Sampah tidak akan hilang. Ia hanya berpindah tempat, menumpuk pelan-pelan, menjadi warisan tak terlihat dari setiap aktivitas manusia. Di Wonosobo, warisan itu selama bertahun-tahun bermuara di satu titik: TPA Wonorejo. Dari dapur rumah tangga, pasar tradisional, hingga kawasan wisata, semuanya berakhir di sana menjadi gunungan yang kian hari kian meninggi.

Tahun 2025 menjadi penanda penting. Dengan cara memandang dan mengelolanya mulai bergeser. Di tengah tekanan volume yang tak pernah benar-benar surut, data Dinas Lingkungan Hidup Wonosobo menunjukkan sinyal perubahan: tingkat penanganan sampah mencapai 35,73 persen, sementara pengurangan sampah berada di angka 15,27 persen. Angka-angka ini tidak muncul begitu saja, melainkan melalui ikhtiar panjang yang diwarnai dengan konsistensi dan keteguhan.
Sebelum 2025, volume sampah yang masuk ke TPA Wonorejo cenderung meningkat dari tahun ke tahun, meski bersifat fluktuatif. Kenaikan rata-rata mencapai sekitar 0,25 juta ton per tahun hingga memunculkan julukan “Wonosobo Darurat Sampah”, sebuah label yang mencerminkan tekanan serius pada sistem pengelolaan sampah daerah.
Kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumber masih rendah. Sampah organik dan anorganik tercampur tanpa pemilahan, seolah semuanya memiliki nasib yang sama. Pilihan paling mudah adalah mengirimkannya langsung ke TPA. Murah, praktis, dan dianggap selesai. Retribusi sampah kala itu hanya sekitar Rp10.000 per ton, dengan volume setoran sehari bisa mencapai 110- 120 ton. Di titik inilah TPA menjadi tumpuan tunggal, sekaligus beban yang terus menumpuk.
Tekanan itu mencapai puncaknya pada tahun 2020. Longsor sampah terjadi di TPA Wonorejo, menimbun area operasional dan menghentikan aktivitas pengolahan. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pengelola, tetapi juga warga sekitar yang mengalami kerugian lahan serta pencemaran lingkungan.
Peristiwa ini membuka mata banyak pihak bahwa sistem yang terlalu bergantung pada penimbunan hanya menunda bencana lingkungan. Teknologi yang masih konvensional seperti mesin pencacah terbatas, dan pemilahan manual oleh tangan-tangan pemulung membuat kapasitas lahan kerap berada di ambang batas.
Memasuki 2025, pembenahan mulai dilakukan di tengah tekanan yang belum sepenuhnya reda. ‘’Pada intinya, kami sudah mengupayakan penekanan pengumpulan sampah masyarakat, disertai pembangunan TPS3R. Namun saat ini ekonomi Wonosobo sedang naik, dan kawasan wisata justru menjadi penyumbang sampah terbesar. Meski demikian, volume sampah yang masuk ke TPA sudah mulai menurun,di kisaran 90 hingga 100 ton per hari. Meski volumenya berkurang, jumlah penduduk dan aktivitas masyarakat terus bertambah,”ujar Darmanto, koordinator retribusi TPA Wonorejo.
Sampah dihasilkan dari aktivitas rumah tangga dan rutinitas harian masyarakat. Secara ideal, pemilahan sudah dilakukan sejak dari sumber. Namun dalam praktiknya, sampah organik dan anorganik masih banyak tercampur. Sampah tersebut kemudian dikumpulkan melalui sistem pengelolaan di tingkat desa, menggunakan armada pengangkut, sebelum akhirnya dikirim ke tempat pengolahan akhir.
Kini kabar baik datang dari hulu. Sejumlah desa di Wonosobo mulai membangun TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle). Seperti Di Desa Talunombo, Kecamatan Sapuran, sampah plastik tidak lagi seluruhnya dikirim ke TPA. Melalui teknologi pirolisis, plastik diolah menjadi bahan bakar minyak jenis solar. Dengan kapasitas 50 kilogram plastik, mesin ini mampu menghasilkan sekitar 40–45 liter BBM dalam waktu 12 jam. Praktik pengolahan di tingkat desa inilah yang perlahan menahan laju sampah menuju Wonorejo.
Kebijakan lain yang cukup terasa adalah kenaikan tarif retribusi sampah di awal 2025. Dari Rp10.000 per ton menjadi Rp110.000 per ton, kebijakan ini sempat memicu polemik. Para sopir dan petugas menilai beban operasional menjadi lebih berat. Namun di sisi lain, kebijakan ini memberi dampak besar bahwa pengiriman sampah ke TPA bukan lagi pilihan termurah, namun mendorong desa dan masyarakat untuk mulai mencari alternatif pengolahan mandiri.
Di hilir, TPA Wonorejo masih menampung sampah dari lebih dari 100 desa di Kabupaten Wonosobo. Meski sebagian besar masih berupa penimbunan, upaya pengendalian dampak lingkungan terus dilakukan—mulai dari penutupan timbunan dengan tanah, penyemprotan penahan bau, hingga pengelolaan air lindi melalui kolam penampungan.
TPA belum sepenuhnya bertransformasi, tetapi terus berkembang dan berinovasi. Sebagian sampah kini dialihkan ke hanggar pengolahan. Di sana, dengan waktu operasional terbatas dari pukul 07.00 hingga 12.00, sekitar 4–5 ton sampah dipilah setiap hari menggunakan mesin konveyor.
Sampah organik diolah melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Maggot yang dikeringkan dijual sebagai pakan ternak, sementara residunya diolah menjadi pupuk yang saat ini masih digunakan untuk taman kota. Sampah anorganik dipadatkan dengan mesin pres sebelum dijual ke pengepul sebagai bahan baku daur ulang.
“Hanggar ini dibangun sebagai laborat percontohan pengolahan di desa, untuk saat ini tidak ada masalah dalam hangar ini, namun kami membutuhkan pengembangan dan inovasi berkelanjutan untuk sampah sampah ini’’ ujar Bukhori selaku penanggung jawab hanggar.
Pengelolaan sampah di Wonosobo belum selesai—bahkan masih jauh dari kata tuntas. Namun arah perubahan sudah mulai nampak. Penurunan volume sampah yang masuk ke TPA Wonorejo menjadi penanda bahwa ketergantungan pada penimbunan perlahan bergeser menuju pemilahan dan pemanfaatan ulang. Wonosobo belum menghabiskan masalah sampahnya, tetapi telah meninggalkan sebagian pola lama yang selama ini membebani. Dari titik inilah, langkah menuju pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan mulai menemukan jalannya.
***
______________________________
Tentang Penulis
Farah Fauziyah Hasna, siswi MAN 2 WONOSOBO pemenang juara 1 lomba artikel feature yang diselenggarakan Komunitas Jurnalis Wonosobo pada momen peringatan Hari Pers Nasional 2026. Farah meraih skor tertinggi dari total 24 peserta. Bisa dikontak di media sosial/ IG: @farahfhasna



