1/
Aku melaju dalam udara yang berat
Menyusur alamat-alamat yang pernah ditulis pada buku
Di tepi manakah kesedihan itu kau kubur
Jika dalam kepalaku ingatan tak akan pernah kabur?
Di antara trotoar dan lampu-lampu jalan
Yang menata orang-orang menjadi barisan
Kita memilih untuk menyimpan cemas dalam-dalam
dalam diam, dalam senyum yang melipat angan angan.
Di sini langit tak pandai menjanjikan nyala hari dan bulan
perjalanan membawa hati pada kalah
Kemudian dengan tergesa aku meramu tuju
Mencari pada pintu-pintu
Serupa Kolodete yang mengutuk waktu
Memaknai langkah gunung dan lembah yang agung
Di mana kidung-kidung disenandung?
Yang mengantar belalang dan capung
menyelusup ke dalam hati
“Njajah desa milang kori”
Dari ceruk Dieng
Gaung bundengan mengetuk
menyusun kembali sejarah yang terserak
pada kedalaman sebuah puisi
2/
Di sini Ingatan memanjang serupa pematang
Sementara kita teringat pada seorang petani
Mulutnya menembang kinanthi memuja sang Hyang
memohon musim kembali datang
Bukit masih mengisyaratkan hujan
Ketika langit semakin tua
Mengandung uap musim jagat yang renta
Sedang aku memanggil dari tahun-tahun yang aman
Dari tanah yang memelihara para tualang
Kau mengingat mata air Bimalukar kesepian
Aku melihat alir Serayu yang gelisah
mengejawantahkan lagi nasihat para wali
merasuk kembali papatah-petitih
yang hampir dilupa anak cucu sendiri
Wonosobo, 2025
***
_____________________________
Tentang penulis:
Yona Al’ainaa. Lahir di Wonosobo, 2 Mei 2007. Sedang bersekolah di SMA Takhassus Alquran Kalibeber. Pemenang FLS3N Cipta Puisi Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah dan sedang berjuang di lomba cipta Puisi Nasional. Penulis bisa di hubungi di IG:ainayoun__



