Sejarah panjang dunia Islam menunjukkan bahwa peradaban tidak terbentuk dari keseragaman atau dominasi tunggal, tetapi dari dialog antara berbagai tradisi dan disiplin ilmu. Pada masa keemasan dunia Islam tidak menolak pengaruh luar. Mereka menerjemahkan karya Plato, Aristoteles, Galen, dan ilmuwan India serta Persia ke dalam bahasa Arab. Mereka menggabungkan pendekatan rasional dengan tradisi spiritual. Mereka membuka ruang bagi komunitas minoritas seperti Kristen, Yahudi, dan Zoroastrian untuk berkontribusi pada perkembangan ilmu. Keragaman pengetahuan ini adalah sumber kekuatan yang membuat peradaban Islam meluas dari Spanyol hingga Asia Tengah. ~ Hamdan Abror, 2025.
-
-
Warga yang hidup di masa itu, menyebut Tjin Hwat adalah seorang tabib atau penyembuh dermawan yang berjualan Mie Ongklok untuk memenuhi kebutuhannya. Mengingat Tjin Hwat tidak pernah memungut ongkos pada orang yang datang berobat padanya. Di era itu, belum ada gerobak dorong sehingga banyak makanan panas harus dijajakan dengan Pikulan (Hik). Pikulan itu memuat alat masak berupa tungku atau anglo dengan arang, air, dan semua bahan makanan lain yang dibutuhkan. ~Erwin Abdillah, 2025.
-
Bapakku pernah berkata, “Sawah ini adalah kitab. Bacalah dengan tanganmu, pahami dengan kakimu.” Namun aku lebih sibuk membaca huruf-huruf di kertas, mengejar gelar, mengejar impian di kota. Sementara sawah, yang seharusnya menjadi warisan, perlahan menjadi asing. ~Anang Bayu Sulistiyo, 2025.
-
Lantas, apa dosa Soeharto terhadap kematian Marsinah? Ia adalah penggerak system yang memberikan otoritas penuh bagi Militer untuk memberangus siapapun yang di anggap bisa memicu ledakan sosial dan membangkitkan suara-suara rakyat. Akibatnya, militer tidak hanya menjadi alat pertahanan negara namun juga pengendalian masyarakat sipil termasuk buruh dan Perempuan. Dalam masa pemerintahannya, Soeharto memfokuskan kegiatan ekonomi kedalam industrialisasi padat karya yang sangat bergantung terhadap tenaga kerja perempuan dengan upah murah. ~ Nabila Dwi Febriyanti, 2025.
-
Kesamaan pola antara Soeharto dan Fir’aun menunjukkan bahwa wacana pemuliaan Soeharto bukan hanya salah secara politik, tetapi juga bertentangan dengan prinsip-prinsip yang diajarkan Al-Qur’an. Teks suci itu dengan tegas memperingatkan umat manusia untuk tidak tunduk kepada tirani, apalagi mengagungkannya. Namun ironisnya, hingga saat ini sebagian besar organisasi keagamaan tidak menunjukkan sikap kritis terhadap penganugerahan tersebut. Diamnya mereka menunjukkan bahwa slogan-slogan keadilan yang sering dikutip belum menjelma menjadi keberanian moral. ~Hamdan Abror, 2025.
-
Jika suatu saat kita berjalan berdampingan, biarkan semuanya terjadi dengan wajar, seperti bunga liar yang tumbuh bukan karena disuruh, melainkan karena semesta mengizinkannya. Untuk sekarang, aku memilih bahagia. Memilih merasa ringan. Memilih percaya ~Barrā, 2025.
-
Jalan Ahmad Yani Wonosobo adalah sebuah jalan utama dengan pasar, pusat peradaban dan institusi sosial lain berkumpul di dalamnya. Dalam filosofi Jalan Ahmad Yani, merujuk pada aktivitas manusia yang masih sibuk pada dinamika dunia material ini, sebelum jiwa manusia berefleksi di alun-alun dan meraih derajat untuk memimpin manusia. Ujung dari Jalan Ahmad Yani adalah Dieng, tempat dimana manusia direpresentasikan kembali ke Yang Maha Kuasa. ~Yoga Aditia, 2025.
-
Metode yang dipakai untuk menghancurkan mereka masih sama, politik pecah belah. Di masa kerajaan, VOC akan condong ke salah satu pihak penerus keraton hingga ia menjadi raja. Lalu memecah belah kekuasaan di daerah bawah. Lalu jika membaca kembali Metode Jakarta, CIA akan mengambil salah satu pihak yang diasuh sebagai anak emas mereka, lalu dilatih dan diluncurkan sebagai pahlawan. Masih sama dengan operasi proksi militer dan operasi ekonomi, semuanya tidak berbeda dengan taktik "Kuda Troya" di kisah mitologi Yunani. ~ Erwin Abdillah, 2025.
-
Romantisme terhadap Soeharto adalah cerminan kelelahan masyarakat kita sendiri. Kita muak dengan politik yang gaduh, elite yang saling berebut kursi, dan janji reformasi yang tak kunjung menyejahterakan rakyat. Dalam kelelahan itu, figur Soeharto tampak seperti “bapak” yang sederhana dan tegas—padahal di baliknya, ada sejarah panjang pembungkaman dan pemusatan kebenaran. Mengagumi tanpa mengingat luka adalah bentuk lain dari amnesia moral. ~Fairouza, 2025.
-
cinta, bagiku, bukan sekadar saling menatap tetapi keberanian menantang sunyi menyusuri lorong-lorong takdir dengan langkah yang tak pernah minta izin pada siapa pun. ~Barrā, Aku Menghendaki Untuk Ada (2025)