Agroekologi - Meramban - Sejarah Budaya

Kwa Tjin Hwat, Tabib yang Meracik Mie Ongklok Pertama

Sejarah Mie Ongklok Wonosobo tidak bisa lepas dari para tokoh yang memperkenalkannya pada masyarakat luas sejak sebelum era kemerdekaan RI. Silsilah resep Mie Ongklok tertua jika diurutkan maka harus dimulai dari Kwa Tjin Hwat. Ia lahir tahun 1893, dan bermukim di kampung Tosari kelurahan Jaraksari. Di awal masa berjualan itu, Tjin Hwat menjajakan Mie Ongklok secara berkeliling di sekitar kawasan Kota Wonosobo hingga tahun 1947. Belum terlacak sejak kapan Tjin Hwat mulai berjualan, namun banyak yang menyebut sebelum 1920-an. Kisah tentang Tjin Hwat ini dituturkan langsung oleh cucu perempuannya, Supriyati (Kwa Cu Mei) pada tahun 2022.

Warga yang hidup di masa itu, menyebut Tjin Hwat adalah seorang tabib atau penyembuh dermawan yang berjualan Mie Ongklok untuk memenuhi kebutuhannya. Mengingat Tjin Hwat tidak pernah memungut ongkos pada orang yang datang berobat padanya. Di era itu, belum ada gerobak dorong sehingga banyak makanan panas harus dijajakan dengan Pikulan (Hik). Pikulan itu memuat alat masak berupa tungku atau anglo dengan arang, air, dan semua bahan makanan lain yang dibutuhkan. Semua benda itu harus dibuat seringan mungkin untuk ditenteng berkilometer jauhnya mengelilingi permukiman kota. Dalam menyiapkan dagangannya, Kwa Tjin Hwat dibantu putranya Kwa Ping An dan seorang asisten lainnya Muhadi yang mengawali karir mereka dengan membantu di dapur.

Setelah tahun 1947, usaha itu diteruskan oleh putranya, Kwa Ping An, yang dikenal dengan nama Bah Slamet. Ia lahir tahun 1925 dan menikahi Bariyah yang memberinya enam orang anak (8 anak lainnya meninggal saat bayi). Bariyah tercatat menjabat karyawan pertamanya dan ikut  membantu berjualan keliling bersama Bah Slamet. Kwa Tjin Hwat meninggal pada 24 Desember 1979 dan dimakamkan di Ngebong Wonosobo.

Slamet menjalankan usaha Mie Ongklok hingga tahun 1991 (tahun yang sama saat Bariyah meninggal) dan masih dengan berjualan keliling. Evolusi penjualan itu dirasakannya dari dipanggul di bahu hingga didorong dengan gerobak. Lalu enam tahun kemudian, Slamet meninggal di usia 72 tahun pada tahun 1997 karena sakit.

Setelah tahun 1991, usaha Slamet diteruskan oleh anak-anaknya, mereka pun masih berjualan keliling dan hingga pada awal 2000-an. Lalu sekitar tahun 2004, mereka berjualan menetap di sebuah warung pinggir jalan, di kawasan Honggoderpo. Saat ini, usaha keluarga tersebut diteruskan oleh anak Slamet yang bernama Kwa Cu Mei/Supriyati dan suaminya Yadi, hingga akhirnya dinamai Mie Ongklok Pak Yadi. Saat ini warung Pak Yadi berada tidak jauh dari Klenteng Hok Hoo Bio dan dikelola putra ke-2 Supriyati/Yugi. Ada juga warung tenda di Jalan A. Yani Wonosobo yang buka pada malam hari dan dikelola oleh cucu Slamet lainnya.

Mie Ongklok kreasi Alm. Lucas Agus Tjugiyanto yang sesuai dengan racikan Mie Ongklok dari Kwa Tjien Hwat.

Resep Mie Ongklok versi awal yang diperkenalkan tahun 1940 oleh Kwa Tjin Hwat mungkin sudah punah sama sekali. Mengingat sejak tahun 1970-an, resep mie ongklok telah mengalami banyak perubahan. Salah satunya adalah karena aturan agama, seperti ketentuan halal. Mie Ongklok versi awal, menurut beberapa sesepuh, mirip dengan resep asli Mie Lo (Lo Mien). Yakni dengan Kuah dari kaldu dan Tetelan Babi. Bahan tambahan yang lazim di tahun 1940-an adalah olahan darah Sapi yang disebut Saren Bacem. Tidak diketahui kapan bergantinya kaldu Babi dan Saren mulai ditinggalkan. Beberapa narasumber menyebut adanya pergeseran pembeli, dari mayoritas kalangan etnis Tionghoa menjadi warga lokal (muslim, yang tidak boleh makan babi tentunya) terjadi  sejak 1970-an. 

Tentunya racikan bumbu di dalamnya juga disesuaikan dengan citarasa warga setempat (baca: lidah Jawa). Citarasa Mie Ongklok berasal dari dominasi bumbu di kuah kentalnya atau Lo. Jika melihat proses pembuatan Lo, maka bumbu dasar rempah dan kaldu seperti di-infus-kan ke dalam larutan tepung tapioka kental.

Menurut Narasumber lain, Almarhum Lukas Agus T, pembuatan Lo di era 1950 diproses dengan tambahan ekstraksi Pihi atau Juhi, sejenis ikan laut kering untuk penguat cita rasa dan aroma. Maklum di masa itu belum ada penguat rasa buatan seperti yang banyak beredar saat ini. Namun pada tahun 1990-an harga Pihi dan Juhi semakin tidak terjangkau dan diganti dengan Ebi alias udang kering. Nama penyedap rasa yang dikenal masyarakat di tahun itu bernama Ve-Tsin. Lalu ketika ada krisis bawang merah dan harganya melangit, pedagang banyak bereksperimen. Maka sebagai pengganti Bawang Goreng (di tahun 1970-an) banyak digunakan Daun Bawang (oncang) goreng karena lebih murah.

***

Referensi:
Abdillah, Erwin. Empat Abad Wonosobo, 2025. Cetakan ke-2: Hal. 185-188.

 

______________________________

Tentang Penulis:

ERWIN Abdillah. Tinggal di Wonosobo dan mengakrabi wilayah lereng Sindoro-Sumbing sejak belia. Pernah berkuliah di UNY. Berprofesi sebagai jurnalis sejak 2014 (Grup Jawa Pos -2021 dan Pikiran Rakyat 2021-2025). Penulis Buku: “Empat Abad Wonosobo: Narasi Sejarah dari Dokumen Hindia Belanda, Serat dan Babad” 2025. Beberapa catatan  ada di: medium.com/@erwinabcd | erwin.abdillah@gmail.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *