Kesamaan pola antara Soeharto dan Fir’aun menunjukkan bahwa wacana pemuliaan Soeharto bukan hanya salah secara politik, tetapi juga bertentangan dengan prinsip-prinsip yang diajarkan Al-Qur’an. Teks suci itu dengan tegas memperingatkan umat manusia untuk tidak tunduk kepada tirani, apalagi mengagungkannya. Namun ironisnya, hingga saat ini sebagian besar organisasi keagamaan tidak menunjukkan sikap kritis terhadap penganugerahan tersebut. Diamnya mereka menunjukkan bahwa slogan-slogan keadilan yang sering dikutip belum menjelma menjadi keberanian moral. ~Hamdan Abror, 2025.
-
-
Jalan Ahmad Yani Wonosobo adalah sebuah jalan utama dengan pasar, pusat peradaban dan institusi sosial lain berkumpul di dalamnya. Dalam filosofi Jalan Ahmad Yani, merujuk pada aktivitas manusia yang masih sibuk pada dinamika dunia material ini, sebelum jiwa manusia berefleksi di alun-alun dan meraih derajat untuk memimpin manusia. Ujung dari Jalan Ahmad Yani adalah Dieng, tempat dimana manusia direpresentasikan kembali ke Yang Maha Kuasa. ~Yoga Aditia, 2025.
-
Metode yang dipakai untuk menghancurkan mereka masih sama, politik pecah belah. Di masa kerajaan, VOC akan condong ke salah satu pihak penerus keraton hingga ia menjadi raja. Lalu memecah belah kekuasaan di daerah bawah. Lalu jika membaca kembali Metode Jakarta, CIA akan mengambil salah satu pihak yang diasuh sebagai anak emas mereka, lalu dilatih dan diluncurkan sebagai pahlawan. Masih sama dengan operasi proksi militer dan operasi ekonomi, semuanya tidak berbeda dengan taktik "Kuda Troya" di kisah mitologi Yunani. ~ Erwin Abdillah, 2025.
-
Romantisme terhadap Soeharto adalah cerminan kelelahan masyarakat kita sendiri. Kita muak dengan politik yang gaduh, elite yang saling berebut kursi, dan janji reformasi yang tak kunjung menyejahterakan rakyat. Dalam kelelahan itu, figur Soeharto tampak seperti “bapak” yang sederhana dan tegas—padahal di baliknya, ada sejarah panjang pembungkaman dan pemusatan kebenaran. Mengagumi tanpa mengingat luka adalah bentuk lain dari amnesia moral. ~Fairouza, 2025.
-
Maka, otopsi ini menemukan bahwa kesadaran generasi kini tidak mati karena stagnasi, tetapi karena asimilasi total. Mereka hidup di dalam kesadaran yang telah diretas, di mana berpikir adalah fungsi yang disimulasikan. “Generasi yang mati sebelum dewasa” adalah mereka yang tidak pernah sempat membangun jarak antara diri dan mesin. Mereka bukan lagi subjek, melainkan output algoritmik. Dalam dunia di mana simulasi telah menelan realitas, satu-satunya bentuk kehidupan yang tersisa adalah residu kesadaran yang terus berputar dalam ekosistem data sebuah post-consciousness existence. ~ A. Nsh
-
Pemuda pada satu sisi dituntut untuk meneladani peristiwa masa lalu secara reflektif, dituntut untuk menyelesaikan problem hari ini serta membayangkan dan mengusahakan suatu masa depan yang lebih baik. Meskipun manusia pada dasarnya retak, tetapi pada kondisi pemuda diperlukan analisis yang khusus. Retakan yang timbul akibat pertarungan antara narasi, realitas dan imajinasi membentuk pemuda menjadi tiga golongan. ~Yoga Aditya
-
Tidak ada suatu keharusan bagi seorang Muslim untuk memilih lembaga berlabel Islam, mulai dari kelompok arisan sampai kepala negara. Islami atau tidaknya sebuah lembaga bukan diidentifikasiakan oleh simbol-simbol Islam. Tidak etis apabila sebuah lembaga Islam mengklaim dirinya paling islami ketimbang yang lain. Ketika dengan pola pikir yang melulu simbolis, kemudian orang mempersalahkan lembaga-lembaga yang berlabel non-Islam, terjadilah formalisasi nilai; awal dari degradasi dan manipulasi nilai itu sendiri. ~ Fairouza Nouruzzaman Hasani
-
Sumpah Pemuda bukan hanya sejarah, ia adalah janji yang belum selesai. Janji untuk terus berpikir, bergerak, dan bersuara. Janji untuk tak sekadar menafsirkan dunia, tapi mengubahnya. (Hamdan Abror - 2025)