Skip to content
-
kirim tulisanmu ke: suraurakyatinstitute@gmail.com
Surau Rakyat Institute Surau Rakyat Institute

Mengakar, Merawat Nyala Pikir

Surau Rakyat Institute Surau Rakyat Institute

Mengakar, Merawat Nyala Pikir

  • Latar
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Buku
    • Slice of Life
  • Sejarah Budaya
    • Pergerakan
    • Spiritua
    • Folklore
  • Sospol
    • Hukum
    • Sosial
    • Politik
    • Ajar
  • Seri
  • Agro-Eko
    • Meramban
  • Dapur
    • Undangan
  • Latar
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Buku
    • Slice of Life
  • Sejarah Budaya
    • Pergerakan
    • Spiritua
    • Folklore
  • Sospol
    • Hukum
    • Sosial
    • Politik
    • Ajar
  • Seri
  • Agro-Eko
    • Meramban
  • Dapur
    • Undangan
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Surau Rakyat Institute Surau Rakyat Institute

Mengakar, Merawat Nyala Pikir

Surau Rakyat Institute Surau Rakyat Institute

Mengakar, Merawat Nyala Pikir

  • Latar
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Buku
    • Slice of Life
  • Sejarah Budaya
    • Pergerakan
    • Spiritua
    • Folklore
  • Sospol
    • Hukum
    • Sosial
    • Politik
    • Ajar
  • Seri
  • Agro-Eko
    • Meramban
  • Dapur
    • Undangan
  • Latar
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Buku
    • Slice of Life
  • Sejarah Budaya
    • Pergerakan
    • Spiritua
    • Folklore
  • Sospol
    • Hukum
    • Sosial
    • Politik
    • Ajar
  • Seri
  • Agro-Eko
    • Meramban
  • Dapur
    • Undangan
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
PuisiSastra

Tiga Sajak di Tengah Kemelut

By admin
10.11.2025 3 Min Read
0

Di tengah ke-riweuh-an dunianya, Barrā tetap menyempatkan waktu untuk jatuh cinta. Tapi ia memilih untuk tenang dan tidak terburu-buru. Berikut kumpulan hurufnya yang sedang bergelut di pikiran dan perasaan.

I

Aku sedang baik-baik saja,
lalu sepasang matamu
menyelundup ke dalam dadaku
seperti maling yang malas kabur.

Apa ini cinta?
Ah, jangan konyol.
Ini cuma aku yang terlalu gampang
jatuh pada sesuatu yang mustahil.

Kau lewat begitu saja,
dan aku merasa seakan
seluruh bahasa di kepalaku
berubah jadi berita kriminal.

“Hei, itu tipeku banget!”
kataku sambil tertawa,
seperti anak kecil menemukan permen
di kantong celana ayahnya.

Tapi biarkanlah,
biarkan rasa ini jadi benih liar
tumbuh entah di kebun siapa,
akar-akarnya bisa saja menusuk
ke arah yang tidak pernah kita kira.

Kalau memang benar,
maka aku tidak perlu jatuh cinta.
Cukup biarkan aku
terjatuh sekali lagi
ke dalam puisi.

II

Barangkali,
suatu hari nanti,
kau membaca ini sambil tersenyum kecil
tanpa tahu bahwa setiap jeda dan titik
adalah jarak yang kutempuh
untuk tidak menyebut namamu.

Aku pernah mencoba melupakan,
tapi ingatan bekerja seperti hujan:
turun tanpa permisi,
membasahi hal-hal yang ingin kusimpan tetap kering.
Aku hanya bisa menampungnya
dalam kata-kata yang tidak pernah selesai.

Kadang aku bertanya,
apakah perasaan harus selalu punya tujuan?
Sebab yang kutahu,
ada langkah yang diciptakan
bukan untuk sampai,
melainkan untuk menjaga dada tetap berdetak
meski perlahan, meski tersesat.

Jika rasa ini berlebihan,
biarkan saja,
seperti sungai kecil yang menolak diam
meski musim sudah tak berpihak.
Biarkan ia mengalir
ke celah-celah yang bahkan tak kukenali,
membasuh ruang yang selama ini kupura-pura luka.

Kalaupun pada akhirnya
kau tetap tidak menoleh,
aku tak apa.
Aku sudah terbiasa berjalan sendirian
sambil membawa bayanganmu
seperti buku usang
yang tetap kubawa ke mana-mana
meski tak pernah kubuka lagi.

Sebab bagiku,
jatuh cinta hanya perkara singkat,
tapi merawat rasa
adalah kerja panjang
yang tidak pernah minta imbalan.

