Belakangan muncul keresahan dari berbagai pihak soal banyaknya parkir liar yang berjamur dan tumbuh subur di Wonosobo. Naasnya sebagaimana namanya parkir liar, uang hasil parkir tersebut sangat minim memberikan kontribusi kepada keuangan daerah yang bisa dibilang termasuk rendah pendapatannya. Berbagai usulan seperti parkir digital mulai dirancang untuk mengatasi, namun tak kunjung terealisasi nyatanya.
Padahal, jalan di pusat kabupaten Wonosobo itu memiliki potensi besar yang dapat menjadi alternatif bagi mereka yang sudah bosan ke Malioboro. Ya, Jalan Ahmad Yani yang menawarkan pemandangan seperti melihat garis lurus menuju puncak Dieng seharusnya dapat dimaksimalkan. Lebih dari itu, secara filosofis dan pariwisata sebenarnya sangat menjanjikan dan memicu roda ekonomi di pusat kabupaten.
Pedestrian Pejalan Kaki
Menikmati suasana sejuk Wonosobo sebenarnya lebih bagus dengan berjalan kaki, sembari berjalan kaki dan menikmati kuliner hanya akan mungkin terjadi apabila ada suasana yang saling mendukung. Jalan Ahmad Yani adalah perpaduan yang pas dengan kondisi Malioboro di Yogyakarta. Sebuah jalan lurus, dekat dengan pasar, dekat dengan institusi peradaban dan pemerintah serta wisata sejarah yang tidak kalah kayanya.
Untuk mewujudkan ide tersebut diperlukan pedestrian jalan yang baik, karena tidak mungkin orang menikmati suasana Wonosobo hanya melewati saja tanpa memaknai suasana yang ada didalamnya. Dan untuk mewujudkan itu, maka jalur angkutan kota dan parkir di tengah kota harus digeser setelah puluhan tahun di tempat tersebut. Tata kota Wonosobo, harus berubah dari yang tadinya berorientasi pada kendaraan pribadi berubah menjadi ramah pejalan kaki dan transportasi publik yang baik. Jika kita memang peduli pada masa depan kabupaten kecil ini.
Filosofi Tata Kota
Jika pernah ke Dieng, dan melalui Wonosobo pasti akan menemui Jalan Ahmad Yani sebagai jalan utama menuju Dieng. Sebuah jalan lurus menuju alun-alun Wonosobo dengan pemandangan gunung Sindoro dan dataran tinggi Dieng, menyapa ketika melewati Jalan Ahmad Yani. Tentu, pemandangan indah yang akan menyapa ini akan agak terganggu dengan kondisi jalan yang kumuh, penuh dengan parkiran hingga kurang ramah akses pejalan kaki.
Jalan Ahmad Yani Wonosobo adalah sebuah jalan utama dengan pasar, pusat peradaban dan institusi sosial lain berkumpul di dalamnya. Dalam filosofi Jalan Ahmad Yani, merujuk pada aktivitas manusia yang masih sibuk pada dinamika dunia material ini, sebelum jiwa manusia berefleksi di alun-alun dan meraih derajat untuk memimpin manusia. Ujung dari Jalan Ahmad Yani adalah Dieng, tempat dimana manusia direpresentasikan kembali ke Yang Maha Kuasa.
Potensi Pariwisata
Jalan Ahmad Yani memiliki potensi pariwisata apabila ditata dengan baik. Bayangkan, jika jalan ini mampu dibuat seperti Malioboro maka berapa banyak jumlah usaha kecil dan menengah yang akan hidup dengan mengandalkan wisata pejalan kaki. Bayangkan juga berapa banyak seniman dan budayawan yang hidup apabila Jalan Ahmad Yani mampu berperan sebagai jalan ramah pejalan kaki.
Pasar induk Wonosobo yang semula hanya didominasi oleh pembeli lokal, akan mampu untuk berpotensi lebih ramai karena menjadi tempat transit menuju Dieng ataupun para wisatawan yang memang ingin menikmati suasana yang khas dari Wonosobo. Kondisi Wonosobo yang tadinya di dominasi dengan kegiatan lokal, akan dimeriahkan oleh pertukaran budaya melalui interaksi orang banyak.
Pada akhirnya, jika Jalan Ahmad Yani menjadi daerah pedestrian yang ramah terhadap pejalan kaki maka efek ekonomi yang ditimbulkan pada akhirnya akan lebih besar. Apalagi jika mampu untuk menghadirkan filosofi dan pusat kebudayaan baru di wilayah jalan tersebut. Sebuah ide yang sebaiknya dibahas demi kemajuan dari wilayah Wonosobo, selain mengandalkan pariwisata dari Dieng.
***
__________________
Penulis:
Yoga Aditya L. Lulusan Filsafat UGM yang sering membuat tulisan kritik sosial dengan cara-cara tak biasa, mengajak kita berefleksi dan tersenyum bahwa masalah ada di dalam area kehidupan sedang menyapa halus.



