Warga yang hidup di masa itu, menyebut Tjin Hwat adalah seorang tabib atau penyembuh dermawan yang berjualan Mie Ongklok untuk memenuhi kebutuhannya. Mengingat Tjin Hwat tidak pernah memungut ongkos pada orang yang datang berobat padanya. Di era itu, belum ada gerobak dorong sehingga banyak makanan panas harus dijajakan dengan Pikulan (Hik). Pikulan itu memuat alat masak berupa tungku atau anglo dengan arang, air, dan semua bahan makanan lain yang dibutuhkan. ~Erwin Abdillah, 2025.
-
-
Saya senang mendengar kisah terbaik yang Sutomo pilih malam itu. Windusari yang kehilangan cinta justru menciptakan cinta lebih besar dari apapun sekalipun ia pergi entah kemana. Makamnya kini, kata Tomo, bila berkunjung ke sana pasti dapat cerita tentang gambar sapi putih di batu hitam yang sudah hilang akibat tersambar petir. Setiap Jum’at Kliwon, sapi itu akan mengebuh keras-keras dan jika ada yang mendengar lalu iseng menjawabnya, sapi bakal gila. ~ Rossihan Anwar, Windusari Tanpa Pernikahan.