Pergerakan - Sosial - Sospol

Jiwa Retak Pemuda: Menjawab Tantangan Dunia

         Apa definisi sesungguhnya dari pemuda? Tentu adalah sebuah pertanyaan yang dapat dijawab berdasarkan pada usia, produktivitas ataupun keaktifan seseorang dalam kehidupan. Lebih lanjut, seorang penemu terkenal bernama Henry Ford pernah menyatakan bahwa usia muda adalah usia dimana seseorang terus-menerus belajar tanpa ikatan usia yang harus dilekatkan pada seseorang. Jika kepemudaan harus dilekatkan pada kondisi mental seseorang yang dapat dikatakan sebagai pembelajar, maka bagaimana jika seorang pemuda berhenti belajar meskipun usianya dapat dikatakan masih muda? Jawabannya ialah jiwa manusia tersebut sudah tua ataupun tidak akan mampu untuk menjawab tantangan zamannya.

         Penulis sekaligus filsuf Jerman bernama Schiller pernah mengatakan “Zaman yang besar hendaknya juga menemui jiwa yang besar”. Ungkapan yang sering dikutip oleh Mohammad Hatta untuk menjelaskan bahwa suatu bangsa hanya dapat dikatakan sebagai suatu bangsa yang benar-benar merdeka hanya apabila seseorang mendermakan seluruh jiwa raganya untuk kemajuan bangsanya. Pemuda mesti insyaf, bahwa gerak zaman dan segala apa yang dilindas oleh zaman, sejatinya tergantung pada sikap dan tindakan pemuda di sebuah bangsa. Jika pemuda tidak mampu untuk menjawab tantangan, maka dipastikan kebesaran suatu bangsa akan segera runtuh.

         Sikap pragmatis anak muda yang lebih menekankan pada kenyamanan diri sendiri dan keuntungan bagi diri sendiri, sejatinya sama saja dengan mengubur dalam-dalam masa depan yang sepatutnya diusahakan bersama. Kehidupan sosial, bukanlah sekadar kehidupan yang berdasarkan kepada apa yang terjadi, namun lebih kepada bagaimana realitas sosial seharusnya terjadi dan itu harus diusahakan, secara efektif bersama-sama. Mengutip Kahlil Gibran dalam syair indahnya, dia berkata “anakmu bukanlah anakmu, dia adalah anak dari zamannya”. Setiap individu terjalin erat dengan lingkungan sosialnya, jika lingkungannya rusak maka kenyamanan individu juga akan terancam.

         Bayangan suatu masyarakat yang mementingkan kepentingan publik bukanlah suatu pemikiran yang baru saja kita temui di masyarakat modern. Aristoteles (filsuf Yunani) sejak 2400 tahun yang lalu pernah membahas panjang lebar mengenai bagaimana seharusnya pemuda bertindak, warga polis atau kota memiliki kewajiban untuk menyusun segala macam kekuatan untuk kebaikan bersama atau kebijaksanaan sosial. Plato (filsuf Yunani) bahkan dengan tegas menyatakan bahwa pemuda sejatinya dimiliki oleh negara dan harus dilatih melalui gymnasium serta mendapatkan pembelajaran filsafat untuk mencapai kebaikan bersama melalui raja filsuf.

         Di era modern, ketika masyarakat terbuka dipromosikan lewat demokrasi. Dengan cara yang sama, Noam Chomsky (filsuf Amerika) memperingatkan mengenai distraksi informasi yang kemungkinan secara sadar dikendalikan oleh beberapa pihak demi tujuan tertentu. Problem ini menuntut pemuda untuk mencapai pencerahan membedakan informasi secara pelan dan kredibel, problem distraksi informasi yang berujung pada anomali perilaku inilah yang membuat pemuda secara konkret memiliki jiwa yang retak.

         Pemuda pada satu sisi dituntut untuk meneladani peristiwa masa lalu secara reflektif, dituntut untuk menyelesaikan problem hari ini serta membayangkan dan mengusahakan suatu masa depan yang lebih baik. Meskipun manusia pada dasarnya retak, tetapi pada kondisi pemuda diperlukan analisis yang khusus. Retakan yang timbul akibat pertarungan antara narasi, realitas dan imajinasi membentuk pemuda menjadi tiga golongan.

         Golongan yang pertama, golongan yang pesimistik dengan melihat realitas dan lebih bangga pada pencapaian masa lalu tetapi miskin di dalam imajinasi untuk membentuk masa depan. Kedua, golongan pemuda yang optimistik dengan melihat realitas hari ini dan membayangkan masa depan secara utopis tetapi gagal melihat pola-pola masa lalu yang berujung pada kehancuran. Jenis golongan pemuda yang ketiga, adalah pemuda yang membangun masa depan dengan melihat pola sejarah melalui tindakan konkret yang berani pada saat ini.

         Pada ujungnya, jiwa retak pemuda sejatinya merupakan sebuah keuntungan untuk mencapai suatu masyarakat yang mengusahakan kepentingan bersama. Jiwa pemuda yang menyadari benar bahwa pola sejarah akan selalu berulang dan mengambil pelajaran dari peristiwa masa lalu, berani mengambil tindakan yang berani dan dianggap tepat untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.

***

 

__________________

Penulis:
Yoga Aditya L.
“Belajar Menjadi Manusia”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *