Skip to content
-
kirim tulisanmu ke: suraurakyatinstitute@gmail.com
Surau Rakyat Institute Surau Rakyat Institute

Mengakar, Merawat Nyala Pikir

Surau Rakyat Institute Surau Rakyat Institute

Mengakar, Merawat Nyala Pikir

  • Latar
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Buku
    • Slice of Life
  • Sejarah Budaya
    • Pergerakan
    • Spiritua
    • Folklore
  • Sospol
    • Hukum
    • Sosial
    • Politik
    • Ajar
  • Seri
  • Agro-Eko
    • Meramban
  • Dapur
    • Undangan
  • Latar
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Buku
    • Slice of Life
  • Sejarah Budaya
    • Pergerakan
    • Spiritua
    • Folklore
  • Sospol
    • Hukum
    • Sosial
    • Politik
    • Ajar
  • Seri
  • Agro-Eko
    • Meramban
  • Dapur
    • Undangan
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Surau Rakyat Institute Surau Rakyat Institute

Mengakar, Merawat Nyala Pikir

Surau Rakyat Institute Surau Rakyat Institute

Mengakar, Merawat Nyala Pikir

  • Latar
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Buku
    • Slice of Life
  • Sejarah Budaya
    • Pergerakan
    • Spiritua
    • Folklore
  • Sospol
    • Hukum
    • Sosial
    • Politik
    • Ajar
  • Seri
  • Agro-Eko
    • Meramban
  • Dapur
    • Undangan
  • Latar
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Buku
    • Slice of Life
  • Sejarah Budaya
    • Pergerakan
    • Spiritua
    • Folklore
  • Sospol
    • Hukum
    • Sosial
    • Politik
    • Ajar
  • Seri
  • Agro-Eko
    • Meramban
  • Dapur
    • Undangan
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
FolkloreSejarah BudayaSeri

Windusari Tanpa Pernikahan – Tiga Sastra Lisan dari Wadaslintang Bagian III

By admin
05.11.2025 4 Min Read
0

Windusari terlanjur kesengsem menyaksikan seorang putri dari Gemenggeng. Ia terpikat lalu jatuh hati dan berniat hendak mempersuntingnya.

Gemenggeng kini dikenal sebagai Desa Kaligowong yang terletak di Kecamatan Wadaslintang. Sedangkan Windusari alias Kiai Windusari namanya diabadikan sebagai sebuah Dusun di Desa Erorejo, Wadaslintang.

Lamaran Windusari pupus. Putri Gemenggeng menolaknya mentah-mentah. Apa daya Windusari. Ia mesti melakoni life after break up sebagaimana pemuda patah hati dalam budaya populer.

Kiai Windusari justru menyepi di tempat ia merasa kalau duka tak lagi cukup dengan air mata. Ia ucapkan sumpah yang kelak dipercaya warga setempat soal perjodohan. “Orang Windusari tidak akan pernah berpasangan dengan orang Kaligowong.”

God Bless Windusari.

Ia adalah putra ketiga Syaikh Umar Said alias anak Sunan Muria. Saudaranya bernama Raden Pabelan dan Kiai Ageng Djalaludin. Mereka saudara satu ibu. Ibu mereka merupakan salah satu istri Sunan Muria.

Lahir di Jepara, Windusari pernah berguru pada Sayyid Djakfar Shodiq atau Sunan Kudus hingga ia diberi saran oleh gurunya agar memakai nama Nawawi as-Shodiq. Sebelum dikenal dengan nama Windusari, Nawawi punya sapaan “Kiai Tunggul”. Nama terakhir mirip dengan kisah penginjil dari Kediri yang juga tercatat dalam arsip keluaran Residen Jepara.

Nawawi as-Shodiq sejak tinggal di Windusari gemar bermain kincir angin atau kitiran. Warga setempat bertutur bahwa Windusari membuatnya dari kayu walang ukuran besar sehingga untuk mengangkatnya butuh puluhan tenaga manusia. Ia gemar menancapkan kitiran itu di puncak gunung Windusari–tempatnya mengucap sumpah tentang perjodohan. Konon, kitiran yang dibuat Windusari teramat besar sehingga angin yang meniupnya mematahkan satu baling-baling sampai terlempar jauh dan patahan itu pada akhirnya membentuk Gunung Merayang.

