Puisi - Sastra

Ketika Prana Tidak Diizinkan Bernapas

Tirta meninggi tanpa sempat berpamitan,
lorong-lorong menjelma jala yang tergesa,
doa terapung bersama sisa hunian,
sementara bumantara memilih diam.

Pertiwi bergeser membawa kisah retak,
mahagiri berdeham, samudra bergetar lirih,
rumah-rumah kehilangan tanda pulang,
dan insan berlatih pasrah berulang.

Dharma melangkah pincang di alun jagat,
timbangan condong pada gema kuasa,
yang kecil berbaris menunggu takdir,
sementara janji berlalu tanpa rupa.

Meja musyawarah sarat sabda berkilau,
namun ksiti tetap berdebu,
aturan dibacakan seperti mantra,
tak selalu menjelma raksa.

Drsya menyiarkan lara sebagai angka,
hitungan menggantikan isak,
empati singgah sekilas di tepi,
lalu terseret kabar berikutnya.

Namun di sela retak bhuwana ini,
masih ada hasta saling menggenggam,
Indonesia bertahan bukan sebab tenang,
melainkan karena warganya enggan runtuh.

-Cianjur, 19 Desember 2025

***

________________
Tentang Penulis:
Rehani Putri. Lahir di Cianjur, 14 September 2009. Sedang menjalani pendidikan di SMK Negeri 1 Gegerbitung. Pemenang FLS3N 2025 cabang Cipta Puisi Kab. Sukabumi Provinsi Jawa Barat, dan menjadi finalis nasional 2025.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *