Sosial - Sospol

Dark Pattern: Cara Halus Mengatur Pengguna Aplikasi

Di era digital ini, banyak aplikasi yang menjadi bangian dari kehidupan sehari-hari. Aplikasi-aplikasi tersebut cenderung digunakan untuk mempermudah penggunanya dalam menjalani kegiatan sehari-hari, contonhya seperti platform ojek online, belanja online, belajar online, perbankan dan lain sebagainya. Adapun aplikasi-aplikasi yang digunakan untuk hiburan semata, seperti platform musik, YouTube, Netflix dan lain sebagainya.

Dari beberapa platform yang kalian gunakan sekarang, pernahkah kalian merasa tertipu atau terpengaruh secara psikologi saat menggunakan platform tersebut? Misalnya sepeti tidak sengaja menekan iklan dalam aplikasi, status langganan aplikasi yang sulit dihentikan, atau aplikasi meminta akses kontak dan mengirimkan promosi secara spam? Mungkin bisa jadi kalian menjadi korban “dark pattern.”

Dark pattern merupakan sebuah gagasan yang dikemukakan oleh Harry Brignull pada tahun 2010. Brignull menyatakan bahwa dark pattern merupakan trik yang digunakan aplikasi agar pengguna melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak dimaksudkannya, misalnya membeli atau mendaftar untuk sesuatu dalam aplikasi. Jadi pada dasarnya, dark pattern merupakan suatu strategi yang digunakan untuk mempengaruhi pengguna mengambil sebuah keputusan untuk melakukan sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan jika tidak ada strategi tersebut.

Sekarang banyak aplikasi populer yang menggunakan trik dark pattern ini. Lalu bagaimana kita mengetahui dark pattern di aplikasi populer? Bagaimana cara untuk menghindarinya? Ada beberapa contoh dark pattern di aplikasi populer dan cara untuk menghindarinya.

Salah satu contoh dark patterns yang paling sering ditemukan yaitu pada aplikasi sosial media seperti TikTok dan Instagram. Kedua platform ini menggunakan desain infinite scroll (desain scroll tanpa akhir) di mana konten yang ditampilkan tidak memiliki batas. Jadi setiap pengguna menggulir layar, konten baru akan langsung muncul tanpa adanya jeda. Desain ini menyulitkan pengguna sehingga tidak dapat menentukan kapan harus berhenti menggulir konten. Tanpa adanya batas halaman dan isyarat penutup, otak pengguna akan terus terpicu untuk “menonton satu video lagi.”

Akibatnya, durasi waktu yang awalnya hanya beberapa menit tanpa sadar akan berubah menjadi berjam-jam. Selain desain infinite scroll, notifikasi juga berfungsi sebagai alat dark pattern yang cukup efektif. Ikon notifikasi yang berwarna merah dibuat dengan tujuan agar mendorong rasa ingin tahu dan urgensi pengguna. Meskipun isinya hanya berupa rekomendasi akun atau konten yang tidak begitu penting, pengguna akan tetap terdorong untuk membuka aplikasi.

Dark patterns juga sering diterapkan pada aplikasi game mobile. Bentuk dark pattern yang sering muncul pada game mobile biasanya berbentuk pop-up pembayaran dalam game. Pop-up pembayaran ini bertujuan untuk memikat pemain melakukan pembelian dalam aplikasi yang bertujuan untuk menaikan level atau sekedar membeli item dalam game. Pop-up ini biasanya muncul ketika pemain berhasil memenangkan atau kalah dalam game, aplikasi akan menampilkan tawaran item berbayar yang menarik dengan waktu terbatas. Aplikasi memainkan psikologi pemain agar mengambil keputusan secara spontan. Desain pop-up ini biasanya dibuat menarik dan memenuhi layar dengan tombol untuk menutup yang dibuat sangat kecil atau kurang jelas. Sehingga banyak pemain yang tanpa sengaja menekan pop-up dikarenakan desain tersebut.

Dark Patterns pada Layanan Berlangganan: Free Trial yang Menjebak.

Banyak aplikasi seperti layanan streaming, editing foto, VPN, hingga aplikasi berbasis AI sering menawarkan free trial sebagai cara untuk menarik pengguna. Dimana penawaran ini terdengar sangat menarik dan menguntungkan. Namun, di baliknya tersembunyi penggunaan dark patterns yang bekerja secara halus dan tidak jelas. Biasanya, informasi bahwa pembayaran akan dilakukan secara otomatis ditampilkan dengan huruf kecil atau ditempatkan di bagian yang tidak terlihat dengan jelas. Selain itu, cara untuk membatalkan langganan sering kali terasa rumit dan tidak mudah. Banyak pengguna yang baru menyadari hal ini ketika saldo mereka terpotong tanpa mereka sadari. Pola ini disebut forced continuity, yaitu situasi di mana pengguna terpaksa tetap berlangganan karena cara untuk keluar diatur lebih rumit dibandingkan cara untuk bergabung.

Aplikasi e-commerce juga memanfaatkan dark patterens terutama dalam desain antarmukanya. Salah satu jenis dark pattern yang sering digunakan adalah misdirection yaitu pengalihan perhatian pengguna melalui penempatan tombol yang tidak seimbang. Tombol “Gunakan Voucher” atau “Checkout Sekarang” pada halaman promo biasanya dibuat sangat mencolok dengan warna cerah dan ukuran besar. Akan tetapi tombol “Lewati” atau “Kembali” dibuat lebih kecil dan kurang terlihat.

Penggunaan jenis dark pattern ini membuat pengguna lebih mudah menekan tombol promosi bahkan tanpa niat awal untuk berbelanja. Aplikasi e-commerce juga sering menampilkan harga awal yang lebih murah, tetapi menambahkan biaya tambahan di tahap akhir pembayaran. Biaya tambahan ini meliputi biaya layanan, biaya penanganan maupun biaya administrasi. Artinya aplikasi sedang memanfaatkan dark pattners jenis hidden costs, karena sering membuat pengguna tetap melanjutkan pembelian karena sudah terlanjur berada di tahap akhir.

Dark patterns memang dirancang agar tidak terasa mencurigakan. Karena itu, cara menghindarinya bukan dengan trik rumit, tapi lewat kebiasaan kecil saat menggunakan aplikasi. Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan. Jangan langsung percaya pada tombol yang paling mencolok, meluangkan waktu untuk membaca tulisan kecil, berhati-hati dengan tawaran Free Trial, rutin mengecek menu langganan aplikasi, jangan terburu-buru saat pop-up muncul, waspada terhadap desain yang terasa terlalu memaksa, menggunakan aplikasi dengan kondisi emosi yang stabil, dan percayai insting saat desain terasa janggal.

Maka, kita sebagai pengguna aplikasi haruslah bijak dan kritis dalam mengambil sebuah keputusan sehingga kita dapat menghindari dark pattern yang terdapat dalam aplikasi yang sering kita gunakan.

***

Referensi:
Wahyuningtyas S.Y. 2021. Kajian Dark Patterns dalam Platform E-commerce Indonesia. _____.

 

____________________
Tentang Penulis
Dia Fathul Jannah, Nur Syahara, Sindy Intan Nadila, dan Veriyanto merupakan mahasiswa semester 3 program studi Pendidikan Fisika Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Jawa Tengah di Wonosobo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *