Sastra - Slice of Life

Kadang Aku Berkhayal

Seperti biasa aku bangun agak siang, dengan kepala berat dan pandangan yang samar dan silau. Dari jendela kamar kontrakan, cahaya masuk setengah hati seperti negeri yang ragu-ragu menentukan arah. Kucoba membuka ponsel. Linimasa penuh dengan video demo semalam: mahasiswa berteriak, aparat berbaris, dan spanduk lusuh bertuliskan “rakyat lapar.”

Di bawahnya, komentar-komentar berisik, seperti gema yang tak pernah selesai. Harga-harga naik, kerja susah, dan celotehan pejabat publik dengan statment yang membuat siapapun yang mendengar naik darah.

Aku diam agak lama sebelum kemudian menyeduh kopi dan membakar kretek beserta cukainya, entah sejak kapan aku merasa semakin asing di tanah sendiri. aku merasa aku ada didalam generasi harapan, generasi yang membawa semangat perubahan dan muak dengan segala kemunafikan yang ada. tapi rasanya yang kurasakan lebih seperti aku ada di generasi yang terus menunggu giliran untuk didengar, dimengerti, atau hanya sekadar bicara.

Di sela kebingungan itu, dari PC yang lupa kumatikan, teralun bisikan dari The Stone Roses:
“Sometimes I fantasize when the streets are cold and lonely, And the cars they burn below me…”

Entah kenapa, kalimat itu seperti doa yang datang dari jauh. Ian Brown menyanyikannya dengan nada antara mimpi dan kenyataan, seolah ia tahu rasanya hidup di tengah kekacauan yang tak bisa ku ubah. Aku merasa lagu itu seperti menggambarkan hari ini. panas, tapi dingin di hati, bising, tapi sepi di dalam diri.

Aku menatap langit yang pucat. mungkin memang begini nasib menjadi muda di zaman yang hilang arah. Di satu sisi, aku disuruh bermimpi di sisi lain, aku dicekik oleh kenyataan yang tak memberi ruang.

Lagu itu terus berputar.
“Are you made of stone?”
Yang seperti cermin yang menatap balik.

Apakah aku juga mulai membatu tak lagi peduli, tak lagi marah, tak lagi percaya?
Ataukah ini hanya caraku bertahan di dunia yang menumpulkan rasa?

Namun, di antara semua kebingungan ini, aku masih berkhayal. Berkhayal tentang hidup yang lebih lembut, tentang hidup yang hangat, tentang semua orang bisa berbicara sesuai kata hatinya, dan tentang seorang pemuda yang punya tempat untuk bermimpi.

Karena mungkin, seperti kata lagu itu, berkhayal adalah cara paling manusiawi untuk tetap hidup di dunia yang sudah terlalu keras. dan sebelum keluar menembus panasnya jalanan dan segala berita buruk yang akan datang hari ini, aku menulis kalimat ini di buku catatan:

“Kadang aku berkhayal, dan itu satu-satunya hal yang membuatku tetap bertahan”.

***

 

__________________________________

Oleh: Gorila Coklat

Penulis tinggal di Jakarta dan menjalani hidupnya sebagai manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *