“Our knowledge can only be finite, while our ignorance must necessarily be infinite.” – Popper, Karl R. (2008) :The Growth of Scientific Knowledge.
“Tujuan saya adalah menunjukkan bahwa nilai-nilai sosial memainkan peran dalam penelitian ilmiah dan bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat dipahami sebagai praktik yang sepenuhnya netral.” – Longino, Helen E. (1990):Values and Objectivity in Scientific Inquiry.
Ilmu pengetahuan, sebagaimana ditegaskan Karl Popper, tidak pernah bersifat final dan selalu terbuka untuk disangkal. Lebih jauh, sebagaimana diingatkan Helen Longino, pengetahuan tidak pernah benar-benar netral karena selalu dipengaruhi oleh nilai-nilai sosial yang melingkupinya.
Terima kasih atas perhatian dan kritik yang konstruktif terhadap tulisan saya, “Paradoks Kesejahteraan Petani Wonosobo”. Saya sangat menghargai bahwa Saudara telah menyisihkan waktu untuk membaca, menelaah dan mempertanyakan analisis saya. Pertama, apresiasi mendalam saya sampaikan kepada penulis kritik “Simpang Jalan atau Salah Jalan?”. Kritik adalah bahan bakar dialektika yang menjaga nalar publik tetap hidup. Namun, setelah membaca kritik tersebut secara seksama, saya menemukan bahwa penulis kritik tampaknya terjebak dalam pembacaan yang parsial dan penggunaan teori yang justru mengaburkan akar persoalan struktural yang saya angkat. Kritik tersebut menuduh tulisan saya gagal memahami masalah dan menawarkan solusi utopis, namun ironisnya, kritik tersebut justru gagal menangkap esensi ekonomi politik dari kemiskinan agraria di Wonosobo. Hal ini, saya tanggapi sebagai perbedaan kacamata analitis.
Kritik saudara dimulai dengan pijakan teoretis Gunnar Myrdal dalam Asian Drama, yang menyimpulkan bahwa sektor pertanian tradisional secara inheren memiliki produktivitas nilai tambah yang rendah dibandingkan industri. Saudara menulis:
“Nampaknya saudara penulis (Ahmadnsh__) melakukan kesalahan dengan melompat pada kesimpulan yang belum diperiksa terlebih dahulu. Buku yang ditulis oleh Gunnar Myrdal yang berjudul Asian Drama: An Inquiry into the Poverty of Nations akan membantu memahami mengapa dunia pertanian tradisional justru merupakan sektor yang menyumbang pertumbuhan ekonomi paling tidak produktif, karena meskipun secara kuantitas sektor pertanian dapat dikatakan tinggi tetapi daya tawar ekonomi dan penciptaan nilai tambahnya relatif lebih rendah dibandingkan sektor seperti industri. Disini, perlu ada pembeda antara produktivitas secara kuantitas dengan produktivitas secara kualitas ekonomi sehingga pembaca terhindar dari pemahaman bahwa semakin tinggi kuantitas produksi sudah pasti memiliki daya tawar yang juga tinggi.”
Argumen ini valid dalam logika ekonomi pembangunan ortodoks, namun justru di sanalah letak perbedaannya. Ketika saya menyebutkan “kemiskinan yang terproduksi secara sistemik”, saya tidak sedang menolak fakta bahwa value-added pertanian lebih rendah dari manufaktur. Namun, saya sedang menggugat mengapa nilai yang meskipun dikatakan rendah itu, tetap gagal menyejahterakan pelakunya, padahal sektor ini menyumbang 29% PDRB Wonosobo?
Jika kita hanya berhenti pada tesis Myrdal, kita berisiko menormalisasi kemiskinan petani sebagai “takdir sektoral”. Paradoks yang saya ajukan adalah: bagaimana mungkin sektor yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah (penyumbang terbesar) justru membiarkan aktor utamanya menjadi yang termiskin? Masalahnya bukan hanya sekadar produktivitas (kuantitas/kualitas) teknis, melainkan distribusi surplus. Nilai tambah itu ada, namun tersedot dan terserap keluar desa melalui mekanisme pasar neoliberal yang timpang. Oleh karena itu, melabeli analisis struktural sebagai “lompatan kesimpulan” tampaknya merupakan simplifikasi atas kompleksitas relasi kuasa yang bekerja di balik angka-angka statistik tersebut.
Poin paling menggelitik dari kritik saudara adalah perbandingan antara Alexander Chayanov dengan Henry David Thoreau. Saudara menulis:
“Alexander Chayanov tidak berbicara dalam konteks pasar…… Mari kita berpikir secara optimistik….. seandainya dimungkinkan maka kita juga harus hidup seperti dalam buku Walden (1854) karya Henry David Thoreau…..”
Di sini, tampaknya terjadi reduksi atas pemikiran Chayanov. Perbandingan yang saudara buat antara Alexander Chayanov dengan Henry David Thoreau dalam Walden adalah sebuah lompatan logika yang meleset (strawman argument). Menggunakan pisau analisis Chayanov untuk membedah pertanian Wonosobo bukanlah ajakan romantis untuk kembali hidup di hutan ala Walden dan terisolasi dari pasar. Chayanov saya hadirkan sebagai kerangka analisis mikro untuk menjelaskan rasionalitas petani yang “bertahan meskipun merugi”.
Chayanov memberikan kerangka analisis untuk memahami bagaimana petani bertahan hidup di dalam pasar yang kejam. Ketika petani Wonosobo tetap menanam meski harga input naik dan harga panen jatuh , mereka sedang menerapkan keseimbangan ala Chayanovian, menekan konsumsi dan menambah jam kerja keluarga demi untuk bertahan hidup. Jadi, Chayanov di sini bukan tawaran utopia isolasi, melainkan alat diagnosis untuk memahami daya tahan (resiliensi) petani yang sering kali irasional dalam kacamata akuntansi kapitalis. Petani tidak anti-pasar justru mereka mensubsidi pasar dengan keringat mereka sendiri.”
Kritik saudara selanjutnya menyoroti inkonsistensi teoritik antara penggunaan Jan Douwe van der Ploeg dan Karl Polanyi:
“Terlihat bahwa Polanyi masih terjebak pada dilema pasar vs kemandirian institusi sosial, sementara itu Jan Douwe van der Ploeg secara lebih halus menyelesaikan masalah itu….”
Saya melihat hubungan kedua pemikir ini bukan sebagai kontradiksi, melainkan komplementaritas. Ploeg, yang notabene adalah seorang neo-Polanyian, menawarkan strategi mikro-politik melalui re-peasantization yang membangun otonomi input, pasar lokal, dll. Namun, strategi ini tidak akan bertahan lama tanpa payung makro-politik.
Di sinilah Polanyi masuk. Peringatan Polanyi tentang bahaya “pasar swatata” (self-regulating market) adalah landasan mengapa intervensi negara mutlak diperlukan. Kita tidak bisa hanya mengandalkan petani untuk “berinovasi” (ala Ploeg) sementara struktur pasarnya tetap predatoris. Kembali kepada Polanyi bukanlah langkah mundur, melainkan penegasan bahwa transformasi pertanian seperti yang diharapkan Ploeg membutuhkan prasyarat struktural, bahwa negara harus hadir mengendalikan liar-nya pasar. Tanpa Polanyi, tawaran Ploeg hanya akan menjadi beban tambahan di pundak petani untuk berjuang sendirian.
Terakhir, saya sepakat sepenuhnya bahwa agama tidak boleh berhenti sebagai jargon. Justru karena itulah, dalam naskah tersebut saya menempatkan prinsip Aswaja, seperti tasharruf al-imam ‘ala al-ra’iyyah bukan sebagai stempel halal-haram pasca-kejadian, melainkan sebagai imperatif etis sebelum kebijakan dibuat.
Dalam ekonomi politik, nilai (value) tidak pernah bebas nilai (value-free). Ketika teknokrasi ekonomi menemui jalan buntu dalam mendistribusikan keadilan, agama hadir menawarkan basis moral untuk merombak struktur. Konsep Adil dan Maslahah adalah tuntutan agar negara tidak bertindak sekadar sebagai “penjaga malam” bagi pasar bebas, tetapi sebagai intervensionis yang berpihak pada mustadh’afin.
Sebagai penutup, jika tawaran untuk merombak struktur pasar dan mengembalikan kedaulatan petani dianggap utopis, maka mungkin kita memang perlu mendefinisikan ulang apa itu “realistis”. Apakah realistis membiarkan ketimpangan ini terus berlanjut atas nama hukum pasar?
Seperti yang dikatakan oleh Jean Tirole seorang direktur dan ekonom di Toulouse School of Economics warga negara Prancis yang terpilih sebagai penerima Penghargaan Nobel dalam bidang Ekonomi tahun 2014 untuk hasil analisisnya tentang kekuatan pasar dan regulasi:
“Pasar adalah alat, bukan tujuan itu sendiri. Pasar adalah alat yang sangat efisien untuk mengalokasikan sumber daya, tetapi ia tidak memiliki jiwa. Ia tidak peduli tentang keadilan, lingkungan, atau jangka panjang. Inilah sebabnya kita membutuhkan negara yang kuat bukan untuk menggantikan pasar, tetapi untuk memastikan bahwa pasar bekerja untuk kebaikan bersama.”
Tulisan saya mungkin belum menyajikan technicalities penyelesaian masalah secara rigid, namun tulisan ini sedikit menawarkan peta jalan ideologis agar kita tidak tersesat dalam belantara neoliberalisme. Kritik saudara telah mempertajam dialektika ini, dan saya berterima kasih karenanya. Kita tidak sedang berada di “Salah Jalan”, kita sedang menapaki jalan terjal menuju keadilan agraria yang sesungguhnya.
Tabik.
___________________________
Tentang Penulis:
Ahmadnsh__
Ialah seorang warga sipil sekaligus anak petani, berkelana seolah mencari sumber penghidupan yang lebih baik dari ladang masa lalunya. Ia lebih dikenal dengan nama “Pardjo” nama yang akrab di telinga dan hangat di ingatan teman-teman sebayanya. Bagi Pardjo, sesosok yang mencoba untuk belajar menulis, meskipun dengan sedikit keterpaksaan. Karena menulis adalah ikhtiar sederhana untuk merawat ingatan dan menyelami makna di antara kata. Ia percaya, menulis adalah cara paling lembut untuk menolak lupa.



