Pergerakan - Sejarah Budaya - Seri

The Jakarta Method: CIA dan Operasi Proksi Militer 1950 ~ Bagian 3

The Jakarta Method: G30-S 1965

        Di awal 1950, Perang Dingin masih berkecamuk setelah satu dekade dan Soekarno semakin condong ke “kiri”. Indonesia adalah medan baru pertarungan blok barat dan timur. Kita dianggap Amerika sebagai bakal komunisme baru (Vincent Bevins, The Jakarta Method: 2020). Di tahun yang sama, dilakukan upaya ujicoba penghancuran komunisme global yang diawali dari Indonesia. Mengingat dengan perkembangannya sebagai partai yang dapat simpati dari mayoritas warga. 

        Tak hanya di akar rumput, partai kiri Indonesia juga menguasai Parlemen dengan basis-basis organisasi dari buruh, petani, hingga intelektual. Puncaknya, Pemilu tahun 1955, PKI dapat posisi ke 4 dengan suara 16,4 persen nasional. Aliansi politik dengan ideologi Nasakom bersama Soekarno dan adanya gerakan Non-Blok, makin mendapat perhatian Amerika yang punya teori Domino. Teori itu yang membuat Indonesia segera menjadi target utama medan politik global.

        Washington tidak bisa menerima perolehan PKI di pemilu dan mereka mulai mendukung beberapa pemberontakan seperti PRRI Sumatera dan Permesta Sulawesi. Mereka berkedok otonomi dan menentang sentralisasi Jakarta, padahal sebenarnya itu adalah operasi terselubung CIA (Kenneth Conboy dan James Morrison: 1999). Pasokan berupa senjata, amunisi, pilot asing, dan sarana komunikasi dari Amerika terbukti menjadi dukungan untuk operasi itu. Tujuan utamanya adalah menggulingkan rezim Soekarno. Pemberontakan diawali dari beberapa pulau yang punya SDA kaya, seperti Sumatera. Muncullah tokoh seperti A Yani dan AH Nasution yang memukul mundur PRRI. ini adalah bagian kecil dari rencana besar yang dimulai hampir satu dekade sebelumnya.

        Seperti diungkapkan Bradley R Simpson (Economist with guns) dan juga Vincent Bevins bahwa ada strategi lain yang akhirnya dilakukan Amerika dan cukup cantik: memperkuat militer Indonesia dari dalam dan tersembunyi untuk misi memerangi komunisme. Sejak 1950-an CIA dan Deplu US mulai bangun relasi berupa pelatihan dan merekrut ribuan perwira militer Indonesia. Mereka ikuti pelatihan militer di basis-basis militer US seperti Filipina dan Thailand. Mereka dilatih intelijen dan kontra insurjensi. Lalu terbentuklah jaringan perwira terlatih profesional dan anti komunis, seperti AH Nasution sebagai ikon yang ternyata bisa berkompromi dengan US, meskipun punya penilaian sendiri soal Amerika.

Daftar Nama dari Kedutaan US

        Dari momentum itu, US mulai bangun jalur jejaring informasi untuk mengambil data seperti daftar target berisi tokoh-tokoh progresif yang akhirnya jadi daftar mematikan. Ada beberapa dokumen yang sudah dirilis NSA menyebut 1962-1965 para pejabat kedutaan US (CIA) berkoordinasi dengan militer Indonesia. Aliansi itu akhirnya dikenal sebagai Metode Jakarta. Jelang 1965, situasi politik Indonesia meruncing dengan kekuatan Nasakom dan ketegangan kelompok ideologis, militer, dan politik semakin muncul. Pihak kiri mendukung Soekarno untuk kebijakan anti imperialis. Namun di tubuh militer telah solid terbangun mindset bahwa PKI adalah ancaman negara.

Buku Metode Jakarta terjemahan Swedia dengan gambar sampul Soeharto.

Munculnya Soeharto Sebagai Pahlawan

        Konflik dengan Malaysia, proyek mercusuar, dan krisis ekonomi sangat berimbas pada kehidupan rakyat menjadi titik didih kondisi itu. PKI yang mendorong program-program yang membela rakyat seperti redistribusi tanah, dianggap bertentangan dengan kepentingan organisasi keagamaan dan elit global juga kapitalis. Percikan api dimulai pada 1 Oktober 1965 ketika sekelompok tentara menculik dan membunuh para jenderal. Namun menurut beberapa sejarawan seperti Ben Anderson dan John Roosa, narasi tersebut penuh rekayasa dan ketidakjelasan siapa dalang sebenarnya. 

        Mayjen Soeharto, pimpinan Kostrad (Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat) ambil alih kendali militer Jakarta dengan alasan memulihkan keamanan dan lemahkan kekuatan Soekarno. Kemudian terjadilah operasi pembersihan PKI. Dalam waktu singkat, kampanye pembantaian di seluruh daerah terjadi dengan kebrutalan termasuk penyiksaan dan pembunuhan. Selain kader PKI, mereka yang ditangkap juga adalah para aktivis, guru, buruh, petani. Bahkan warga biasa yang dianggap terafiliasi dalam satu-dua kegiatan publik. Ada yang menyebut bahwa kemungkinan sebanyak 500.000-1 juta jiwa dibantai di seluruh Indonesia. 