Maka biarkan aku,
untuk kesekian kali,
terjerembab tanpa malu
ke dalam kata-kata yang menghidupkanku.
Sebab dari semua hal yang mungkin hilang,
puisi selalu tahu jalan pulang.

III

Atau mungkin,
tanpa kita sadari,
rasa ini sedang tumbuh dengan caranya sendiri
pelan, jujur, dan tidak terburu-buru.
Seperti pagi yang datang
tanpa pernah gagal memberi terang.

Aku mulai mengerti,
bahwa tidak semua pertemuan harus melukai.
Ada yang hadir justru untuk membuat langkah
terasa lebih ringan,
membuat hari yang biasa
mendadak berbunga di sudut-sudutnya.

Jika nanti aku kembali melihatmu,
biarkan aku sekadar tersenyum,
mengirimkan doa paling sederhana
agar hidupmu luas,
dan hatimu tetap menjadi rumah
bagi hal-hal baik yang menunggu tumbuh.

Mungkin ini bukan cinta,
atau mungkin memang iya
tapi apa pun namanya,
aku ingin merawatnya
seperti merawat matahari sore:
cukup dilihat,
cukup disyukuri,
tanpa perlu digenggam agar tidak padam.

Jika suatu saat
kita berjalan berdampingan,
biarkan semuanya terjadi dengan wajar,
seperti bunga liar yang tumbuh
bukan karena disuruh,
melainkan karena semesta mengizinkannya.

Untuk sekarang,
aku memilih bahagia.
Memilih merasa ringan.
Memilih percaya
bahwa beberapa perasaan
memang diciptakan
untuk membawa kita
menemukan diri sendiri.

***

 

_________________________
Tentang penulis:

Barrā. Seorang penulis muda yang merawat ingatan dan perlawanan melalui cerita. Ia menulis sajak tentang manusia, luka, dan harapan yang tumbuh pelan-pelan di antara keduanya.

 

Tags:

Barracintasajak
Author

admin

Follow Me
Other Articles
Previous

Jalan Ahmad Yani Wonosobo Layak Dibuat Seperti Malioboro: Sudut Pandang Filosofi Sampai Pariwisata

Next

Soeharto dan Bayangan Firaun dalam Sejarah Indonesia

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pencarian

Salam!

Selamat datang di Surau, mari ikut ramaikan latar penulisan, kirim tulisanmu ke:
suraurakyatinstitute@gmail.com

Anyar

  • Musda XI Golkar Wonosobo Pilih Imam Teguh Sebagai Ketua Secara Aklamasi 29.07.2026
  • Tebus Lewat iPubers Mudahkan Kios dan Petani, Stok Pupuk Subsidi Tetap Terjamin 27.07.2026
  • The Forest Was Never Asking for an Audience 24.04.2026
  • Membaca Ulang Kemenangan di Hari Idul Fitri 21.03.2026
  • Warung, Kata, dan Dunia: Bahasa Indonesia di Tanah Asing sebagai Modal Ekonomi Diaspora 07.03.2026
  1. Yuliaharru on Wadaslintang – Tiga Sastra Lisan dari Wadaslintang Bagian II02.06.2026

    Maturnuwun tulisannya menuntun saya menapaki Wadaslintang di masa lalu.

  2. Ahmed on ‎Lupakan Soal Gaji Rp5 Juta, Kamu Harus Tahu Sisi Gelap Kabupaten Gresik01.01.2026

    GRESICK NGERRIII

  3. Ahmed on ‎Lupakan Soal Gaji Rp5 Juta, Kamu Harus Tahu Sisi Gelap Kabupaten Gresik01.01.2026

    Gresik Ngerriiii

  4. 30 on Bu!19.11.2025

    🔥🔥

  5. D_JhavVu on Bu!12.11.2025

    Josss

Kontributor

  • Agus Wepe
  • Anang Bayu
  • A. Nsh/Pardjo
  • Barra
  • Erwin Abdillah
  • Fairouza
  • Gena Sugito
  • Glory Deo
  • Hamdan Abror
  • Hanafis
  • Julia
  • Jusuf AN
  • Nabila Dwi
  • Mayaologi
  • Rossihan Anwar
  • Wasito Utomo
  • Yoga Aditia
  • Yona Al’ainaa

Redaksional

Email : suraurakyatinstitute@gmail.com

Hotline : WA 0813-3056-9950 (Bror) | IG: @suraurakyatinstitute

Paseban: Kantin Literasi Perpusda Wonosobo

Tamu
  • Today's visitors: 0
  • Total visitors : 2,615
2025 - 2026 | Surau Rakyat Institute. Indonesia