• Puisi - Sastra

    Hikayat Sri

    "Tidak terlalu berarti mencari musabab penjelmaan segolek mayatku menjadi padi sebab kebenaran telah lama mati tanpa sempat ada yang menziarahi. bangunlah pagi-pagi, dan lihatlah pucuk daunku yang menari menarilah bersamaku di ladang dan pematang di musim panen atau gersang... ~Jusuf AN - Hikayat Sri, 2019

  • Puisi - Sastra

    Bu!

    Tapi kenapa bu, Kenapa engkau pergi begitu saja meninggalkan aku, anak gadismu yang dulu di timang-timang, di sayang-sayang, di manja-manja, dan hampir nyaris persis seperti selayaknya anak balita yang sedang bermain-main dengan bonekanya itu ibu? ~ Julia Dwi Wardha.

  • Pergerakan - Sejarah Budaya - Seri

    Pengulangan Metode Jakarta dan Peristiwa Kunci Reformasi ‘98 ~ Bagian 4

    Bagian 4 dari Seri Pergerakan di Indonesia: Mimpi Pembebasan Diri dan Bangsa dari Imperialisme. Sebelum Soeharto menyatakan berhenti sebagai presiden, beberapa rentetan kejadian hampir sama dengan pola yang terjadi pada 1965-1966, namun kali ini subjeknya adalah Soeharto sendiri. 21 Mei 1998 Soeharto menyatakan mundur tepat pada 9.05 WIB soeharto resmi menyatakan berhenti sebagai presiden dan wapres Habibie dilantik gantikan Soeharto. Sisanya adalah Sejarah yang kita tahu. Pengulangan lain seperti peristiwa Semanggi 1 dan 2. Lalu 27 tahun kemudian kita masih melihat langsung peristiwa stadion Kanjuruhan hingga tragedi terbunuhnya Affan (Agustus 2025). ~ Erwin Abdillah, Pengulangan Metode & Peristiwa kunci Reformasi ‘98.

  • Folklore - Sejarah Budaya - Seri

    Windusari Tanpa Pernikahan – Tiga Sastra Lisan dari Wadaslintang Bagian III

    Saya senang mendengar kisah terbaik yang Sutomo pilih malam itu. Windusari yang kehilangan cinta justru menciptakan cinta lebih besar dari apapun sekalipun ia pergi entah kemana. Makamnya kini, kata Tomo, bila berkunjung ke sana pasti dapat cerita tentang gambar sapi putih di batu hitam yang sudah hilang akibat tersambar petir. Setiap Jum’at Kliwon, sapi itu akan mengebuh keras-keras dan jika ada yang mendengar lalu iseng menjawabnya, sapi bakal gila. ~ Rossihan Anwar, Windusari Tanpa Pernikahan.

  • Folklore - Sejarah Budaya - Seri

    Wadaslintang – Tiga Sastra Lisan dari Wadaslintang Bagian II

    Yang paling masyhur, sesepuh Wadaslintang menuturkan betapa berjasa leluhur mereka ikut berontak pajak pada masa Perang Jawa. Hari ini, Dusun Cangkring akan sangat terbuka terhadap berbagai polemik kebenaran cerita ini bahwa pasukan Pangeran Diponegoro terdampar pada 1827. Argumen paling masuk akal adalah rute sebelum pasukan terdampar di Dusun Cangkring. ~ Rossihan Anwar, Wadaslintang.

  • Folklore - Sejarah Budaya - Seri

    Wanapura – Tiga Sastra Lisan dari Wadaslintang Bagian I

    Sutomo berhenti cerita ketika rokok klembak miliknya terberai di permukaan asbak kayu. Tergesa ia meraih segelas air hangat lekas meneguknya sedikit. Kakek usia 77 seperti Tomo terbilang beruntung dari teman-teman seusianya telah mati. Pertama, kerusuhan Pemilu 1955 dan peristiwa 1965-1966. “Saya tidak pernah ikut-ikutan politik,” sambungnya, “atau bisa jadi selamat karena licik—entah.” ~ Rossihan Anwar, Wanapura.

  • Puisi - Sastra

    Senandung Malam Nestapa

    ...Sebati lenggang ikrabi dinding Dicumbu mesra bilik nan hening Tiada sanggup hendak mengusik Bahkan dersik enggan berbisik Raganya masih jadikan gubuk Biarpun runtuh melapuk Ruang masih semayam lubuk Kendati pintu tutup terketuk... (Senandung Malam Nestapa - Hanafis Cakung Mas)

  • Pergerakan - Sejarah Budaya - Seri

    Ngopi Imajiner Bareng Gus Ipul: Gelar Pahlawan untuk Soeharto

    Memberinya gelar pahlawan bukan penghormatan; itu penghinaan terhadap korban, sejarah, dan nurani bangsa. Soeharto bukan pahlawan, ia simbol kegagalan moral. Memberikan kehormatan itu sama saja menormalisasi pembantaian, represi, dan korupsi, mengajarkan generasi bahwa penindasan bisa dibenarkan. Bangsa yang masih mempertimbangkan ide ini kehilangan kompas moralnya dan mengkhianati masa depan rakyatnya sendiri. ~ Seteguk Kopi Terakhir di Ngopi Imajiner Abror

  • Politik - Sosial - Sospol

    Postmortem of The Subject – Generasi yang Mati Sebelum Dewasa

    Maka, otopsi ini menemukan bahwa kesadaran generasi kini tidak mati karena stagnasi, tetapi karena asimilasi total. Mereka hidup di dalam kesadaran yang telah diretas, di mana berpikir adalah fungsi yang disimulasikan. “Generasi yang mati sebelum dewasa” adalah mereka yang tidak pernah sempat membangun jarak antara diri dan mesin. Mereka bukan lagi subjek, melainkan output algoritmik. Dalam dunia di mana simulasi telah menelan realitas, satu-satunya bentuk kehidupan yang tersisa adalah residu kesadaran yang terus berputar dalam ekosistem data sebuah post-consciousness existence. ~ A. Nsh

  • Puisi - Sastra

    Pikiranmu

    Pikiranmu   Jika kau jatuh cinta Jatuh cintalah Pada cara berpikirnya Kelak, kau akan tinggal Dalam pikirannya     Oleh Glory Deo Priambada *Dalam buku “Menyemai Bunga di Ladangmu,” hal. 117. ______________________________ Tentang penulis: Glory Deo Priambada, Berdomisili di Wonosobo,  menyukai menulis dan menggambar. Lahir pada 29 Oktober di Purworejo. Buku  sebelumnya adalah “Masih Ada Rindu yang Harus di Balas”, “Petualangan Rasa”, “Torehan Jejak”, “Bubuk Kopiku Menjelma Mesiu”. Ia menggagas project tulisan yang ia sebut Nubar dalam beberapa buku: “Syair Tentang Cinta”, “Anggit Abiyasa”, “Sekeping Harapan”, dan “Kota Dingin Tempat Imajinasi”.  Bisa dijumpai di Instagram @Gloire.deo.