Dari puncak mana pun, hutan ini nampak seperti pinggan sayur yang sangat luas, terkepung gunung-gunung dan perbukitan di seluruh penjuru mata angin. Semakin diamati, semakin jelas bahwa pinggan ini sebenarnya tak semulus kelihatannya.
Di sekujurnya, tersebar anak-anak bukit. Beberapa berbentuk memanjang, tak ubahnya seperti panggang ikan sili yang menggenapkan santap-pandang ini. Dari pegunungan di utara, aliran air berkelok renggang ke tengah-tengah, lantas berbelok mantap ke barat, keluar melalui celah perbukitan. Di tikungan itu pula, sungai terbelah dan menyatu, membentuk satu pulau kecil.
Langit semakin redup menguning. Apuy mempercepat langkahnya. Kesorean lagi. Orang-orang rumah pasti sudah berkumpul di tungku, batinnya. Sedangkan aku, pulang tanpa hasil. Rama Gihang memang berengsek sejak dulu. Sudah jauh-jauh kubawakan pinang, masih saja kikirnya bukan main. Baiknya hanyutkan saja di kali. Apuy meludah kesal. Liurnya mendarat di akar ara yang menyembul di tanah. Melimpah dan masam, ciri ludah orang letih dan kelaparan.
Terdengar suara air mengarus. Jalan setapak menurun, menyusuri tebing rendah. Di kejauhan, lambat laun terlihat pokok pisang terhuyung oleh bebannya sendiri. Pohon itu ada di pulau kecil, dikepung sungai lebar yang penuh batu dan tak seberapa dalam. Seorang pria paruh baya melambai kepada Apuy, lantas menepuk-nepuk tandan pisang yang juntaiannya hampir menyentuh tanah. Sumringah, Apuy mengangkat kainnya, melilit-ikatnya menjadi cawat, lalu bergegas meniti bebatuan ke seberang.
“Pisang bagus, ini, Paman,” puji Apuy terengah-engah. “Jenis ini bijinya sedikit.”
Orang tua itu terkekeh. Ditepuknya pundak Apuy. “Kita makan berdua pun, bisa mati kekenyangan. Ayo, Nak, kita serang.” Selorohnya disambut Apuy dengan tawa kecil.
Keduanya makan dengan lahap, seolah tak kenal hari esok. Di seberang, tiga orang tampak mendekat. Satu laki-laki, dua perempuan. Dari wajah mereka, kelihatannya kakak-beradik, masih muda-muda. Apuy melambaikan tangan. Mereka pun menyeberang, ikut merayah pisang.
Ufuk barat semakin memerah. Langit di utara menghitam, sesekali diselingi kilat kebiruan. Si Paman menyuruh semuanya bergegas kembali ke seberang. Tak lama, dari arah hulu, terdengar suara gemuruh. Dalam sekejap, banjir datang. Tak ada yang sempat menyeberang. Saling tertegun, semua terduduk lunglai mengelilingi santapan mereka.
Gadis yang berperawakan kecil menggerutu, “Ini karena aku menginjak mangmang, kita terjebak seperti ini.”
“Jangankan kau, aku malah meludahi mangmang,” sahut Apuy.
“Memangnya mangmang itu seperti apa?” tanya Si Paman. “Kalau memang kebanjiran, ya, kebanjiran saja.”
Gadis yang besar menjawab, “Akar beringin. Kudengar, pohon beringin jadi sesembahan orang Kĕling.”
“Tahu, aku tahu,” tukas Si Paman. “Berkali-kali aku menginjak mangmang, tak ada masalah menimpaku.”
“Paman bukan orang sini, ya?” tanya Apuy. Tangannya merogoh kantong sirih dari sela pinggang kiri dan cawatnya. Ditawarkannya dengan hormat, namun orang tua itu menolak dengan halus—nanti saja.
“Asalku dari selatan sana. Wanua Kayuwuni. Tapi, aku sudah lama menetap di Jalamprang ini. Tanya saja orang sini,” orang tua itu menepuk dada, “Siapa yang tak kenal Maniti?”
“Tapi, Paman seperti orang asing,” selidik Apuy. “Iya, kulit Paman tidak ber-baṭik. Hidung juga bangir,” timpal gadis besar.
“Ayahku orang Kĕling. Tapi aku anak ibuku. Selamanya, anak ibuku. Namaku saja, bukan nama Kĕling.”
Gadis yang berperawakan kecil menimpali, “Mengapa tidak berbaṭik? Padahal, Paman cukup gagah.”
“Wo, perihnya! Seharian ditusuk-tusuk duri, mana tahan? Apalagi kalau sampai demam semalaman. Orang gagah saja banyak yang menangis. Sekarang di Kayuwuni, sudah banyak yang meninggalkan baṭik.” Maniti membuka sumbat dedaunan dari bumbung bekalnya, lalu minum seteguk. “Oh, ya, siapa nama kalian?”
“Aku Apuy, parabanku Puyang, dari Jantri.” Apuy menunjuk tato berpola khas Jantri yang mengalungi lehernya. Baṭik-nya yang baru tiga baris menunjukkan usianya yang baru dua puluhan. Ia lantas beralih pandang menuju tiga orang yang baru bergabung. Yang dipandang menarik napas.
“Tugu, namaku. Dua perempuan ini adikku; yang gemuk Si Gĕmah, yang kecil Si Hĕning. Kami dari Pakāsiran.”
Apuy terbatuk, tersedak ludah sirihnya sendiri. Maniti menyodorkan bumbung minuman. Segera ditenggak oleh Apuy. Tak dikiranya, bumbung itu berisi twak. Aromanya baru terasa ketika cairan itu telanjur melewati kerongkongan Keras sengatannya membuat Apuy kembali tersedak. Semua orang tergelak.
“O, anak Jantri! Namamu panas, perangaimu ceroboh,” olok Maniti. Apuy gusar, namun pada akhirnya, ikut tertawa juga. Paman itu memang sok tahu; namun Apuy sungguh tahu, namanya bukan sembarang api. Ia dinamai demikian karena saat lahir, di kepalanya sudah ada rambut kemerahan. Di punggung tangannya, ada bercak merah, twah apuy.
Teringat suatu hal, Apuy merogoh sesuatu dari ikat kepalanya: sejumput kaul, terbungkus daun aren. “Paman, selagi belum hujan, baiknya lekas membuat perapian!”
***
Gerimis tipis turun. Maniti dan Tugu sudah membuat tempat berteduh di tebing selatan pulau. Sudah ada gubuk lama berupa kayukayu kecil yang disandarkan ke tebing, sehingga mereka tinggal menutupinya dengan pelepah dan daun pisang. Yang lain sudah di dalam, namun, Apuy berteduh di bawah pohon buni, sepuluh langkah jauhnya. Gerimis lembut melewati dedaunan sehingga berubah menjadi tetesan besar, sesekali menghantam ubun-ubun Apuy. Ikat kepalanya sudah berganti daun keladi. Dari dalam gubuk, Maniti tertawa kecil menggodanya. Si Hĕning melirik sekilas, lalu ikut tersenyum geli.
Apuy merasa, gubuk itu sengaja dibuat hanya untuk empat orang. Tugu bisa saja bergantian tempat dengannya. Namun, Apuy tahu, Tugu pasti melindungi adik-adiknya. Mereka dari Pakāsiran, tempat orang bersenang-senang, sekaligus berpembawaan keras. Hidup kedua gadis itu pasti akan susah tanpa penjagaan kakak laki-laki mereka. Apa lagi, dua kerabat Apuy mati saat mencari calon istri di sana. Namun, Tugu berbicara dengan perlahan, dan itulah yang ditakuti Apuy. Pembawaan orang itu tak seperti pada umumnya.
Sambil tertunduk, Apuy melirik Tugu dan mengamati pola tatonya dari jauh. Ada barisan segitiga bolak-balik berseling dengan motif ulir keong, tersusun seperti bentuk kain apok yang mengalung menutupi leher, dada, dan bahunya. Rupanya, sudah pernah membunuh orang, batin Apuy. Tersadarlah Tugu bahwa ia sedang diperhatikan. Ia pun lekas memberi aba-aba kepada Apuy agar bertukar tempat. Meski ragu, Apuy berjalan menuju gubuk.
Saat berpapasan di tengah, Tugu berbisik, “Biasa saja, sanakku.” Apuy bergidik. Hampir saja ia terkencing.