Patahan kincir angin hanya satu kepercayaan betapa sakti dirinya. Benda lain yang dipercaya warga dari lisan ke lisan adalah ikat kepala. Konon, ikat kepala milik Windusari pernah terlempar hingga wilayah Kadipaten Wonosobo. Beberapa orang akhirnya membuat makam di tempat ikat kepala itu ditemukan. Mereka memercayai barang tersebut milik tokoh sakral dan ternama. Menurut kepercayaan (lagi) apabila orang-orang berziarah ke “petilasan ikat kepala” apabila turun hujan, maka bisa dipastikan ia tak akan basah kuyup. Frasa paling masyhur yang saya dengar, “Simbah selalu ada melindungi rakyat biar tidak sengsara baik panas maupun hujan” yang diucapkan dalam Bahasa Jawa.

Belum sampai situ, warga memegang plot cerita dari sudut pandang Windusari. Konon, begitu ikat kepala Windusari raib, ia tak bisa lakukan apapun sampai akhirnya menyerah pada hidup: moksa. Sebelum warga percaya tokoh panutan mereka benar-benar “hilang”, beberapa murid Windusari diberi mandat agar memperluas wilayah Erorejo dan sekitarnya. Hilangnya Windusari diberi tanda gundukan makam dengan dua buah batu berbentuk segitiga. Sekelilingnya berdiri pohon pandan. Darinya tercipta tiga cabang yang dipercaya mengeluarkan air untuk digunakan bersuci (wudlu) untuk menunaikan ibadah.

Warga melarang siapapun menebang pohon tersebut. Kualat nanti!

Hari ini di Makam Mbah Windusari, juru kunci mematenkan riwayat hidup berdasar kejadian, peristiwa tak biasa, mimpi, atau tanda alam.

Selama hidup, Windusari merawat puluhan sapi dengan baik. Ia tinggal di rumah megah (sekitar makam). Sekitarnya mengalir sumur dengan timba dan gayung emas yang dipercaya warga adalah tempat Windusari membersihkan dari hadats atau kotoran (non fisik atau biologis) dan najis seperti kotoran hewan.

Sumur itu bernama Sumur Sinangka. Dahulu pernah digunakan sebagai irigasi sawah dua desa yang dialirkan lewat talang emas. Siapa sangka, Windusari benar-benar terpandang. Sawah tersebut berada di Desa Sumbersari dan Desa Kaligowong.

Benar, cinta Windusari kepada Putri Gemenggeng tidak berakhir indah. Tapi cinta memiliki jalannya bukan? Cinta sejati tidak memikirkan diri sendiri. Windusari memilih “mengalirkan cinta” berwujud kebutuhan dasar manusia untuk hidup yaitu air dan tanah. Air dari aliran sumur miliknya. Tanah berupa sawah dan padi untuk kedaulatan pangan.

***

“Kalau sampean mandi di sumurnya Mbah Windu, kebal dari senjata tajam.”

Saya senang mendengar kisah terbaik yang Sutomo pilih malam itu. Windusari yang kehilangan cinta justru menciptakan cinta lebih besar dari apapun sekalipun ia pergi entah kemana. Makamnya kini, kata Tomo, bila berkunjung ke sana pasti dapat cerita tentang gambar sapi putih di batu hitam yang sudah hilang akibat tersambar petir. Setiap Jum’at Kliwon, sapi itu akan mengebuh keras-keras dan jika ada yang mendengar lalu iseng menjawabnya, sapi bakal gila.

“Orangnya gila, nggak, Pak?

“Sapinya,” jawab Sutomo pendek. Dry text.

Konon, sapi itu masih hidup. Ia hanya menghilang usai tersambar petir agar tidak kejadian dua kali. Namanya Sapi Gemarang. Akronim dari gelem sembarang alias tekun mengerjakan apapun asal bermanfaat.

Saya percaya kalau saya tidak menulis folklore dengan keliru. Mereka tak lagi wajib dilisankan. Melainkan perlu ditulis sebagai bahan pelajaran manusia yang kian hari kian menginjak-injak proses terbentuknya jati diri milik peradaban ter(di)sembunyi(kan).

