Selatan Wonosobo yang jauh dari pemerhati studi etnografi. Mereka punya kekayaan lisan yang menarik. Wilayah itu bernama Wadaslintang. Atau, jika boleh, akan saya persempit ke sebuah desa yang pertautkan sisi personal terhadap “asal-usul” ibu. Sebutlah, desa Panerusan dan sekitarnya.
Ibu yang saya maksud adalah ibu kandung. Ibu saya lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sekadar cerita mini, selama hidupnya, Ibu saya tak pernah bertandang ke Wonosobo, alih-alih Kecamatan Wadaslintang. Apalagi ia getol menekuni sejarah, etnografi, atau ilmu humaniora lain yang mengasyikkan. Ibu saya adalah ibu-ibu kebanyakan. Yang khawatir anaknya menulis folklore dengan keliru.
___________________________
Tentang penulis
Rossihan Anwar. Merupakan mahasiswa Ilmu Politik di Universitas Sains Alquran. Belajar di LPM Shoutul Quran sejak 2022. Alumni Jurnalisme Narasi XVII Yayasan Pantau di Jakarta. Penerima anugrah Karya Jurnalistik Pers Mahasiswa 2025 Terbaik urutan 2 oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia.