Di gubuk, Apuy lebih banyak diam. Lama ia mengamati anak rambut yang basah di dahi Si Hĕning. Bentuk kepalanya bulat bagus. Keningnya lebar dan nonong; molek dipandang. Meski kulit Gĕmah kuning bersih, namun, Apuy lebih tertarik memandangi kepala Hĕning. Sesekali, ia melirik Tugu, khawatir gerak-geriknya ketahuan. Tugu tengah asyik meraih rimbunan buah buni. Apuy tersadar. Tadi, ada buah-buahan ranum yang menunggu di atas kepalanya. Warnanya ungu masak. Hanya sedikit yang masih merah.
“Makan buni atau makan sirih—semuanya segar,” celetuk Maniti yang duduk di sebelahnya.
“O, Paman mau sirih?” jawab Apuy menutupi kejutnya.
“Tentu. Tentu. Ah, Nak Apuy pasti anak seorang rama, atau setidaknya, seorang tuha,” selidik Maniti. “Sekapur sirihmu baik sekali dengan orang tua.”
“Dulu, ayah saya seorang tuha buru. Sudah meninggal waktu perang besar, disergap orang Sisair.”
“Orang Sisair? Bukannya mereka sekutu kita?” tukas Maniti.
“Tapi ayah saya dikira mata-mata,” jawab Apuy lirih. Mendengar hal yang tak asing, Gĕmah seperti mendapat dorongan semangat dari langit. Sontak ia pegang lutut Apuy. “Ayah Si Hĕning juga—” Kalimat Gĕmah terhenti saat Hĕning menyentuh pahanya. Alis Hĕning berkerut, seperti akan menangis.
Maniti menenangkan Gĕmah dan Hĕning, “Sudah, sudah. Saat itu, semuanya memang kacau. Semua yang berkain bagus, pasti dikira antek asing. Siapa nama ayahmu, Ni Kecil?”
Sayup-sayup, terdengar suara Si Tugu, “Namanya Pu Tangkis.” Dari kejauhan, ia berdiri terpaku dan menatap tajam, terkurung hujan. Apuy lekas beranjak menghampirinya. “Ki Raka, ayo masuk. Hujan makin lebat.” Yang diajak hanya menurut, namun tak berkata apa pun.
***
Apuy duduk berimpit dengan Tugu dan Maniti, mencoba berjaga jarak dari Gĕmah dan Hĕning. Isi gubuk seolah terbagi dua. Laki berdesakan dengan laki, sementara para bini duduk di sisi yang lain. Di tengah-tengah, unggun teronggok di lubang kecil. Gubuk itu kini tak ubahnya pincuk dijejali lauk. Di sekelilingnya, air selokan merayap masuk, serupa kinca menghampiri pulut.
Tugu menggumam, “Baru kali ini aku bertemu orang Kĕling, meski hanya setengahnya. Paman sungguh baik.”
Maniti hanya tersenyum. Gigi merahnya mengilap terkena cahaya api unggun. Tugu menatap wajah Maniti dalam-dalam.
“Semisal, Paman, kekuatan mangmang itu memang benar, lalu kita berputar-putar di suatu tempat tanpa jalan keluar. Apa yang Paman lakukan?”
Apuy menyela, “Kudengar, orang harus menaruh sirih di bawah pohon beringin agar bisa keluar. Benarkah, Paman?” Gĕmah mencondongkan badannya dan mengangguk-angguk. Sejurus kemudian, ia menengok kepada Hĕning, lalu menyampirkan selendangnya untuk menutupi dada Hĕning.
Maniti mengangkat kedua tangannya. Jemarinya terbuka lebar. “Ayah kalian, ‘kan, sudah menjadi hyang? Persembahkan saja sirih itu buat mereka.” Ia ludahkan dubang ke lubang unggun, lalu meneruskan, “Aku justru akan senang jika terkena daya mangmang. Akan kucari hal-hal yang belum pernah kulihat. Bertemu dewa, mungkin.”
“Apa itu dewa?” Dahi Hĕning berkerut. Apuy senang melihatnya.
“Sesembahan orang Kĕling,” jawab Maniti. “Para dewa gagah seperti Nak Tugu; dewi molek seperti Nak Gĕmah.”
“Kukira, orang Kĕling menyembah beringin,” sanggah Gĕmah.