***

 

Tiga Sastra Lisan dari Wadaslintang

Betapa romantik kegenitan saya pada sebuah wilayah di Selatan Wonosobo yang jauh dari pemerhati studi etnografi. Mereka punya kekayaan lisan yang menarik. Wilayah itu bernama Wadaslintang. Atau, jika boleh, akan saya persempit ke sebuah desa yang pertautkan sisi personal terhadap “asal-usul” ibu. Sebutlah, desa Panerusan dan sekitarnya.

Ibu yang saya maksud adalah ibu kandung. Ibu saya lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sekadar cerita mini, selama hidupnya, Ibu saya tak pernah bertandang ke Wonosobo, alih-alih Kecamatan Wadaslintang. Apalagi ia getol menekuni sejarah, etnografi, atau ilmu humaniora lain yang mengasyikkan. Ibu saya adalah ibu-ibu kebanyakan. Yang khawatir anaknya menulis folklore dengan keliru.

___________________________

Tentang penulis

Rossihan Anwar. Merupakan mahasiswa Ilmu Politik di Universitas Sains Alquran. Belajar di LPM Shoutul Quran sejak 2022. Alumni Jurnalisme Narasi XVII Yayasan Pantau di Jakarta. Penerima anugrah Karya Jurnalistik Pers Mahasiswa 2025 Terbaik urutan 2 oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia.

Tags:

FolkloreJeparaRossihan AnwarsapiSunan Muriawadaslintang
Author

admin

Follow Me
Other Articles
Previous

Wadaslintang – Tiga Sastra Lisan dari Wadaslintang Bagian II

Next

Pengulangan Metode Jakarta dan Peristiwa Kunci Reformasi ‘98 ~ Bagian 4

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pencarian

Salam!

Selamat datang di Surau, mari ikut ramaikan latar penulisan, kirim tulisanmu ke:
suraurakyatinstitute@gmail.com

Anyar

  • Musda XI Golkar Wonosobo Pilih Imam Teguh Sebagai Ketua Secara Aklamasi 29.07.2026
  • Tebus Lewat iPubers Mudahkan Kios dan Petani, Stok Pupuk Subsidi Tetap Terjamin 27.07.2026
  • The Forest Was Never Asking for an Audience 24.04.2026
  • Membaca Ulang Kemenangan di Hari Idul Fitri 21.03.2026
  • Warung, Kata, dan Dunia: Bahasa Indonesia di Tanah Asing sebagai Modal Ekonomi Diaspora 07.03.2026
  1. Yuliaharru on Wadaslintang – Tiga Sastra Lisan dari Wadaslintang Bagian II02.06.2026

    Maturnuwun tulisannya menuntun saya menapaki Wadaslintang di masa lalu.

  2. Ahmed on ‎Lupakan Soal Gaji Rp5 Juta, Kamu Harus Tahu Sisi Gelap Kabupaten Gresik01.01.2026

    GRESICK NGERRIII

  3. Ahmed on ‎Lupakan Soal Gaji Rp5 Juta, Kamu Harus Tahu Sisi Gelap Kabupaten Gresik01.01.2026

    Gresik Ngerriiii

  4. 30 on Bu!19.11.2025

    🔥🔥

  5. D_JhavVu on Bu!12.11.2025

    Josss

Kontributor

  • Agus Wepe
  • Anang Bayu
  • A. Nsh/Pardjo
  • Barra
  • Erwin Abdillah
  • Fairouza
  • Gena Sugito
  • Glory Deo
  • Hamdan Abror
  • Hanafis
  • Julia
  • Jusuf AN
  • Nabila Dwi
  • Mayaologi
  • Rossihan Anwar
  • Wasito Utomo
  • Yoga Aditia
  • Yona Al’ainaa

Redaksional

Email : suraurakyatinstitute@gmail.com

Hotline : WA 0813-3056-9950 (Bror) | IG: @suraurakyatinstitute

Paseban: Kantin Literasi Perpusda Wonosobo

Tamu
  • Today's visitors: 1
  • Total visitors : 2,617
2025 - 2026 | Surau Rakyat Institute. Indonesia