• Puisi - Sastra

    Ketika Prana Tidak Diizinkan Bernapas

    Dharma melangkah pincang di alun jagat, timbangan condong pada gema kuasa, yang kecil berbaris menunggu takdir, sementara janji berlalu tanpa rupa. Meja musyawarah sarat sabda berkilau, namun ksiti tetap berdebu, aturan dibacakan seperti mantra, tak selalu menjelma raksa. ~ Rehani Putri, 2025

  • Puisi - Sastra

    Ziarah Tembuni

    Bukit masih mengisyaratkan hujan / Ketika langit semakin tua / Mengandung uap musim jagat yang renta / Sedang aku memanggil dari tahun-tahun yang aman / Dari tanah yang memelihara para tualang. ~ Yona Al'ainaa, Ziarah Tembuni, 2025

  • Puisi - Sastra

    Senandung Malam Nestapa

    ...Sebati lenggang ikrabi dinding Dicumbu mesra bilik nan hening Tiada sanggup hendak mengusik Bahkan dersik enggan berbisik Raganya masih jadikan gubuk Biarpun runtuh melapuk Ruang masih semayam lubuk Kendati pintu tutup terketuk... (Senandung Malam Nestapa - Hanafis Cakung Mas)

  • Puisi - Sastra

    Pikiranmu

    Pikiranmu   Jika kau jatuh cinta Jatuh cintalah Pada cara berpikirnya Kelak, kau akan tinggal Dalam pikirannya     Oleh Glory Deo Priambada *Dalam buku “Menyemai Bunga di Ladangmu,” hal. 117. ______________________________ Tentang penulis: Glory Deo Priambada, Berdomisili di Wonosobo,  menyukai menulis dan menggambar. Lahir pada 29 Oktober di Purworejo. Buku  sebelumnya adalah “Masih Ada Rindu yang Harus di Balas”, “Petualangan Rasa”, “Torehan Jejak”, “Bubuk Kopiku Menjelma Mesiu”. Ia menggagas project tulisan yang ia sebut Nubar dalam beberapa buku: “Syair Tentang Cinta”, “Anggit Abiyasa”, “Sekeping Harapan”, dan “Kota Dingin Tempat Imajinasi”.  Bisa dijumpai di Instagram @Gloire.deo.