Sosial - Sospol

Nestapa Icarus Modern: Ketika Anak Muda Dipaksa Merantau

Ketika berbicara mengenai sebuah tekad, maka cerita mengenai Icarus barangkali cocok untuk dijadikan sebuah metafora. Icarus, seorang bocah yang tinggal di pulau Kreta memiliki tekad untuk terbang dan meninggalkan pulau tempat kelahirannya. Beruntunglah, Daedalus yang merupakan ayahnya merupakan seorang ahli pembuat alat-alat ajaib. Maka, untuk memenuhi keinginan dari anaknya, Daedalus membuat sepasang sayap untuk terbang. Lilin digunakan untuk menyatukan pasangan sayap itu. Gembiralah hati Icarus, tekad besarnya akhirnya terwujud, meninggalkan pulau tercintanya dan menjelajahi dunia.

Kisah ini, penulis kutip dari buku karya Goenawan Mohamad dengan judul “Setelah Revolusi Tak Ada Lagi”. Cerita mengenai Icarus merupakan cerita mengenai tekad, keberanian, dan kemampuan anak muda yang luar biasa untuk menjelajahi dunia. Meskipun, akhir ceritanya lebih mencerminkan tragedi dibandingkan akhir kisah bertemu seorang permaisuri cantik atau petualang yang menjelajahi negeri-negeri kaya. Sayap Icarus akhirnya terbakar akibat terlalu dekat dengan matahari, sebelum mati tenggelam dalam kesunyian di laut Aegea. Tekad berapi-api itulah yang menyebabkan manusia bersayap yang berhasil terbang hanya untuk mengantarkannya pada kesunyian total dasar laut.

Tentu kita dapat memberikan kritik terhadap cerita ini, boleh jadi jika Icarus tak pernah terbang, memikirkan dunia luar dan hidup sebagaimana petani biasa di pulau Kreta, maka dirinya lebih bahagia. Atau, kita dapat memilih alur cerita lain dengan cara menunggu Icarus hidup lebih dewasa, mengikuti jalur laut seperti biasa dan akhirnya berpetualang secara asik. Kehidupan biasa bagi Icarus tampaknya lebih membuat bahagia, dibandingkan memikirkan resiko untuk terbang dan berujung pada kematian.

Icarus tetaplah Icarus, marilah kita melihat dari sudut pandang Icarus. Dia bukan seseorang yang berani mengambil resiko kematian seperti halnya seorang jenderal perang yang memahami resiko bahwa kekalahan artinya kematian. Icarus tidak memikirkan hal itu, dirinya hanya memperhitungkan ide dan tekadnya, bukan seorang penjudi yang mempertaruhkan hidup dan mati untuk sebuah hal. Icarus justru merupakan representasi anak muda yang haus akan pemenuhan tekadnya, seseorang yang perlu pergi dari pulau Kreta untuk menjelajahi dunia tanpa memikirkan konsekuensi menakutkan.

Anak muda di daerah yang miskin sebenarnya juga melakukan hal yang sama dengan Icarus, merajut sayap untuk terbang meninggalkan daerahnya, dengan konsekuensi yang juga mereka tidak diketahui. Beberapa Icarus berhasil mengalahkan matahari dan menjelajahi dunia, sebagian lagi sayapnya terbakar dan mati dengan cara mengenaskan di laut Aegea. Tetapi, masih ada pemuda-pemuda yang sinis dengan orang seperti Icarus, tak pernah merajut sayap dan memilih menjadi petani tua tanpa pernah melihat dunia.

Sebenarnya yang tragis bukanlah nasib Icarus, sama sekali bukan. Setidaknya diri Icarus pernah terbang dan melihat dunia dari sudut pandang  yang berbeda dengan orang-orang di pulau Kreta. Juga bukan para petani tua yang tidak memiliki niatan dan keberanian untuk keluar dari pulau Kreta, mereka boleh jadi memiliki keberanian dan kehidupan bijak versi mereka sendiri. Yang lebih menyedihkan dari dua versi itu adalah pulau Kreta itu sendiri.

            Pulau Kreta sebenarnya adalah pelaku utama dari terbunuhnya Icarus, sebuah objek tanpa pikiran yang mendasari tragedi seperti ini terjadi. Ribuan anak-anak muda jatuh dari langit dan tenggelam di dasar laut, pulau Kreta tidak melakukan apa-apa kecuali duduk diam dan menghitung statistik, berapa kali Icarus baru memulai tragedinya. Pulau Kreta juga merupakan pelaku dari ketidakberanian para petani tua untuk menjadi seperti Icarus, mereka menyumbang ketidaktahuan yang dibalut dalam kenyamanan akan keamanan pulau. Mematikan ambisi adalah solusi bagi pulau Kreta, kematian Icarus bagi Kreta adalah konsekuensi yang lumrah.

Seandainya pulau Kreta sadar bahwa kematian Icarus dapat dihindari dengan mengadakan pelatihan yang baik dan benar dalam soal penerbangan, tragedi tidak akan pernah terjadi. Seandainya pulau Kreta mengadakan kunjungan studi pertanian ke pulau lain dengan mengajak para petani tua, boleh jadi para petani tua memiliki keberanian seperti Icarus. Sayangnya, pulau Kreta kita tidak melakukan hal itu dan membiarkan kisah tragedi sebagai kisah heroik semata.

***

 

__________________

Penulis:
Yoga Aditya L. Lulusan Filsafat UGM yang sering membuat tulisan kritik sosial dengan cara-cara tak biasa, mengajak kita berefleksi dan tersenyum bahwa masalah ada di dalam area kehidupan sedang menyapa halus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *