Siang mulai berlalu. Warna langit berubah menjadi jingga. Burung-burung beterbangan seperti menyambut senja. Angin mendesir di area pesawahan, di antara semburat warna kuning padi yang terlihat tertunduk. Di sebelah padi yang menguning itu ada sepetak sawah yang belum lama di panen dipenuhi genangan air.
Terlihat Kyai Surung mengenakan kaos oblong serta celana kolor hitam di atas lutut, merenung di tepi sawah sambil memandangi itik-itiknya yang sedang mencari makan. Hatinya gundah gulana, tatapannya kosong. Beliau sedang memikirkan nasib para petani yang selalu bekerja keras menanam berbagai jenis tanaman, namun tidak pernah menikmati hasilnya. Sebab Belanda membodohi warga dengan membeli murah hasil panen para petani. Ini membuat penduduk hidup dalam kemiskinan dan serba kekurangan. Bertahun-tahun ini sudah berlangsung.
“Kyai, hari sudah sore, mari pulang,” ajak Paimin yang menggantung cangkul di pundaknya.
“Sebentar lagi, Min. Biar itik-itik itu kenyang dulu, agar mereka banyak bertelur,” sahut Kyai Surung sambil melepas kowangan di atas kepalanya.
Kowangan adalah tudung untuk berteduh, terbuat dari kerangka welat bambu tebal yang dianyam dan bagian luarnya dilapisi dengan slumpring atau pelepah batang bambu dan diikat dengan menggunakan tali ijuk. Benda itulah yang selalu setia menemani Kyai Surung ketika menggembalakan itik-itiknya di sawah.
Sembari membetulkan pengikat kowangan dari ijuk yang mulai lepas, Kyai Surung berpikir keras, bagaimana caranya mengajak para petani untuk melawan Belanda yang selalu membodohi warga. Sesekali dahinya berkerut, tanda beliau sedang berpikir. Tatapan matanya jauh ke depan, memandang padi yang telah menguning dan sebentar lagi siap dipanen.
Tiba-tiba gerimis berderai. Kyai Surung bergegas menutupi kepalanya dengan kowangan yang telah dikencangkan talinya.
Warna jingga mulai menghilang berlahan, gelap mulai membayangi senja. Kyai Surung beranjak menggiring itik-itiknya yang berjajar rapi menuju kandang. Suara itik-itik itu begitu riuh memecah sunyi di ladang pesawahan.
***
Pagi hari Kyai Surung duduk di beranda rumah sambil menikmati segelas kopi pahit dan pisang goreng panas. Terlihat Paimin sedang membersihkan surau. Paimin adalah murid setia Kyai Surung yang sudah mengaji bertahun-tahun dan kini membantu mengurus surau.
“Min, kemarilah!” kata Kyai Surung.
“Ada apa Kyai memanggil saya? Sepertinya ada yang penting,” jawab Paimin sambil membungkukkan badan tanda hormat kepada Sang Guru.
“Nanti habis Isya tolong kumpulkan warga di rumah, ada sesuatu yang penting ingin saya sampaikan,” ujar Kyai Surung.
“Sendiko dawuh, Kyai. Saya akan segera memberitahu warga,” jawab Paimin sambil berlalu tanpa banyak bertanya.
Malam itu, bulan mulai meninggi ketika warga berkumpul di rumah Kyai Surung.
“Selama ini kita telah dibodohi Belanda. Bertahun-tahun kita hidup dalam kemiskinan, sementara mereka berpesta dari keringat kita. Bagaimanapun, kita tak bisa membiarkan ini terus berlanjut. Kita harus melawan. Kita harus berani menolak jika mereka membeli hasil panen dengan harga murah!” Kyai surung tampak berapi-api.
“Ya kita harus berani,” terdengar suara warga memekik.
“Kita mesti melawan kesewenang-wenangan Belanda.”
Puluhan warga desa yang berkumpul di rumah Kyai Surung seolah memiliki tenaga dan keberanian yang selama ini tidak pernah muncul. Melawan Belanda, betapa itu tak pernah terpikirkan sebelumnya. Semua itu tentu demi keberlangsungan hidup mereka saat ini serta kemakmuran anak cucu mereka kelak.
***
“Kyai…Kyai…, ada tentara Belanda mencari Kyai! Mereka sedang menuju kemari. Sebaiknya Kyai bersembunyi. Kalau Kyai sampai tertangkap, siapa lagi yang akan membela warga,” kata Paimin dengan wajah pucat dan badan gemetaran sambil berlari tergopoh-gopoh mendekati Kyai Surung.
“Tenang, Min! Saya tidak apa-apa, sementara saya akan sembunyi, tolong jaga rumah baik-baik. Kalau keadaan sudah aman, saya akan segera kembali,” sahut Kyai Surung dengan suara tenang sembari berlalu lewat pintu belakang. Tidak lupa beliau membawa kowangan yang selalu menemaninya saat di sawah.
Kyai Surung berlari menuju hutan seberang desa. Tetapi tentara Belanda sudah mengejarnya. Dari kejauhan terlihat mereka berlari mengejar Kyai Surung dengan membawa senapan. Mereka menembakkan senapan ke arah Kyai Surung. Kyai Surung yang kehabisan tenaga untuk berlari, pasrah berlindung di balik kowangannya dengan terus merapal doa.
Anehnya kowangan yang dibawa Kyai Surung tak tertembus peluru senapan. Tentara Belanda tercengang melihat kowangan yang tak mempan peluru senapan menjadi ciut nyali dan berbalik arah. Syukurlah, Kyai Surung pada akhirnya selamat dari penangkapan tentara Belanda.
Dan begitulah seterusnya, berkali-kali Belanda mencoba menangkap Kyai Surung, namun selalu gagal. Beliau selalu bisa melepaskan diri dari kejaran tentara Belanda.
***
Beberapa tahun kemudian, keadaan mulai berubah. Warga sudah bisa menjual hasil panen mereka dengan harga yang cukup layak. Sore hari seperti biasa Kyai Surung menggiring itik-itiknya ke sawah. Pemandangan sawah terlihat begitu indah. Hamparan tanaman padi yang mulai tumbuh menghijau terlihat seperti permadani. Suara kicau burung dari atas pepohonan serta suara itik dari pesawahan seolah bersahut-sahutan menambah riuh suasana. Angin berhembus sepoi-sepoi menambah suasana terasa begitu damai.
Kyai Surung tersenyum bahagia. Sambil menunggu itik-itiknya berburu makanan, beliau mengotak-atik kowanganya, dengan mencancang senar di antara lengkungannya. Senar-senar itu mulai dipetiknya hingga keluarlah suara yang sangat indah. Suara merdu itu mengundang perhatian anak-anak kecil yang sedang mencari ikan di parit. Mereka pun berlari mendekati alunan merdu yang sayup-sayup terdengar memecah senja itu.
“Mbah Kyai, suara apa itu, kok bagus sekali,” tanya salah seorang anak kecil.
“Oh ini, ini suara senar kowangan, simbah mencoba membuat ini agar tidak kesepian di sawah sendiri,” jawab Kyai Surung.
Anak-anak menari bergembira dengan diiringi suara musik yang keluar dari kowangan. Suara itu begitu indah mirip dengan suara gamelan. Tubuh-tubuh kecil itu bergerak berirama mengiringi alunan melodi kowangan. Pada kemudian hari, Kyai Surung menamai alat musiknya itu dengan bundengan, karena suaranya yang bundeng seperti gamelan.
Hari-hari Kyai Surung terus berlalu seperti biasanya. Bertani, mengajar ngaji serta beternak itik. Setiap kali menggiring itik, beliau selalu membawa kowangan kesayanganya. Ketika merasa sepi sesekali beliau memetik senar kowangan itu di tepi sawah. Iramanya begitu merdu, membuat suasana pesawahan semakin syahdu dan damai. Itulah aktifitas yang selalu beliau lakukan hingga wafat.
***
Sejak saat itulah alat musik bundengan mulai dikenal terutama oleh masyarakat Desa Sapuran dan sekitarnya. Menurut penuturan beberapa sesepuh, pada tahun 1950-an ada seorang seniman bundengan yang sangat dikenal oleh masyarakat Sapuran dan sekitarnya bernama Mbah Ahmad Ilyas. Konon Mbah Ahmad Ilyas mendapatkan kemampuan bermain bundengan dari leluhurnya, yaitu Mbah Kyai Amir Hamzah. Mbah Kyai Amir Hamzah inilah yang merupakan salah satu keturunan Mbah Kyai Surung, yang makamnya jadi pepunden di daerah Njubuk, yang sekarang dinamai desa Merapi, dekat pabrik Teh Tanjungsari.
Almarhum Mbah Surung dikenal sebagai tokoh pertama kali membawa musik Bundengan hingga berkembang di wilayah Wonosobo. Oleh beberapa kalangan tetua yang memahami dunia spiritual, diyakini di punden makam Mbah Kyai Surung masih sesekali terlihat ada pusaka berwujud bundengan atau kowangan.*
***
_________________________
Tentang Penulis
Tamanna Azmi Azzahra, saat menulis kisah ini masih bersekolah di SDIT Insan Mulia Wonosobo. Suka bermain biola dan Olahraga Panahan. Beberapa kali mendapat medali dalam kejuaraan panahan. Selain itu ia juga pernah menjadi Juara II Porsit JSIT se-Kedu Jarak 20 M tahun 2017. Tahun 2018, ia mendapat medali emas pada Bupati Kebumen Open jarak 5M pemula, medali perak dan perunggu pada Batang Archery Competition jarak 10 M, serta juara II panahan jarak 20 M dan 25 M pada Porsit JSIT se-Kedu tahun 2019. Membaca buku cerita dan menulis adalah hobinya.
Kisah ini ada dalam buku: Cerita Rakyat Wonosobo: Bundengan Kyai Surung & 21 Kisah Ajaib Lainnya, terbit 2019, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo.
______________________
Ilustrasi “Kiai Surung dan Bundengan anti peluru” oleh Agus Handoko (2019)