“Ya, dewa-dewi bisa saja bersemayam di pohon,” sahut Maniti. “Siapa tahu ada dewa Kĕling di pohon buni itu?”
Apuy tertawa. “Pastilah wajahnya mirip Paman,” kelakarnya.
“Kalau benar aku dewa penunggu di sini, tak akan kubiarkan kalian pulang. Dewa Kĕling ini senang dengan kalian.”
Semua tertawa kecil, lalu perlahan, situasi menjadi hening. Tinggal bunyi gerimis dan sesekali terdengar suara batuk kecil. Aliran sungai mulai surut. Hĕning sudah tertidur berbantal bahu Gĕmah.
“Nak Apuy.”
“Ya, Paman.”
“Seandainya kamu terkena mangmang, lalu berputar tanpa henti di Wanua Sisair, bagaimana jadinya?”
Apuy tertegun. “Apa tidak ada tempat lain?” “Kamu sedang terkena mangmang,” jawab Maniti tegas. “Pilihanmu hanya berdoa kepada ayahmu yang sudah menjadi hyang, agar kau bisa keluar dari pusaran itu. Atau, kau bisa menerimanya dengan sungguh-sungguh. Kau bisa mengamuk, atau justru mendamaikan perasaanmu dengan orang-orang Sisair.”
“Atau,” sambung Si Tugu, “Kau bisa berdoa kepada ayahmu agar terdampar di Pakāsiran saja. Kau belum pernah ke sana, ‘kan?”
Apuy tersenyum kecut.
Tugu terus merayu, “Ayolah. Kau bisa sepuasnya memberi makan keraguanmu di Pakāsiran. Kalau kata orang, Pakāsiran itu tempat orangorang liar, lihatlah Si Gĕmah adikku. Ia hanya ganas jika lapar. Selebihnya, lihat cara dia memperlakukan kakak iparnya. Seperti induk banteng.”
Meski terlihat kantuk di wajahnya, Gĕmah tak berhenti membelai sinom di dahi Hĕning. Apuy menatap dahi itu lekat-lekat, lalu ia alihkan pandangnya pada baṭik di dada Tugu. Lamat-lamat, ia dengar suara degup jantungnya sendiri. Terdengar semakin jelas dan keras. Sejurus kemudian, tumbuh dalam hatinya, dorongan kuasa penuh atas kehendaknya sendiri. Ia berhak melakukan apa pun dengan gagasan, pengindraan, dan keempat tungkainya sendiri.
Suara Maniti mulai bergema di kepalanya. Kuberitahu, Nak. Rambut sinom basah di kening bulat itu tak hanya milik Hĕning. Baṭik di kulitmu masih bisa lebih banyak dari milik Tugu. Kau dapat menginjak, meludahi, bahkan membabat mangmang yang melintang di setapak mana pun. Ya, kau dapat menjelajahi Sisair, Pakāsiran, Gihang, atau wanua mana pun tanpa harus berpikir yang tak perlu. Tempat-tempat itu akan berubah, atau tetap seperti adanya; tak ada artinya jika semua itu tak pernah kau ketahui. Lihat tanda api di tanganmu! Lihat tuahmu! Tidakkah semua hal berjalan seperti apa yang kau ingin lihat? Sekarang, apa yang kau inginkan? Apa maumu, Pengeluh?
Lambat laun, Apuy tertawa, terbatuk-batuk, lalu bangkit berdiri. Hendak menepuk pundak Tugu, namun sudah tak ada orang di sana. Tak ada gubuk di sana. Tak mengapa. Memang itu yang ia mau. Ia kembali tergelak, lalu pergi menembus gerimis malam. Suara tawanya menggema di sela arus sungai, seperti suara Maniti.
***
Oleh Agus Wepe, 20 September 2025
Tentang Agus Wepe
Pernah berkuliah di jurusan Sastra Inggris. Gemar menulis puisi dan lagu, serta mengamati tren kekunoan. Ia menggeluti tosan aji/pakerisan bersama Pandowo, dan Tengah menerjemahkan manuskrip Jawa, Sasorahing Gunung Diyèng (1929). Kerap menjadi editor dan layouter untuk terbitan Bimalukar Kreativa. Salah satu karyanya: buku kumpulan puisi “Babad Monokromatik (2022)”
ig: @wepeagus | e: aguswkawidjaja@gmail.com