Pola Peristiwa 65 dan persekongkolan US-UK

        Militer menggunakan peristiwa G-30S sebagai pembenaran untuk alasan pembersihan musuh politik besar-besaran. Hal itu bisa dibuktikan dari adanya daftar yang dikumpulkan intelijen asing. Walhasil, PKI hancur total dan kehilangan basisnya dari akar, organisasi, gerakan kebudayaan, hingga tokoh-tokoh pentingnya. Indonesia mendadak berubah dari negara demokratis menjadi represif dan tak segan membantai rakyatnya. Amerika terbukti terlibat meski tidak secara terbuka. 

        Duta besar US untuk Indonesia (1963-66), Robert J Martens mengakui bahwa ia dan timnya menyerahkan daftar nama anggota PKI ke Militer Indonesia. Bahkan setelahnya, Amerika masih menerima perkembangan atas kondisi Indonesia di masa itu. Inggris dan Australia juga terindikasi terlibat dan salah satunya dilakukan oleh British Information Research yang ikut sebarkan propaganda anti komunis. Sikap pembiaran oleh dunia internasional di masa itu, sangat mengerikan dan bahkan majalah Time di 1966 memuji tindakan militer Indonesia dengan foto Soeharto terpampang besar. 

Jenderal Soeharto jadi gambar sampul the Time terbitan Juli 1966

“Jakarta” Menjadi Kata Kerja di-Jakarta-kan

        Keberhasilan Metode Jakarta ini akhirnya diekspor ke seluruh dunia untuk menghancurkan gerakan-gerakan kiri seperti di Vietnam dan di Korea Selatan. Yang mengerikan, metode ini juga jadi inspirasi dan mereplikasi strategi ini dengan istilah “Jakarta” sebagai konteks simbol instruksi terselubung sebagai sebuah metode sistematis. Seperti dalam konteks “men-jakarta-kan” atau “di-jakarta-kan” dan hari ini kita mengenal “di-Nepal-kan.” Faktanya, Kudeta militer Brazil 1964, ternyata berhubungan dengan Militer Indonesia. Di masa itu perwira Brazil mempelajari pembersihan PKI Indonesia termasuk daftar target oleh intelejen, psy war (ketakutan), paramiliter sipil, represi politik dengan propaganda anti kiri. Walhasil Brazil menjadi pusat penyebaran metode ini dengan kode nama: Operation Condor. 

        Keberhasilan pemilu Chile 1970 yang demokratis, juga dirusak oleh CIA yang melakukan psy-war dengan ancaman men-Jakarta-kan Chile dengan kudeta berdarah untuk membunuh presiden. Diikuti Dirty War Argentina (1976) Sama dengan apa yang terjadi di Jakarta-Chile.

        Paska-Soekarno 1966: Masuknya IMF dalam perencanaan ekonomi, pembangunan, dan kebijakan, lewat Soeharto yang pro imperialisme. Beberapa pihak telah menuntut Soekarno untuk membubarkan PKI, diikuti dengan Tritura. Pada 10 januari 1966 demonstrasi oleh KAMI yang menggelar tri tuntutan rakyat alias Tritura: Bubarkan PKI, Turunkan Harga, dan Retool Kabinet. Aksi mahasiswa berawal dari UI dan yang salah satunya yang mengikuti dari KAMI. Namun akhirnya berbuntut dilarangnya KAMI dan dianggap organisasi terlarang. Puncaknya 11 Maret 1966 aksi massa mengepung jalan utama untuk menggagalkan sidang kabinet pertama. Lalu malam harinya muncullah Surat Perintah 11 Maret. Soeharto naik menjadi presiden baru pengganti Soekarno. CIA akhirnya punya orang dalam yang paling atas di Republik.

***

Bahan Bacaan:

Bevins, Vincent. The Jakarta Method: Washington’s Anticommunist Crusade and the Mass Murder Program that Shaped Our World. Hachette UK.2020

Ali Maksum. “The 1965 coup and reformasi 1998: two critical moments in Indonesia-Malaysia relations during and after the Cold War”. 20 Oktober 2017.

_______________________________________

*Tulisan ini adalah bagian dari Seri Pergerakan di Indonesia: Mimpi Pembebasan Diri dan Bangsa dari Imperialisme 

Pernah Disampaikan di Sekolah Politik Pergerakan (SPP) Unsoed Purwokerto, 18 Oktober 2025

 

Seri Tulisan Lima babak yang memulas sejarah Nusantara:

  1. Mempelajari Pola Lama yang Diulang Sepanjang Dua Abad*
  2. Bangkitnya Intelektual & Pergerakan Nasional 1928
  3. The Jakarta Method: G30-S 1965
  4. Pengulangan Metode & Peristiwa kunci Reformasi ‘98
  5. Rumus Ajaib sejak 1825

 

Tentang Penulis:

ERWIN Abdillah. Tinggal di Wonosobo dan mengakrabi wilayah lereng Sindoro-Sumbing sejak belia. Pernah berkuliah di UNY. Berprofesi sebagai jurnalis sejak 2014 (Grup Jawa Pos -2021 dan Pikiran Rakyat 2021-2025). Penulis Buku: “Empat Abad Wonosobo: Narasi Sejarah dari Dokumen Hindia Belanda, Serat dan Babad” 2025. Beberapa catatan  ada di: medium.com/@erwinabcd | erwin.abdillah@gmail.com.

One comment on “The Jakarta Method: CIA dan Operasi Proksi Militer 1950 ~ Bagian 3

Leave a Reply to fintechbase Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *