Sembari membetulkan pengikat kowangan dari ijuk yang mulai lepas, Kyai Surung berpikir keras, bagaimana caranya mengajak para petani untuk melawan Belanda yang selalu membodohi warga. Sesekali dahinya berkerut, tanda beliau sedang berpikir. Tatapan matanya jauh ke depan, memandang padi yang telah menguning dan sebentar lagi siap dipanen. ~ Tamanna Azmi Azzahra, 2019.
-
-
Sebelum 2025, volume sampah yang masuk ke TPA Wonorejo cenderung meningkat dari tahun ke tahun, meski bersifat fluktuatif. Kenaikan rata-rata mencapai sekitar 0,25 juta ton per tahun hingga memunculkan julukan “Wonosobo Darurat Sampah.” ~ Farah Fauziyah Hasna, 2026.
-
Di daerah perbatasan Magelang, tepatnya di sekitar kawasan Kaliangkrik, seorang prajurit Jepang bernama Kaito mengemban tugas propaganda itu. Pangkatnya di Sendenbu tidak diketahui dengan pasti, namun bisa disetarakan sekelas prajurit satu atau tamtama. Dalam kesehariannya, Kaito yang ramah kerap berinteraksi dengan masyarakat sekitar, termasuk para pedagang pribumi. Salah satu pedagang yang cukup akrab dengan Kaito adalah... ~ Gena Sugito, 2025
-
Bisa dibilang, Surawana adalah pencuri yang cerdik, hingga sulit untuk ditangkap apalagi banyak cara mencurinya yang misterius. Berkebalikan dengan ketenarannya, ternyata Surawana adalah seorang pemuda bertubuh kecil namun lincah. Berbeda dengan bayangan orang-orang yang menggambarkan Surawana bertubuh kekar dan besar serta menakutkan. Namun apes juga pernah dialami Surawana hingga suatu saat ditangkap.. ~ Wahyu Cahyo Agung (2019)
-
Warga yang hidup di masa itu, menyebut Tjin Hwat adalah seorang tabib atau penyembuh dermawan yang berjualan Mie Ongklok untuk memenuhi kebutuhannya. Mengingat Tjin Hwat tidak pernah memungut ongkos pada orang yang datang berobat padanya. Di era itu, belum ada gerobak dorong sehingga banyak makanan panas harus dijajakan dengan Pikulan (Hik). Pikulan itu memuat alat masak berupa tungku atau anglo dengan arang, air, dan semua bahan makanan lain yang dibutuhkan. ~Erwin Abdillah, 2025.
-
Jalan Ahmad Yani Wonosobo adalah sebuah jalan utama dengan pasar, pusat peradaban dan institusi sosial lain berkumpul di dalamnya. Dalam filosofi Jalan Ahmad Yani, merujuk pada aktivitas manusia yang masih sibuk pada dinamika dunia material ini, sebelum jiwa manusia berefleksi di alun-alun dan meraih derajat untuk memimpin manusia. Ujung dari Jalan Ahmad Yani adalah Dieng, tempat dimana manusia direpresentasikan kembali ke Yang Maha Kuasa. ~Yoga Aditia, 2025.
-
Yang paling masyhur, sesepuh Wadaslintang menuturkan betapa berjasa leluhur mereka ikut berontak pajak pada masa Perang Jawa. Hari ini, Dusun Cangkring akan sangat terbuka terhadap berbagai polemik kebenaran cerita ini bahwa pasukan Pangeran Diponegoro terdampar pada 1827. Argumen paling masuk akal adalah rute sebelum pasukan terdampar di Dusun Cangkring. ~ Rossihan Anwar, Wadaslintang.